Perjalanan kompetisi dan pengembangan bola voli di Indonesia, sebetulnya tidak sedemikian baik. Hal itu ditengarai dengan jumlah peserta Proliga 2025 secara khusus untuk kategori putra yang hanya diikuti oleh tidak lebih dari lima tim profesional. Namun apapun itu, tentu saja harus disyukuri dan disupport, karena event Proliga ini tetap dilangsungkan ditengah segala keterbatasan dan kekurangan.
Dalam gerak yang sama, perjalanan bola voli di Sulawesi Utara, sebagai salah satu daerah yang juga turut mencetak talenta-talenta muda berbakat untuk Tim Nasional dan tentu saja PROLIGA seperti Rendy Tamamilang (Spartan Bitung) Jasen Kilanta (Divens Koka), Jordan Susanto (Bright Jos Elektrik Manado), Sandro Telah (Mapalus Manado) demikian juga di sektor putri terdapat nama: Anastasia Renyaan (Bulls Minut), Syelomita Wongkar (Bulls Minut), Angel Sualang (Bulls Minut) dan Naftalya Katuuk (Mapalus Manado). Semua pemain ini harus keluar daerah untuk mencapai cita-cita yang diimpikan, mengingat kompetisi dan pola pembinaan di kota kelahirannya tidak sedemikian baik dan bahkan tidak sesuai jalur yang dikehendaki oleh pecinta bola voli Sulawesi Utara.
Hal tersebut tentu bukan tanpa dasar, karena selama kurun waktu satu tahun berjalan yakni di tahun 2024 ini, kompetisi bola voli di Sulawesi Utara, mengalami pasang surut. Kompetisi tetap ada, namun penyelenggaraan dan penyelenggaranya tidak sedemikian mengikuti alur yang semestinya.
Kendati begitu, mari kita menengok beberapa catatan yang bisa menjadi dasar yang kuat terhadap catatan kritis tulisan ini.
Pertama, ketika memasuki periode akhir tahun 2024, masa kepengurusan PBVSI Sulawesi Utara pun telah berakhir di November 2024. Hal ini tentu sesuatu yang lumrah, karena secara de facto setiap kepengurusan selalu ada akhhirnya, walaupun pengurus yang lama diberikan kesempatan untuk melaksanakan MUSPROV PBVSI SULUT untuk memilih pengurus yang baru yang tentunya mau memajukan Bola Voli Sulut tampa ada kempentingan pribadi. kita juga jangan terlena dengan lolosnya Tim pelajar diajang Pra POPNAS yang diselenggarakan di Gorontalo, karena ujian yang sebenarnya adalah pada saat kita mengikuti POPNAS nanti, Coba kita melihat penyelenggaraan event Kejuaraan Daerah U19 yang tampak dipaksakan, lebih miris lagi event Kejurda U19 ini yang seharusnya menjadi ajang seleksi untuk Kejuaraan Nasional Tahun 2024, namun karena tidak ada penataan dan manajemen yang baik, maka akhirnya Kejurda U19 ini berjalan bersamaan dengan event Kejurnas U19 yang diadakan di Lampung, sehingga penyelenggaraannya yang bertabrakan dengan event Kejurnas terkesan menjadi mubazir.
Kedua, selain catatan terhadap Kejurda U19 diatas, event Kejurnas U16 yang akan diadakan di Padepokan Bola Voli Sentul Bogor, tim U16 Sulawesi Utara baik Putra dan Putri tidak ada persiapan, karena tidak diselenggarakan event Kejurda yang notebene merupakan ajang Seleksi untuk ke Kejurnas U-16. Menjadi catatan untuk Kejurnas U16 ini, berbanding terbalik dengan banyaknya potensi atlit muda di Sulawesi Utara. Dengan demikian, catatan kritis untuk pengurus PBVSI Sulut tidak punya data pemain dan Kalender kompetisi yang jelas, sehingga kalaupun tim Sulut akan ikut, akan terjadi bahwa pemain-pemain tidak diseleksi, dan hanya ditunjuk oleh pemangku kepentingan yang tentu saja memiliki kepentingannya untuk mengorbitkan sosok muda dalam tim. Maka jika demikian, tentu saja sikap tidak fair akan terjadi.
Ketiga, pelibatan terhadap PBVSI di tingkat kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, ini tidak berjalan dengan baik. Sering terjadi bahwa semua pengambilan keputusan hanya terpusat pada tingkat provinsi, yakni pengurus PBVSI Sulawesi Utara saja. Maka dari itu, pengurus di Provinsi tidak memiliki data pemain dan data atlit untuk direkrut ketika akan ada event baik ditingkat daerah maupun tingkat nasional.
Keempat, poin berikut ini tentu baik, yakni geliat voli memang terjadi yakni diselenggarakannya berbagai event baik di tingkat SMP, SMA maupun tingkat klub di Sulawesi Utara. Namun tampak jelas bahwa koordinasi antara penyelenggara event dan PBVSI Sulawesi Utara banyak mengalami jalan buntu. Setiap penyelenggaraan terkesan berjuang sendiri dan tidak mendapat dukungan dari pengurus PBVSI Sulut.
Kelima, pola komunikasi yang pincang antara PBVSI Sulut, KONI Sulut, DISPORA Kabupaten Kota, DIKNAS Sulut, BAPOPSI Sulut, BAPOMI Sulut, dalam pemanggilan pemain, pelatih dan wasit. Maka jika demikian, tidak heran bahwa selalu terjadi one man show dalam penyelenggaraan even bola voli di Sulut.
Keenam, permasalahan perwasitan dan pelatih yang tidak perna tuntas, karna ada perlakuan yang tidak adil oleh oknum pengurus dalam penugasan wasit dan pelatih di beberapa event daerah maupun Nasional.
Dari enam poin ini, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi catatan kritis untuk kebaikan dan kemajuan bola voli di Sulawesi Utara:
Pertama, apakah benar even PBVSI Sulut sungguh-sungguh bergeliat? Beberapa event terselenggara namun ada sebuah otoritas yang selalu dominan mengatur dan tampak show off.
Kedua, apakah manajemen dan aturan yang diterapkan dalam setiap event benar-benar teratur dan memenuhi rasa keadilan dan sesuai dengan aturan yang berlaku bagi semua Club/Sekolah yang ada di Sulut ?
Ketiga, dari dua pertanyaan ini, fakta lain yang harus diketahui oleh publik adalah sebuah fakta yang tidak terelakan bahwa tampak jelas, bahwa bola voli Sulut hanya didominasi oleh satu Club dan sekolah saja. Karena hal ini maka fakta yang terjadi adalah banyaknya atlit muda potensial yang akhirnya ke luar daerah untuk berlatih di luar Sulut. Dengan ini pertanyaan mendasarnya, di mana regenerasi atlit voli Sulut? Akhirnya, dari catatan kritis yang amat sangat membangun ini, pengurus PBVSI Sulut harus berbenah! “VOLI JAYA”*** (Editor Ambrosi Loho)






