Tahuna, KOMENTAR.ID
Masih ingat peristiwa tragis yang dialami putri tercinta Jenderal A. H. Nasution?, Sang Putri menjadi korban keganasan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30 S PKI) puluhan tahun silam.
Kali ini Danrem 131/Santiago Brigjen TNI Wakhyono, S.Sos.,M.I.P didampingi Kasi Ops Korem 131/Santiago Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus bersama Kasdim 1301/Sangihe Letkol Inf Rasmul Tamalawe, bertemu pengasuh yang juga saksi mata peristiwa tersebut, yakni Oma Alpiah Makasebape, Rabu (24/05/2023)
Oma Alpiah yang kini berusia 87 tahun merupakan salah satu saksi hidup dari peristiwa G30S PKI tahun 1965 silam, di mana dirinya saat itu merupakan pengasuh anak dari Jenderal Besar TNI (Purn) Dr (HC) Abdul Haris Nasution, Ade Irma Nasution.
Saat ini, Alpiah tinggal bersama dengan anaknya di pulau ujung utara Indonesia, tepatnya di Kelurahan Dumuhung, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.
Silaturahmi antara Danrem 131/ Santiago beserta anaknya dan nenek Tintang, panggilan akrab Alpiah dari warga setempat, terjalin usai Brigjen Wakhyono, S.Sos.,M.I.P
melakukan kunjungan kerja di Kodim 1301/Sangihe.
Kunjungan tersebut merupakan yang pertama kali sejak dirinya menjadi orang nomor satu di satuan Korem 131 Santiago beberapa bulan lalu.
Dalam pertemuan yang penuh keakraban tersebut, pengasuh Ade Irma Suryani Nasution ini menceritakan sekilas kehidupannya mulai dari kedatangannya di keluarga Jenderal A. H Nasution hingga peristiwa kelam 30 September 1965.
Pada tahun 1960, Ibu Johana Sunarti Nasution mencari seseorang untuk mengasuh anaknya yang baru saja lahir (Ade Irma) pada 19 Februari 1960.
Kala itu saya berusia 24 tahun akhirnya dipilih. Ade Irma Suryani merupakan anak bungsu Kepala Staf Angkatan Perang (saat itu) Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Ade Irma tertembak senjata pasukan pro PKI ketika sedang mencari bapak Nasution untuk dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada malam 30 September 1965,”Oma Alpiah.
Lanjutnya, kala itu Johana, Yanti kakaknya, Alpiah dan yang lainnya ikut tinggal dan menemani Ade Irma saat dirawat selama beberapa hari di RSPAD Gatot Soebroto sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Gadis 5 tahun tersebut menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Alpiah pada tanggal 6 Oktober 1965 karena saat itu Johana sedang tidak ada di tempat.
“Saya masih mengabdi hingga tahun 1969. Setelahnya saya memilih untuk pulang kampung dan menetap di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kami masih menjalin komunikasi yang baik dan masih beberapa kali datang ke Jakarta untuk menghadiri acara-acara spesial Keluarga Nasution,”pungkas Alpiah..{Verry Bawoleh}






