Manado, KOMENTAR. ID
Pemerintah dan aparat kepolisian diminta segera menangkap Rio Koyong atau yang oleh kebanyakan penambang liar disebut Jenderal Tayo. Bandit ini terbukti merusak puluhan hektar tanah di kawasan Konservasi Ratatotok atau Hutan Lindung untuk kepentingan pertambangan ilegal (PETI) di wilayah tersebut.
Tayo sudah lama beroperasi dan memiliki 4 unit ekscavator dan sejumlah dump truck pengangkut material.
Setelah berhasil menumbangkan ribuan pohon kemudian mengerukan material tanah, dan memanen cuan puluhan miliar, Tayo memulai bertindak semena-mena terhadap pekerjanya. Dia menjebloskan warga yang berkerja ke dalam sel kepolisian. Sambil menyogok polisi dengan tiga karton bir.
Tayo diduga kuat bekerja sama dengan aparat Polsek setempat, sehingga bebas memasukan warga ke sel tanpa mengongirmasi terdahulu jenis kejahatan warga. Peristiwa ini dialami lelaki Donald Masloman alias Onal Anoa pada Jumat pekan lalu di Polsek Ratatotok.
Donal yang sedang dalam perjalanan pulang Manado tiba-tiba ditangkap atas rekayasa oknum polisi yang merupakan kerabat Tayo, kemudian dijebloskan ke dalam sel Polsek setempat.
“Yang paling menyakitkan, saya dipukuli oknum personil Polsek yang sebenarnya tidak tahu apa kesalahan saya. Masalahnya, saya tidak tahu akar masalah tiba-tiba ditangkap polisi lalu dimasukan dalam sel. Lantas kena pukulan. Baru mereka bilang saya pegang sajam. Nah kan tidak ada operasi. Pada umumnya penjaga tambang kan pegang senjata tajam. Tidak mungkin kita jaga tambang pakai peniti atau jarum jahit,” tutur Donald dengan nada kecewa.
Sementara itu, aktivis Sulut yang fokus pada bidang lingkungan, Novie Kolinug SH, meminta Polda Sulut untuk segera memberi police line atas semua unit alat berat milik Rio Koyong alias Tayo.
“Dia itu perusak hutan konservasi, hutan lindung yang dilindungi oleh negara. Gubernur dan Kapolda harus bertindak atas nama rakyat. Lalu Bupati Ronald Kandoli juga sebagai otoritas penerima hutan konservasi harus memberi tindakan kepada Tayo. Bupati jangan tutup mata. Jangan melakukan pembiaran terhadap kerusakan hutan sebelum Ratatotok hancur lebur,” pesan Kolinug yang merupakan putra Minahasa Tenggara.
Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih berupaya mencari nomor kontak Rio Koyong. Kru sempat mendatangi lokasi kerusakan hutan yang menjadi tempat ia bekerja, namun keterangan salah satu pekerja pada Senin siang menyatakan, Rio Koyong sudah ke Manado.
“Bos nyanda maso kerja, so turu Manado,” jawab salah satu pekerja seraya mengatakan tidak memegang nomor kontak Rio Koyong. (***)






