Manado, KOMENTAR.ID – Adanya keluhan konsumen, Tridjaya Mulia Sukses, salah satu dealer motor Honda di Jalan Samratulangi depan eks Multimart menanggapi hal itu, Berikut penjelasan, Kepala Wilayah Dealer Tridjaya Mulia Sukses, Erwin Rumuat, di dampingi Costumer Service Alexander Abimayu dan Humas PT DAW Honda, Meitris Kalalo, Rabu (23/4/2025).
Ini jalur konsumen ketika datang service pasti melewati bengkel, dan dilayani Service Advice, mendengar keluhan konsumen, dicros cek, indikasi ada masalah apa. Kemudian sepakat coba dilihat dulu sparepart apa sekira yang harus diganti, kemudian masuk ke pit untuk ditangani mekanik.
“Nah dalam hal ini, memang di kita ada item (Sparepart) itu jika dilihat dari masalah (keluhan konsumen), oh itu yang harus diganti, setelah di cek ternyata Sparepart yang sama, tapi ada perbedaan lubang, sehingga tidak dapat menggunakan itu,” terang Kepala Wilayah Dealer Trijaya Mulia Sukses.
Situasi saat itu, sepakat melihat apa yang rusak kemudian motor dibongkar, ternyata ada perbedaan kode, sisi item part yang dimaksud, dan disarankan untuk cari diluar. Dan tidak ada pendampingan ,maksudnya tidak diarahkan untuk dicari di mana, meskipun sudah ditunjukkan contoh part dari mekanik. Ini lah, missed nya kemungkian konsumen dapat part yang asli atau bukan. Kalo imitasi sebenarnya asli, tapi bukan keluaran dari Honda Genuine Part.
Nah, konsumen yang sudah mencari keluar, mungkin sudah dalam posisi capek bolak balik, dan telah mengkonfirmasi no Service Advicer yang diberikan, dan memang tidak serta merta pesan WA dilayani kecuali dalam posisi senggang, dalam artian SA juga melayani antri tunggu atau sedang pelayanan langsung dengan konsumen lainnya.
“Di story jelas, 6 menit kemudian direspon, cuman memang konsumen sudah baca, mungkin 5 – 10 menit konsumen yang dimaksud sudah tiba bawa sparepart,” klarifikasi Kepala Wilayah.
Dan pihak Dealer Tridjaya telah menawarkan berarti motor harus di inapkan. Dan ditawarkan/disediakan ada motor pengganti dipakai konsumen untuk operasional, namun konsumen menolak.
“Jadi, kondisi seperti itu, kami sudah menawarkan untuk gimana caranya, motor bisa jadi, maka harus nginap. Jika dipaksa pasang tentunya tidak bisa artinya motor jalannya memang sudah tidak normal, mungkin akan mengakibatkan kerusakan lainnya, dan bisa mengancam pengendara saat berkendara,” tambah Kepala Wilayah.
JALUR ORDER SPAREPART
Disampaikan terkait ketersediaan Sparepart, ada dua yakni Fast Moving ketersediaan harus selalu ada dan Slow Moving, tidak harus disediakan ,selalu ada, apalagi barang yang jarang dicari. Dimana tentunya semua bengkel baik motor dan mobil tidak ada yang menyediakan seratus persen ketersedia-an Sparepart tentunya.
“Untuk jalur Line order, butuh waktu. Main dealer butuh dua – tiga hari barang datang, kalo pesan di Jakarta, ditanggung, pengiriman via pesawat. Biaya kita kirim, konsumen murni bayar sparepart. Mungkin juga satu dua Minggu, kalo nga ada di Jakarta akan dicari lagi ke daerah daerah.” Kunci Kepala Wilayah sembari manambahkan jika ketersediaan Sparepart yang dimaksud atas keluhan konsumen, telah dicek dan ada di wilayah Bitung.
Sebagaimana keluhan konsumen, ada pengalaman buruk harus diterima seorang warga di Manado saat melakukan service motor di bengkel resmi Ahass Honda Manado, tepatnya di Jalan Samratulangi depan eks Multimart.
Pasalnya, dia seperti dibuat bola pingpong atas pelayanan bengkel resmi Honda tersebut, justru setelah sepeda motor Honda Revo Absolute miliknya telah dibongkar.
Usai dibongkar, ternyata sparepart di bengkel tersebut tidak ada. Padahal sebelumnya, mereka telah menginformasikan soal harga beberapa sparepart yang akan digunakan.
Keanehan mulai terlihat, saat pihak bengkel mengkonfirmasi jika salah satu sparepart yang kosong bisa dibeli dari luar oleh pelanggan.
“Karena sudah terlanjur masuk bengkel, permintaan untuk mencari barang yang kosong di luar tetap diiyakan. Sebenarnya aneh, karena saya masuk bengkel resmi itu agar pelayanan prima. Kalau hanya beli dari luar, lebih baik sekalian saja bikin di luar bukan di bengkel resmi,” kata pelanggan itu, Selasa (22/4).
Pelayanan terkesan asal-asalan kembali terjadi, saat pelanggan itu datang membawa sparepart yang dibelinya di luar ke bengkel resmi Honda itu. Saat tiba itu, ternyata pelanggan kembali disuruh membeli sparepart lainnya lagi.
“Saat sudah sampai di bengkel Honda itu, saya diberitahu lagi kalau ternyata ada satu lagi sparepart yang kosong sehingga disuruh beli lagi di luar. Katanya solusinya hanya itu beli di luar,” kata pelanggan tersebut.
Parahnya lagi, pelanggan tak diberi panduan untuk membeli sparepart. Tak hanya itu, saat dihubungi untuk menanyakan model sparepart yang harus dibeli, customer service tak merespons chatting maupun panggilan telepon si pelanggan.
Akhirnya, sparepart yang dibeli ternyata berbeda nomor seri sehingga tak bisa digunakan. Padahal pelanggan mengaku sudah membeli barang itu dengan harga ratusan ribu rupiah.
Ironisnya, saat meminta pertanggungjawaban karena mesin telah dibongkar, pihak bengkel seperti menyalahkan pelanggan.
“Saya tentu merasa dirugikan, karena sudah menunggu berjam-jam, bolak-balik disuruh ke bengkel lain untuk beli sparepart sendiri, tapi ujung-ujungnya motor tak jadi. Rugi waktu, rugi uang dan rugi kerja. Kalau tahu begini, lebih baik tak ke bengkel resmi Honda,” ujar pelanggan itu kembali.
Sementara, menurut pelanggan tersebut, sepeda motor miliknya masih ada di bengkel dan tidak ada solusi agar kendaraan itu selesai.
“Masih di bengkel. Sampai sekarang tak ada komunikasi lagi dari bengkel,” ujar pelanggan yang bertempat tinggal di Mapanget itu.
(Kim/Sher)






