Memperkuat Pilar – Pilar Kolintang sebagai Fondasi bagi Kolintang Sebagai Intangible Cultural Heritage UNESCO

Sumber Foto: FS Ansambel

Peran 4 pilar kolintang yang terdiri dari pelatih, pengrajin, pemain, pemerhati bagi eksistensi kolintang sampai saat ini sangatlah besar. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, kolintang semakin mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Demikian juga, tercatatnya Kolintang sebagai ICH UNESCO, atas cara tertentu, bisa dipandang sebagai puncak prestasi perjuangan bersama, selama kurun waktu yang tidak singkat.

Di sisi yang sama, dengan dicatatkannya Kolintang di UNESCO, bisa pula dipandangan sebagai era baru kolintang di mata dunia. Semua itu adalah hasil dari pikiran, gerakan, upaya, perjuangan dan tentu saja pengorbanan bersama 4 pilar, termasuk kelompok/komunitas/institusi.

Dari sini maka catatan penting yang sangat perlu dibangun adalah menumbuhkan kecintaan, kepedulian dan kebanggaan bagi semakin banyak pihak demi pemajuan dan pelestarian Kolintang ini ke depan. Maka dari itu, dengan tegas pula dapat dikatakan bahwa fondasi kokoh terletak pada kecintaan, kepedulian dan rasa bangga dengan Kolintang ini, di semua kalangan.

Kendati demikian, perlu pula diberikan sebuah catatan berupa rekomendasi yang perlu ada yakni:

Pertama, Ulasan bagaimana perjalanan kolintang untuk dunia yang sudah dimulai dari ketokohan Nelwan Katuuk yang telah memperkenalkan melodi kolintang di tanah Minahasa, kemudian Kolintang yang telah me-Nusantara hingga capaian-capaian seperti rekor MURI. WORLD Record, kemudian WBTB Indonesia 2013, temasuk didalamnya Kolintang Masuk Istana Negara, Kolintang mendunia lewat tampilannya di beberapa kedutaan atau konsulat jenderal yang ada di Indonesia, hingga saat ini telah dicatatkan sebagai ICH UNESCO.

Kedua, Penggalian infornasi untuk data base kolintang, seperti pencatatan para pemerhati kolintang yang peduli pada Kolintang (seperti Lurah/Kades yang dilabeli Gila Kolintang, Walikota/Bupati yang dengan penuh solider menjadi penyumbang alat musik kolintang, kemudian penyanyi, pemain kolintang, Gubernur peduli kolintang, Jendral Polisi suka kolintang, Duta Besar cinta kolintang, dst.

Ketiga, perlunya riset berkelanjutan terkait sejarah perkembangan kolintang dari sub etnis lain (lintas sub etnis, daerah, negara untuk mencatat sejarah kolintang dunia.

Keempat, perlunya dibentuk organisasi sayap dibawah wadah PINKAN sebagai rumah Besar Insan Kolintang, seperti: AMAPRAKOLNAS (Asosiasi Masyarakat Pengrajin Kolintang Nasional), INAPHAKOLNAS (Ikatan Artis & Pemerhati Kolintang Nasional), Ikatan                   Cendekiawan Kolintang Nasional, di samping organisasi sayap yang sudah ada yakni IPMKJ, P2Kol Surabaya, IPKOLINDO, Akademi Komunitas Kolintang Indonesia (Pendidikan formal terkait kolintang dalam satu atau dua semester, yang bersertifikat, sebagai batu loncatan untuk pendirian Sekolah Menengah Kejuruan Kolintang Minahasa.

Kelima, penyiapan dan penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kapabel dalam bidang kolintang. “Salam Kolintang Pemersatu Bangsa”

(Catatan Joudy Djoli Aray, S. Pd., Editor: Ambrosius Markus Loho, M. Fil.)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts