Usai Marah-marah di Rumah Warga, Pasutri Polisi-Dokter di Minsel Pakai Pengacara Giring Isu Kekerasan Terhadap Anak

Pasutri bermasalah, VW dan suami Aiptu RK dilapor ke Polres Minsel. (IST)

Manado, KOMENTAR.ID
Terlapor pasangan suami istri (pasutri) Aiptu Rolly Kakaiay dan istri dr Venilya Waroka yang dilapor atas dugaan tindak pidana pengancaman terhadap korban Feiby Chenni Wilar mulai berupaya menghindari perbuatan mereka. Salah satu taktik yang dipakai pasutri itu yakni menggunakan jasa sejumlah pengacara untuk melempar isu kekerasan terhadap anak. Dalam sejumlah media online yang tersebar, pasutri tersebut mengatakan ada kekerasan terhadap anak yang harus ditindaklanjuti aparat penegak hukum.

Vianne Mamesah, S.H, personil tum kuasa hukum dr Felyia Waroka membantah tudingan tersebut. Mamesah menyebut narasi yang berkembang di publik tidak berdasar dan cenderung menyesatkan.

“Kami melihat ada pemberitaan yang tidak melalui klarifikasi dari klien kami, sehingga informasi yang beredar menjadi bias dan tidak utuh,” ungkap pihak kuasa hukum dalam keterangannya dalam sebuah berit media online

Menurut Mamesah, kehadiran pasutri itu di lokasi yang dipermasalahkan bukan untuk melakukan intimidasi, melainkan untuk mencari kejelasan atas dugaan kasus kekerasan yang dialami anaknya, yang masih di bawah umur. Pasutri mendatangi aparat pemerintah setempat, termasuk kepala jaga, dengan tujuan meminta penjelasan secara resmi.

“Kami khawatir isu intimidasi ini justru mengaburkan kasus utama, yaitu dugaan kekerasan terhadap anak yang seharusnya menjadi prioritas penanganan,” tegas Vianne Mamesah.

Sementara itu, Victor Joy Kowureng, SH, yang juga tergabung dalam tim kuasa hukum, mengungkapkan bahwa proses hukum kasus tersebut masih berjalan. Saat ini, perkara disebut telah memasuki tahap disposisi dan tinggal menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian.

“Kami masih menunggu pemanggilan resmi. Dalam posisi ini, kami berkepentingan untuk meluruskan informasi yang sudah terlanjur beredar di publik,” ujarnya.

Sementara itu, korban Chenni Wilar dalam sebuah pres konferensi, Kamis (9/4/2026) di Amurang mengatakan, dirinya kaget dengan isu kekerasan terhadap anak yang disebut pasutri Polisi-Dokter teraebut.

“Masalah utama kekerasan terhadap anak? Memang ada kekerasan bagaimana terhadap anak itu ? Kalau ada mana buktinya? Tunjukan sedikit bukti saja ada kekerasan terhadap anak? Atau cuma ngarang isu supaya laporan saja dibikin kabur?,” ujar Wilar di Amurang, Kamis siang.

Kronologi Masalah

Mengenai konflik itu, korban yang merupakan ASN Rumah Sakit mengatakan, peristiwa bermula ketika dirinya hendak mandi sore menjelaskan malam. Saat memutar kran, air tidak keluar. Dia mencari tahu di belakang rumah dan menemukan pipa air patah. Saat bersamaan terdapat dua anak, yakni Vins yang merupakan cucunya dan Samuel anak terlapor.

“Saya bertanya ke Vins, cucu saya, lalu dia jawab bukan dia kasih patah. Lalu saya tanya Samuel, siapa yang bikin rusa pipa air. Samua jawab bukan dia. Karena hari sudah malam saya tanya lagi kenapa sudah malam masih bermain?

Lalu kakak dari Vins datang dengan kondisi buka baju lalu mengibas Samuel menggunakan baju sambil berkata, ‘nakal ngana bikin rusak orang pe barang,’. Itu tindakan seorang kakak Vins terhadap Samuel. Bukan pukul juga. Nah karena agak ribut depan rumah, tiba-tiba datang kakak dari Feliya yakni Alfian Waroka marah-marah. Saat bersamaan Papa tua dari Samuel bernama Melky Waroka juga marah-marah Samuel. Sementara Alfian Waroka langsung buka sendal dan memukul Samuel, sambil berkata bikin rusak barang orang. Itu ada saksi mata yang melihat. Mungkin karena tindakan Papa tuanya, anak ini kemudian menangis lalu pergi ke rumahnya. Lantas apakah itu kekerasan terhadap anak yang saya lakukan? Saya menanyakan sesuatu terhadap anak-anak di rumah saya, tentu wajar. apalagi berkaitan dengan kerusakan barang, karena mereka kan ada di lokasi atau rumah,” ujar Wilar tentang kronologis masalah.

Nah sesaat kemudian, pasutri itu datang bersama Alfian Waroka dan mulai teriak teriak dengan nada tinggi dalam rumah Chenni Wilar.

” Ibu saya sedang sakit. Mereka datang teriak, marah-marah, tunjuk-tunjuk apakah saya tidak berhak melapor polisi? Itu kan sudah menganggu kenyamanan saya dan ibu saya di rumah. Jadi isu kekerasan anak itu cuma cara kotor agar saya tida ngotot di kepolisian. Tidak semua anak itu menangis karena dipukul atau dimarah. boleh jadi karena saya hanya bertanya lalu datang kakaknya mengebas menggunakan baju dan pamannya yang memukul pakai sendal,” jelas Chenni Wilar.

Sementara itu, dari Tutor Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Desa Sapa sudah memberikan pernyataan resmi kepada Chenni Wilar, bahwa investigasi pihaknya tidak menemukan adanya kekerasan terhadap anak.

“Ibu Channy Pesik dari PPA sudah bilang tidak ada temuan kekerasan terhadap anak. Jadi isu kekerasan terhadap anak itu cuma dibuat-buat saja,” kata Cheni Wilar.
(kim)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts