Manado, KOMENTAR.ID
Di balik rimbunnya pepohonan dan hamparan tanah subur di Manado, Tikala, tersimpan duka yang mendalam bagi keluarga Stien Mantiri. Tanah warisan yang seharusnya menjadi penopang hidup mereka, kini perlahan-lahan direnggut dari genggaman. Konflik tanah ini bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga tentang keadilan, pengkhianatan, dan air mata yang tertumpah akibat perebutan hak waris yang tidak adil.
Nicolas Mantiri, sang pemilik tanah adat, telah meninggalkan warisan yang jelas bagi ketiga anaknya: Noni Mantiri, Stien Mantiri, dan Neti Mantiri. Surat tanah adat (Pasini) yang sah mencatat pembagian tanah tersebut dengan jelas. Namun, apa yang terjadi belakangan ini jauh dari harapan. Keturunan Stien Mantiri, salah satu penerima warisan, kini harus berjuang melawan ketidakadilan yang mereka alami. Tanah yang seharusnya menjadi milik mereka, diduga telah disabotase oleh salah satu cucu dari Noni Mantiri, yang juga bernama Nicolas Mantiri.
Sance Walean, anak dari Stien Mantiri, dengan suara gemetar menceritakan bagaimana tanah keluarganya perlahan-lahan hilang. “Ada empat lokasi tanah yang seharusnya menjadi milik kami. Namun, satu lokasi sudah tidak bisa kami pertahankan. Tanah itu telah diambil alih oleh orang lain. Tiga lokasi lainnya masih kami perjuangkan, tapi kami tidak tahu sampai kapan kami bisa mempertahankannya,” ujarnya dengan nada pilu.
Sance menceritakan bahwa keluarga mereka telah melakukan penyelidikan internal. Hasilnya, mereka menemukan bahwa beberapa batas wilayah tanah mereka telah diubah tanpa sepengetahuan mereka. Transaksi-transaksi bawah tangan diduga terjadi, dan yang lebih menyakitkan, beberapa pajak tanah yang seharusnya menjadi tanggung jawab keluarga Stien Mantiri, ternyata telah dibayar oleh Nicolas Mantiri, cucu dari Noni Mantiri.
“Kami merasa dikhianati. Tanah ini adalah warisan dari orang tua kami. Bagaimana mungkin ada orang yang tega mengambil hak kami dengan cara seperti ini?” tanya Sance, suaranya penuh kepedihan.
Kebetulan atau Strategi?
Salah satu hal yang paling menyakitkan bagi keluarga Stien Mantiri adalah penggunaan nama “Nicolas Mantiri” oleh cucu Noni Mantiri. Nama itu persis sama dengan nama Opa mereka, Nicolas Mantiri, sang pemilik tanah awal. Sance mengungkapkan bahwa nama tersebut bukanlah nama asli dari cucu Noni Mantiri tersebut. “Nama Cucu keturunan Noni mantiri itu awalnya bukan Nicolas Mantiri, karena orang tua mereka semacam ada keturunan Tionghoa, nama semacam bisa diberubah. itulah sehingga Nama Nicolas Mantiri dipakai. Tapi, nama ‘Nicolas Mantiri’ yang dipakai oleh cucu Noni ini sepertinya sengaja dibuat mirip dengan nama Opa kami. Ini seperti upaya untuk mengelabui,” ujar Sance dengan nada sedih.
Bagi keluarga Stien Mantiri, penggunaan nama yang sama ini bukan sekadar kebetulan. Mereka melihatnya sebagai bagian dari strategi untuk mengambil alih tanah warisan mereka. “Mengapa harus menggunakan nama yang sama persis? Ini membuat kami semakin yakin bahwa ada niat buruk di balik semua ini,” tambah Sance.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan secara hukum, tetapi juga secara ekonomi dan emosional. Keluarga Stien Mantiri telah kehilangan salah satu lokasi tanah mereka, dan tiga lokasi lainnya terancam mengalami nasib yang sama. “Kami bukan orang kaya. Tanah ini adalah satu-satunya aset yang kami miliki. Jika tanah ini hilang, kami tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujar Sance dengan suara lirih.
Selain itu, transaksi-transaksi yang diduga dilakukan oleh Nicolas Mantiri telah membuat keluarga Stien Mantiri kesulitan untuk membuktikan kepemilikan mereka. “Kami merasa seperti dipermainkan. Semua ini terjadi tanpa sepengetahuan kami. Kami hanya ingin keadilan,” tambah Sance
Nama Gubernur Yulius Komaling Disebut-sebut
Di tengah kepedihan yang mereka alami, keluarga Stien Mantiri masih berpegang pada harapan. Nama Gubernur Yulius Komaling Disebut-sebut keluarga karena dinilai dapat mebawa harapan bagi mereka. “Karena beliau tegas, terlihat jujur dan sangat berpihak kepada rakyat” Ucap Sance.
Mereka berharap agar pemerintah daerah, khususnya Gubernur Sulawesi Utara, Pak Yulius Komaling, dapat turun tangan membantu menyelesaikan konflik ini. “Kami berharap Pak Gubernur, Pak Yulius Komaling, dapat membantu kami. Ini bukan hanya tentang tanah, tetapi tentang keadilan bagi keluarga kami yang telah dirugikan,” ujar Sance dengan penuh harap.
Ibu Sance menambahkan, “Kami percaya bahwa Pak Gubernur memiliki hati untuk rakyat kecil seperti kami. Semoga beliau dapat mendengar keluh kesah kami dan membantu menyelesaikan masalah ini dengan adil.”

Disclaimer:
Artikel ini ditulis berdasarkan pengakuan dan informasi yang diberikan oleh keluarga Stien Mantiri. Nama-nama dan fakta yang disampaikan dalam artikel ini didasarkan pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Penulis berusaha untuk menjaga netralitas dan tidak bermaksud menuduh atau menyudutkan pihak manapun. Jika ada pihak yang merasa dirugikan atau memiliki versi cerita yang berbeda, Redaksi KOMENTAR.ID terbuka untuk klarifikasi lebih lanjut.






