Kado Pahit Ultah ke-65: Opa Rein Tewas di Ringroad, Keluarga Dihadapkan Tembok Kebisuan Polisi

Manado, KOMENTAR.ID

Duka di Balik Ulang Tahun ke-65: Opa Rein Tewas Ditabrak, Keluarga Menuntut Keadilan di Tengah Tembok Kebisuan Polisi

Read More

Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga besar di Karang Ria. Selasa, 28 Oktober 2025, menjadi hari di mana mereka mengantarkan sosok terkasih, Opa Rein, ke tempat peristirahatan terakhirnya di Pekuburan Mayondi, Sumompo Kecamatan Tuminting, Manado.

Opa Rein baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-65 pada Kamis, 23 Oktober. Namun, takdir berkata lain. Kebahagiaan itu terenggut paksa hanya dua hari kemudian.

Bagi keluarga dan jemaat, Opa Rein (65) bukanlah sekadar nama. Ia adalah panutan, seorang guru, Sekretaris Jemaat Petra Bitung Karang Ria, dan Ketua Rukun Kakorotan. Di usia senjanya, ia masih mendedikasikan diri, bekerja di warkop kemang The city Manado sejak awal buka pada 2024.

“Opa kami adalah orang baik, penatua yang dihormati. Baru dua hari kami merayakan ulang tahunnya,” ungkap salah satu Anaknya, dengan suara tercekat menahan pilu.

Malam Nahas di Ringroad 1
Tragedi itu terjadi pada Sabtu malam, 25 Oktober 2025. Sekitar pukul setengah sembilan malam, di Jalan Ringroad 1 Manado, tepat di depan sebuah Pom Bensin, Opa Rein yang sedang berkendara dihantam oleh sebuah kendaraan motor yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi.

Kerasnya tabrakan membuat Opa Rein meninggal seketika di tempat kejadian. Ironisnya, menurut saksi mata, penabrak yang juga terluka justru langsung “diamankan” dan dirawat oleh orang-orang di sekitar lokasi. Identitasnya raib, seolah ditelan malam.

Kejanggalan yang Mengoyak Rasa Keadilan
Duka keluarga berubah menjadi amarah dan kebingungan. Hingga hari pemakaman Opa Rein, Selasa (28/10), tidak ada satu pun perwakilan dari pihak penabrak, atau bahkan dari pihak kepolisian, yang datang untuk sekadar mengucapkan belasungkawa.

Rasa keadilan mereka semakin terkoyak ketika mencoba mencari kejelasan di Polres Minahasa Utara (Minut), yang disebut menangani kasus ini.
“Kami hanya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian opa kami. Tapi setiap kami bertanya, polisi terkesan menutupi,” lanjut sang anak.

Pihak keluarga mengaku hanya mendapat jawaban defensif. Polisi beralasan bahwa status penabrak tidak bisa diungkap karena “korban (penabrak) juga lagi kritis.” Alasan ini terasa janggal dan tidak memuaskan.

“Bagaimana bisa kritis tapi identitasnya ditutupi? Sampai detik ini, kami keluarga tidak mendapat kabar apa pun tentang siapa orang yang berkendaraan sangat cepat itu. Ini sangat janggal,” tegasnya.

Ringroad 1: Arena Balap Liar yang Dibiarkan?

Tragedi yang menimpa Opa Rein kembali menyorot borok lama di Ibu Kota Sulawesi Utara. Jalan Ringroad 1 Manado, lokasi kejadian, bukanlah tempat asing bagi para pengendara ugal-ugalan.

Area tersebut sudah lama dikenal sebagai arena balap liar favorit bagi para muda-mudi, yang sering “menguasai” jalanan dan membahayakan pengendara lain.

“Sudah banyak laporan netizen dan keluhan warga soal balap liar di situ. Tapi seperti tidak ada tindakan khusus dari aparat. Kondisi itu terus terjadi, seolah ada pembiaran. Dan sekarang, Ayah kami yang jadi korban,” sesal pihak keluarga.
Kelemahan aparat kepolisian dalam menindak tegas para “raja jalanan” ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama terulangnya insiden fatal di area tersebut.

Pandangan Kritis: Blunder Etika Kepolisian
Menanggapi kasus ini, pengamat sosial dan hukum, Jeffery Sorongan, memberikan kritik tajam terhadap sikap yang ditunjukkan oleh Polres Minut.

“Ini bukan hanya soal prosedur penyelidikan, ini menyangkut etika dasar dan kelalaian pelayanan kepolisian terhadap keluarga korban yang sedang berduka,” ujar Jeffery.

Menurutnya, keluarga korban memiliki hak penuh untuk mendapatkan informasi awal yang transparan, setidaknya mengenai status kasus dan identitas pihak yang terlibat, selama tidak mengganggu proses penyidikan.

“Sikap polisi yang terkesan ‘menutupi’ dengan alasan penabrak juga kritis adalah sebuah blunder fatal. Itu membangun persepsi publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Polisi seharusnya merangkul keluarga korban, memberikan pendampingan dan update informasi, bukan malah membangun tembok,” tegasnya.

Jeffery menambahkan bahwa kelalaian dalam menyambut keluarga korban yang mencari kejelasan adalah cerminan buruk dari fungsi polisi sebagai pelayan dan pelindung masyarakat.


Kini, keluarga Opa Rein tidak hanya bergulat dengan duka kehilangan. Mereka juga harus berjuang menuntut keadilan, menembus dinding tebal kebisuan yang dibangun oleh mereka yang seharusnya mengungkap kebenaran.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts