Kamis 5 Desember 2024 menjadi bersejarah bagi komunitas Kolintang di seluruh Dunia. Di lansir dari https://ich.unesco.org/en/live-webcast-01378, sidang UNESCO di Paraguay, menjadi bukti sejarah yang bisa memberi semangat yang membara bagi semua insan Kolintang secara khusus di Indonesia.
Antaranews mencatat bahwa alat musik tradisional khas Minahasa, Sulawesi Utara, Kolintang secara resmi diakui sebagai bagian dari “Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity” oleh UNESCO, dan diumumkan dalam sidang ke 19 The Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage di Paraguay pada Kamis (5/12) pukul 12.20 waktu setempat, atau pada Kamis (5/12) pukul 22.00 WIB. (https://www.antaranews.com/berita/4515557/kolintang-resmi-jadi-warisan-budaya-takbenda-ke-16-yang-diakui-unesco).
Perjalanan panjang telah dilalui namun, makna dan arti yang termaktub selama perjuangan ini, tentu menjadi upaya yang tidak berkesudahan. Kita tidak bisa mengelak bahwa inilah hasil dari kerja keras yang tak kenal lelah.
Bahkan dalam upaya dan usaha serta kerja keras yang telah berlangsung, semua orang menanti dengan antusias ketika sidang ini berlangsung. Beberapa kegiatan telah diselenggarakan ketika menanti tanggal yang telah ditetapkan oleh UNESCO, sebagai waktu untuk mengumumkan sekaligus mengesahkan Kolintang ini.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa Kolintang bukan sekadar alat musik, melainkan simbol harmoni, persatuan, dan kreativitas masyarakat Indonesia. Pengakuan ini adalah bukti komitmen kita bersama dalam melestarikan kekayaan budaya bangsa. Sebagaimana dilansir dari news.detik.com. Tentu penegasan ini menjadi tanda bahwa kolintang telah mendunia, dan dengan mendunianya kolintang ini, menegaskan sebuah simbol dari harmoni-keselarasan, persatuan dan kretivitas masyarakat Indonesia.
Demikian juga, dibawah komando Ketua Umum Pinkan Indonesia Penny Iriana Marsetio dalam gerak bersama Ketua Dewan Pembina PINKAN, Prof. Marsetio, kerja keras komunitas Kolintang selama ini, pada akhirnya bisa sampai pada ‘pencapaian awal’, karena setelah ini, akan terus bergerak untuk upaya-upaya pemajuan kebudayaan. Pengesahan oleh UNESCO justru dipandang sebagai titik awal perjalanan dan perjuangan untuk terus mempertahankan identitas Indonesia, yang lahir dari keberagaman, namun bisa bersatu dalam dentingan musik Kolintang ini.
Penny Iriana Marsetio dalam beberapa moment setelah pengumuman mengatakan bahwa secara pribadi saya merasa terharu, dan tentu saja bersyukur karena upaya ini adalah kerja keras kita orang, dan tentu saja, kerja keras semua orang yang peduli pada keberlangsungan budaya musik Kolintang ini. Perjuangan ini menjadi tanda dan simbol bahwa kita harus bergerak bersama secara berkelanjutan dalam kesatuan. Kita juga harus menjadi pemicu untuk membangun kebersamaan, agar apa yang kita impikan bisa terwujud. sebagaimana pepatah Sam Ratulangi, Si Tou Timou Tumou Tou, kita harus saling menghidupkan antar sesama manusia. Kiranya simbol ini menjadi penguat upaya kita ke depan, dalam membudayakan musik Kolintang ini.
Adapun pengakuan Kolintang oleh UNESCO bersamaan dengan budaya musik yang mirip yakni di Negara Mali, Burkina Faso dan Pantai Gading. Terkait hal ini Menteri Kebudayaan mengatakan bahwa mengapa pengakuannya bersama ketiga negera di Afrika Barat tersebut, karena nilai lintas budaya yang dimiliki Kolintang, memiliki kemiripan dengan Balafon, alat musik kolintang dari Afrika Barat (Mali, Burkina Faso, Pantai Gading) tersebut. Kolaborasi Indonesia dengan ketiga negara ini menjadi bukti bahwa musik tradisional mampu menjembatani perbedaan geografis dan budaya, demikian tambah Menteri yang berlatar belakang sejarah tersebut.
Akhirnya, Pengakuan oleh UNESCO ini juga membawa tanggung jawab besar untuk terus melestarikan dan mempromosikan Kolintang di kancah nasional maupun internasional. Demikian juga, tanggung jawab kita baik masyarakat atau komunitas kolintang, maupun masyarakat Indonesia, harus terus dijalankan dengan mempertimbangkan proses pewarisan budaya musik ini kepada generasi selanjutnya. Sebuah proses yang tentu mengabdi kepada keberlanjutan musik ini, agar kiranya musik ini sungguh-sungguh menjadi simbol persatuan, harmoni dan persaudaraan.***
Catatan ringkas Ambrosius M. Loho, S. Fils., M. Fil., Pegiat Seni & Dosen Fakultas Pariwisata, Universitas Katolik De La Salle Manado)






