Ketika memasuki pertengahan tahun dan menuju ke akhir tahun 2024, PINKAN Indonesia, tak henti bergiat untuk menampilkan ciri khas musik kolintang, yang atas cara tertentu, menjadi kekayaan Indonesia yang berasal dari Minahasa. Musik Kolintang terutama memasuki bulan September, terus bergiat, terlibat dan menyuguhkan khazanah musik tradisi Minahasa, dalam setiap event atau kesempatan tampil.
Bukan tak beralasan, dari data yang diperoleh, dari laman resmi BPK17 Sulutgo, ketiga warisan budaya Indonesia, yakni Reog Ponorogo, Kebaya dan Kolintang akan masuk dalam agenda Sidang UNESCO pada Tanggal 2-7 Desember 2024 di Paraguay. Ini tentu berita yang sangat menggembirakan, karena upaya pelestarian warisan budaya di Indonesia, akan mendapatkan pengakuan dunia.
demikian juga, bahwa berdasarkan informasi tersebut, fakta di atas tentu bukan tanpa dasar, karena upaya untuk mendaftarkan warisan-warisan budaya ini, telah berlangsung cukup lama, semisal kolintang yang telah didaftarkan tahun 2013, demikian juga tentunya kedua warisan budaya lainnya, telah melalui proses yang panjang, sehingga akan disidangkan di Paraguay pada bulan Desember 2024 nanti.
Terlepas dari itu, upaya PINKAN Indonesia terus berlangsung, karena beberapa riset dan kerjasama telah juga diupayakan. Antara lain pertemuan dengan komunitas Balafon di Bali, yang sejatinya telah membuka jalan untuk kolaborasi-kolaborasi berkelanjutan, demi sebuah kemajuan bersama, terutama untuk menggaungkan Kolintang bersama Balafon di seantero dunia.
Moment yang sejenis juga, telah berlangsung pada hari Senin 25 November 2024, ketika PINKAN Indonesia diundang oleh Binus University untuk hadir dalam Upacara Penyerahan Museum Rekor Indonesia (MURI), atas keterlibatan Kolintang dalam mengiringi prosesi wisuda di kampus tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan di Plenary Hall, Jakarta Convention Centre, Jakarta. Kegiatan ini juga menampilkan secara khusus Tim Kolintang dari Binus University.
Selanjutnya, tak berhenti di sana, PINKAN Indonesia juga diundang untuk tampil dalam acara Peluncuran Buku Kebaya: Keanggunan yang Diwariskan, di Ruang Pustaloka, Gedung Nusantara IV Kompleks MPR/DPR/DPD RI, Selasa 26 November 2024. Dalam acara ini, Kolintang PINKAN akan menyuguhkan permainan musiknya.
Kendati demikian, apa yang paling penting dari berbagai keterlibatan PINKAN Indonesia ini? Tidak lain dari upaya untuk terus memperkenalkan musik kolintang, seiring dengan akan disidangkannya Kolintang sebagai warisan budaya tak benda yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO.
Di sisi yang sama, dengan diakuinya Kolintang di UNESCO, tentu saja hal ini akan menjadi tonggak awal lahirnya sebuah pemahaman baru tentang berharganya kekayaan budaya yang kita miliki, yang melintasi zaman, dan diyakini akan terwariskan dari generasi ke generasi.
Sejalan dengan itu, berdasarkan catatan dalam buku Kolintang: The Sounds of Heaven dikatakan bahwa: “Dengan keseluruhan kegiatan yang pernah dan yang akan dibuat oleh PINKAN Indonesia, akan membuka sebuah wawasan berpikir terkait, terjalinnya hubungan yang lebih erat antar budaya dan antar bangsa. Termasuk hal tersebut itu, akan membuka peluang bagi Indonesia dalam kebersamaan dan keberlangsungan menjaga alat musik masing-masing dalam fungsi dan perannya di kehidupan sosial masyarakat sambil bersama membangun komunikasi antar etnolinguistik.”
Akhirnya, PINKAN Indonesia akan terus berperan dan membawa bendera Republik Indonesia, untuk mengharumkan nama dan identitas negara, dan juga ikut serta membangun kebersamaan dengan budaya bangsa-bangsa lain di dunia.***
Penulis: Ambrosius M. Loho, M. Fil. (Pegiat Musik Tradisi, Penulis & Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Katolik De La Salle Manado)






