Manado, KOMENTAR.ID
Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti Graha Gubernuran Bumi Beringin, Wenang, Manado, Sabtu (15/2/2025).
Ratusan warga Talaud, tokoh adat, pemuka agama, serta pejabat pemerintahan berkumpul dalam satu kebersamaan, merayakan Manduru’u Tonna—ritual adat yang menjadi wujud syukur masyarakat Kepulauan Talaud atas perjalanan hidup di tahun 2024 dan harapan bagi tahun 2025.
Di antara mereka, hadir sosok yang begitu menghargai akar budaya leluhurnya, Penjabat (Pj) Bupati Kepulauan Talaud, Fransiscus Engelbert Manumpil. Tak sekadar hadir sebagai pemimpin daerah, Fransiscus datang sebagai bagian dari masyarakat Talaud, mengikuti seluruh prosesi yang berlangsung hampir enam jam dengan penuh penghormatan.
Bupati Fransiscus tiba di lokasi dengan penyambutan adat Sasadiane, sebuah bentuk penghormatan tinggi bagi pemimpin yang hadir dalam ritual sakral ini. Seiring dengan dentingan alat musik tradisional dan doa-doa adat, ia dan sang istri dipersilakan menempati tempat kehormatan, disaksikan oleh Ketua Umum Sinode Germita Pdt Arnold Apolos Abbas, Ketua Umum Musyawarah Masyarakat Talaud (MUKAT) Alex Binilang, serta ratusan warga yang datang dari berbagai penjuru.
Napak Tilas Sejarah, Menghormati Kearifan Lokal
Dalam sambutannya, Alex Binilang menegaskan bahwa Manduru’u Tonna bukan sekadar ritual, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan rasa syukur atas kehidupan.
“Syukur karena telah melewati tahun 2024 dan permohonan doa kepada Tuhan dalam memulai menjalani kehidupan di tahun 2025,” ungkap Alex dengan penuh semangat.
Lebih dari itu, keberadaan MUKAT kini telah diakui secara resmi oleh Kementerian Hukum dan HAM RI, menjadikan organisasi ini sah di mata hukum serta semakin berperan dalam menjaga tradisi dan memperjuangkan pembangunan di Talaud.
“Kami akan terus berdiri bersama pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan Talaud,” tambahnya.


Bupati Fransiscus: “Budaya Adalah Identitas yang Harus Dijaga”
Saat tiba gilirannya memberikan sambutan, Bupati Fransiscus Engelbert Manumpil menyampaikan pesan yang begitu mendalam. Ia meninggikan peran budaya dalam memperkuat jati diri masyarakat Talaud, sekaligus menegaskan komitmennya untuk menjaga dan melestarikan tradisi nenek moyang.
“Saya sangat mengapresiasi MUKAT, Sinode Germita, dan seluruh masyarakat Talaud yang terus menjaga serta melestarikan kekayaan budaya kita. Budaya adalah identitas yang harus dijaga, karena inilah warisan yang membedakan kita dari bangsa lain,” ujar Fransiscus dengan suara bergetar penuh makna.
Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa acara seperti ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan bagian dari perjalanan spiritual dan sosial yang menghubungkan generasi masa kini dengan leluhur mereka.
“Dengan digelarnya acara ini, saya berharap seluruh masyarakat Talaud semakin termotivasi untuk menjunjung tinggi kerukunan dan kedamaian, bukan hanya di Talaud, tetapi juga di Sulawesi Utara dan Indonesia,” tutupnya dengan penuh harap.
Prosesi Penuh Makna: Dari Doa Hingga Simbol Kebersamaan
Ritual Manduru’u Tonna terdiri dari 13 tahapan sakral, masing-masing memiliki makna mendalam. Dari doa pembukaan (Tingi Mantaingngu lurangnge Wisara Wilattu Medane) hingga doa syukur terakhir (Tingi Malapu wicara manahipunna), setiap sesi dijalani dengan khusyuk.
Momen yang paling mengharukan terjadi saat Mac’cesa Ba’a’a lai manduru puang manggoronganna, di mana ketupat dibelah dan kepala babi dipotong sebagai simbol hasil usaha bersama yang akan dinikmati dalam santap kasih. Suasana semakin syahdu saat seluruh hadirin menundukkan kepala dalam doa bersama, memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan untuk tahun yang baru.
Bukan hanya masyarakat adat yang larut dalam suasana khidmat, tetapi juga para pejabat pemerintahan, tokoh agama, hingga perwakilan dari kepolisian yang hadir dalam acara ini. Mereka bersama-sama mencerminkan kesatuan dan persatuan dalam keberagaman budaya.
Manduru’u Tonna: Sebuah Pengingat Akan Jati Diri
Acara yang berlangsung hampir enam jam ini menjadi lebih dari sekadar perayaan tradisi—ini adalah simbol kebersamaan, penghormatan terhadap sejarah, dan pengingat akan jati diri masyarakat Talaud.
Di tengah arus modernisasi, kehadiran Pj Bupati Fransiscus Engelbert Manumpil dari awal hingga akhir prosesi menjadi bukti nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk menjaga dan mengangkat nilai-nilai budaya lokal.
Bukan sekadar datang, tetapi menghayati, menghormati, dan menjadi bagian dari Manduru’u Tonna—itulah bentuk kepemimpinan yang sesungguhnya.
Masyarakat pun pulang dengan hati penuh syukur, membawa harapan bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun yang lebih baik, di bawah naungan berkat Tuhan dan dalam pelukan tradisi yang terus hidup. (HK)






