Manado, KOMENTAR.ID
Bencana dahsyat yang menerjang Sumatera Utara turut menjadi keprihatinan masyarakat dan Pemprov Sulut. Sebagai bentuk solidaritas nasional untuk korban bencana banjir dahsyat itu, Pemprov Sulut mengirim bantuan sebesar Rp1,5 miliar. Uang senilai itu untuk membantu penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bantuan ini menjadi wujud kepedulian Sulut terhadap daerah-daerah yang mengalami kerusakan dan korban akibat cuaca ekstrem.
Gubernur Yulius Selvanus saat memimpin Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana dan Pengamanan Aktivitas Masyarakat Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menyampaikan informasi tersebut.
Rakor berlangsung pada 4 Desember 2025 di Wisma Negara Bumi Beringin.
Gubernur menekankan pentingnya kewaspadaan daerah.
Gubernur menyebut bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar menjadi pengingat bahwa iklim sedang tidak stabil, ditandai dengan curah hujan tinggi, perubahan pola cuaca, dan meningkatnya potensi banjir, longsor, serta gelombang tinggi.
“Karena itulah saya minta seluruh jajaran di Sulut meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi risiko,” pinta Gubernur Yulius Selvanus, Jumat (5/11/2025).
Gubernur mengajak peserta rakor untuk mendoakan pemulihan masyarakat di tiga provinsi tersebut. Ia menegaskan bahwa Sulut hadir untuk memberikan dukungan nyata melalui bantuan dana yang telah dikirimkan.
Lanjut , YSK menekankan bahwa nilai Mapalus atau gotong royong khas Sulawesi Utara, tidak hanya dipraktekkan di dalam daerah, melainkan juga harus diwujudkan sebagai solidaritas nasional.
“Sebagaj wujud rasa kebersamaan dan solidaritas sebagai bagian dari Bangsa Indonesia, maka Pemprov Sulut memberikan bantuan sebesaf Rp1,5 miliar yang terdiri dari 500 juta untuk Aceh dan 1 M untuk Sumatera,” terang Gubernur YSK.
Gubernur juga menyoroti laporan mengenai tiga kabupaten di Aceh yang terisolasi akibat bencana, sehingga akses transportasi darat terhambat.
Hal ini, menurutnya, semakin menegaskan urgensi dukungan dari daerah lain.
Pemprov Sulut berharap bantuan tersebut dapat membantu mempercepat proses pemulihan dan menjadi simbol empati masyarakat Sulawesi Utara terhadap saudara sebangsa yang sedang menghadapi cobaan berat. (kim)






