Laporan, Budi Siswanto, Guangzhou, Cina.
China, KOMENTARID
DALAM berbagai sektor, Cina terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Modernisasi terus terjadi, mulai dari pembangunan infrastruktur, teknologi kesehatan, sampai sektor perdagangan. Kemajuan teknologi yang sulit ditandingi terus diaplikasikan di berbagai bidang dan menjadi daya tarik dunia internasional.
Untuk menarik investor dan para buyer (pembeli, red) dari berbagai penjuru dunia, Negeri Tirai Bambu punya banyak amunisi, di antaranya Canton Fair yang saat ini sedang berlangsung di Guangzhou. Iven ini menyedot ratusan ribu buyer dari berbagai negara di belahan dunia.
Dalam setahun, Canton Fair digelar 2 kali yakni, April-Mei dan akhir tahun di bulan Oktober ini. Gelaran akbar yang pertama kali diadakan tahun 1957 ini kini tengah memasuki edisi ke 140. Di Oktober ini, Canton Fair dimulai tanggal 14 dan akan berakhir tanggal 31. Sejak pagi beroperasi pukul 09.00 hingga tutup 18.00, manusia dari berbagai negara berdesak-desakan memenuhi tenan-tenan peserta pameran.
Pantauan reporter KOMENTARID, Sabtu (17/10/2026) di areal pameran, sekira puluhan ribu perusahaan ikut dalam iven ini. Menawarkan ribuan produk kepada para pengunjung di lahan seluas 18 ribu hektar tersebut. Di tempat ini, produsen, distributor global dan buyer internasional menyatu. Saking banyaknya produk yang ditawarkan, pameran ini dibagi dalam 3 fase Pertama 14-19 Oktober elektronik, peralatan Rumah tangga, otomotif, mesin, perkakas sampai robotic. Ke dua dekorasi, bahan bangunan dan furnitur. Fase ke tiga 31 Oktober sampai 4 November 2026 tekstil, pakaian, sepatu, alat Tulis, makanan sampai produk medis.
Ini bukan sekedar pameran biasa, tapi peluang untuk memahami tren bisnis global, mencari suplier baru dan membangun jaringan bisnis internasional. Dalam bangunan tiga lantai itu, para eksportir dan importir melakukan transaksi bernilai triliunan rupiah hanya dalam waktu singkat. Dan sekali deal, kerjasama akan berlangsung dalam jangka panjang.
Menariknya, iven itu turut dihadiri para pebisnis dari Indonesia. Di lokasi tersebut, KOMENTARID menemui salah seorang buyer asal Sulawesi Utara (Sulut). Gunawan Poulden, enterpreneur berpengalaman asal Surabaya yang kini stay di Bumi Nyiur Melambai turut berkontribusi. Pria keturunan Tionghoa ini tertarik dengan produk-produk robotic dan mesin perkakas. Ia berencana mengaplikasikan kemajuan teknologi Cina pada usahanya di Manado. “Selain untuk saya pakai tentunya saya melihat peluang untuk memasarkan produk-produk Canton Fair di Manado,” kata Ko Gunawan, sapaan akrabnya.
Bersamanya, KOMENTARID berjalan mengelilingi lokasi Canton Fair yang begitu luas. Pria paruh baya yang nampak awet muda itu tampak begitu enerjik dan tak kenal lelah saking antusiasnya. “Teknologi robotic dan otomotif paling menarik perhatian saya,” tambah penguasaha hasil bumi itu.
Kata dia, untuk bisa hadir di tempat itu tak gampang. Pemerintah Cina membatasinya karena tahun-tahun sebelumnya pengunjung over kapasitas. Saat ini yang bisa hadir hanya para buyer atau eksportir, masyarakat biasa yang hanya ingin menonton tak bisa.
Makanya untuk masuk wajib registrasi, pengunjung harus mengisi nama perusahaan baru bisa daftar. “Jadi yang hadir ini semuanya betul-betul para buyer,” jelas Ko.
Kehadiran Canton Fair ini turut memberikan dampak positif bagi rakyat Cina. Hotel-hotel penuh, rumah makan dan restoran bergeliat. “Harga hotel naik gila-gilaan, taksi susah, jalanan macet, tapi kami semua tetap antusias,” pungkas Ko yang hari itu akhirnya deal dengan salah satu seller di Canton Fair.
Harapnya, ke depan, iven akbar internasional seperti itu bisa digelar di Indonesia, lebih khusus di Sulut. Hal itu pasti akan memberi dampak positif dan menjadi motor untuk kemajuan daerah. Sulut punya berbagai produk yang bisa dihilirisasi, bukan sekedar dijual bahan mentahnya saja. Semisal produk kelapa dan turunannya yang mestinya dapat dikembangkan untuk go international. Bisa juga iven-iven pariwisata seperti World Ocean Conference (WOC) yang digelar 2009 lalu. Ketika itu, hotel-hotel penuh, wisatawan dunia berbondong-bondong ke Sulut.
Sekira pukul 18.00, ia pun pamit dan berlalu di antara para pengunjung untuk kembali istirahat ke hotelnya. Ko Gunawan menginap di salah satu hotel di kawasan Gunung Baiyun. Untuk kembali dia menggunakan jasa MRT Guangzhou Metro dari terminal Pazhou di kawasan Canton Fair menuju terminal Shahe yang letaknya dekat hotel. Dalam sekejap ia menghilang di antara ribuan orang yang lalu lalang berjalan kaki. Puluhan bahasa dan dialek terdengar dari pengunjung dari berbagai benua. Semoga suatu saat nanti, pemandangan seperti itu bisa kita saksikan di daerah kita yang tercinta.(*)






