Minahasa, KOMENTAR.ID
Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, budaya tradisional sering kali menghadapi ancaman kepunahan. Namun, pemuda-pemudi Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjaga dan melestarikan Maengket Pingkan Matindas, sebuah seni tari khas Minahasa yang sarat nilai budaya. Mereka tak hanya sekadar menari, tetapi juga mempertahankan identitas dan kebanggaan leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Maengket, Napas Budaya yang Tak Boleh Pudar
Tari Maengket bukan sekadar hiburan, tetapi juga cerminan kehidupan masyarakat Minahasa yang mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan nilai luhur dalam setiap gerakannya. Di saat banyak generasi muda lebih tertarik pada dunia digital, anak-anak muda Ranowangko tetap setia berlatih dan menampilkan Maengket, meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Kami percaya bahwa budaya ini bukan hanya milik kami, tetapi juga milik seluruh masyarakat Minahasa. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” ungkap Candra seorang pegiat budaya di Ranowangko dengan penuh semangat.
Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Minimnya perhatian dari berbagai pihak, keterbatasan fasilitas latihan, serta kurangnya dukungan finansial membuat mereka harus berjuang lebih keras. Pertanyaannya, apakah upaya mereka akan terus dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan konkret?
Apresiasi Harus Berwujud Aksi
Dr.(Cand) Heidi Kristian Repi, S.Pd., Gr., M.Pd., pemerhati budaya Minahasa, menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya komunitas yang peduli terhadap seni tradisional.
“Pelestarian budaya tidak bisa hanya bergantung pada semangat individu atau kelompok tertentu. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus mengambil bagian aktif. Jika kita hanya sekadar mengapresiasi tanpa memberikan dukungan nyata, maka warisan ini perlahan akan menghilang,” ujarnya.
Beberapa daerah lain telah membuktikan bahwa dukungan pemerintah dapat memberikan dampak positif bagi pelestarian budaya. Sebagai contoh, di Gorontalo, pemerintah daerah telah mengalokasikan dana khusus untuk pengembangan seni budaya. Jika langkah serupa diterapkan di Minahasa, khususnya Ranowangko, maka Maengket akan semakin berkembang dan memiliki daya tarik yang lebih luas.
Strategi Pelestarian Budaya
Agar Maengket Pingkan Matindas terus berkembang dan dikenal luas, perlu adanya langkah konkret, di antaranya:
- Pendidikan Budaya di Sekolah: Memasukkan Maengket dalam kurikulum ekstrakurikuler untuk memperkenalkan seni tradisional kepada generasi muda sejak dini.
- Festival Budaya Berkelanjutan: Mengadakan festival budaya tahunan yang menampilkan Maengket dan seni Minahasa lainnya guna meningkatkan apresiasi masyarakat dan wisatawan.
- Dukungan Finansial dan Infrastruktur: Pemerintah harus mengalokasikan dana khusus serta menyediakan tempat latihan dan panggung pertunjukan yang layak bagi komunitas seni.
- Pemanfaatan Media Digital: Mempromosikan Maengket melalui media sosial dan platform digital agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda.
- Kemitraan dengan Swasta dan Akademisi: Mengajak sektor swasta dan akademisi untuk mendukung riset, pelatihan, serta dokumentasi budaya secara lebih luas dan berkelanjutan.
Waktunya Bersama Menjaga Warisan Budaya
Apa yang dilakukan pemuda-pemudi Ranowangko adalah bukti nyata bahwa budaya tidak akan punah jika ada yang bersedia menjaganya. Namun, menjaga warisan budaya tidak boleh hanya menjadi beban mereka semata. Pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan seluruh elemen masyarakat harus bersatu dalam memberikan dukungan konkret.
Pelestarian Maengket Pingkan Matindas bukan hanya tentang menjaga sebuah tarian, tetapi juga mempertahankan jati diri Minahasa. Jika ingin budaya ini tetap hidup dan berkembang, apresiasi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Sekarang adalah waktunya untuk bergerak, sebelum segalanya terlambat.






