Upaya Pencegahan Karies Gigi Melalui Pelatihan Deteksi Dini dan Cara Menyikat Gigi yang Benar

KOMENTAR.ID – Upaya pencegahan karies gigi terus dilakukan Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Manado melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dengan melaksanakan pelatihan bagi kelompok ibu di Desa Sea Tumpengan, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa.

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Upaya Pencegahan Karies Gigi Melalui Pelatihan Deteksi Dini Karies Gigi dan Cara Menyikat Gigi yang Benar pada Kelompok Ibu di Desa Sea Tumpengan, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa.”

Sebanyak 45 orang dari kelompok ibu di Desa Sea Tumpengan mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat. Tim tersebut diketuai Jeineke E. Ratuela, S.Pd., S.SiT., M.DSc., bersama Jeanne d’Arc Zavera Adam, S.Pd., M.Kes.

Kegiatan ini difokuskan pada dua aspek utama, yakni meningkatkan kemampuan peserta dalam mendeteksi gejala awal karies secara mandiri serta memberikan pemahaman dan praktik mengenai cara menyikat gigi yang benar.

Kegiatan dibuka oleh Hukum Tua Desa Sea Tumpengan, Halilintar Filadelfus Kukihi. Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para ibu dalam mendeteksi dini karies gigi pada anak sekaligus membiasakan anak menyikat gigi dengan cara yang tepat.

Upaya tersebut dinilai penting karena ibu merupakan pengasuh utama anak sekaligus memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, para ibu di Desa Sea Tumpengan diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam menjaga kesehatan gigi keluarga. Dengan demikian, angka kejadian karies gigi pada anak dapat ditekan sehingga terwujud generasi yang lebih sehat dan percaya diri.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk kebiasaan anak untuk menyikat gigi secara benar dan teratur, yakni dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai metode menyikat gigi yang efektif, seperti gerakan memutar dan gerakan dari arah gusi ke gigi, dengan durasi minimal dua menit.

Desa Sea Tumpengan yang terletak di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, merupakan wilayah dengan karakteristik pedesaan. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani, buruh, dan ibu rumah tangga.

Berdasarkan data dari Puskesmas setempat dan hasil observasi awal, ditemukan bahwa angka kejadian karies pada anak-anak di desa tersebut cukup tinggi.

Sebagian besar kasus karies belum tertangani secara optimal akibat kurangnya kesadaran masyarakat, terutama para ibu, terhadap pentingnya menjaga kebersihan gigi serta melakukan deteksi karies sejak dini.

Edukasi dari petugas kesehatan selama ini masih bersifat insidental, seperti saat pelaksanaan Posyandu atau kunjungan Puskesmas keliling. Sejumlah ibu juga mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai kesehatan gigi dan cara menyikat gigi yang benar.

Pentingnya Deteksi Dini Karies Gigi

Deteksi dini karies gigi merupakan proses mengenali lesi awal karies sebelum berkembang menjadi lubang yang lebih besar. Karies gigi berkembang secara bertahap, dimulai dari munculnya lesi putih atau white spot akibat proses demineralisasi email yang disebabkan oleh asam dari bakteri plak.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan masyarakat awam, khususnya para ibu, mendapatkan pelatihan untuk mengenali tanda-tanda awal karies melalui metode sederhana, seperti inspeksi visual menggunakan cermin gigi dan bantuan cahaya atau senter.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Jeineke E. Ratuela, S.Pd., S.SiT., M.DSc., menjelaskan bahwa risiko karies pada anak terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu risiko karies tinggi, sedang, dan rendah.

“Untuk itu diperlukan tindakan pencegahan. Jenis pencegahan ada tiga, yaitu primer, sekunder, dan tertier. Tindakan yang paling dini adalah pencegahan primer karena dilakukan sebelum terjadinya suatu penyakit pada gigi anak,” jelas Jeineke.

Menurutnya, pencegahan primer dapat dilakukan melalui dental health education, pemeliharaan kesehatan gigi, pemeriksaan gigi secara berkala, pemberian fluor, serta fissure sealant.

Anak yang memiliki risiko karies tinggi harus segera mendapatkan perawatan untuk menghilangkan karies atau setidaknya menurunkan tingkat risiko dari tinggi menjadi lebih rendah, sesuai dengan tingkat karies yang dapat diterima pada kelompok umur tertentu.

“Dengan demikian, target pencapaian gigi sehat dapat tercapai. Menyikat gigi membantu mengontrol plak dan merupakan langkah awal dalam mengendalikan karies serta penyakit periodontal,” tambahnya.

Sementara itu, anggota tim, Jeanne d’Arc Zavera Adam, S.Pd., M.Kes., menjelaskan bahwa peran ibu sebagai pengasuh utama dalam keluarga sangat penting dalam menjaga kesehatan gigi anak.

“Ibu tidak hanya bertanggung jawab dalam menyediakan makanan dan memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga berperan dalam menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan gigi dan mulut,” jelasnya.

Menurutnya, masih banyak ibu yang belum memahami cara menyikat gigi yang benar dan belum mampu mendeteksi tanda-tanda awal karies gigi pada anak.

Solusi Permasalahan

Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat, tim pengabdian melaksanakan program pelatihan dan edukasi yang dirancang secara partisipatif dan aplikatif.

Pertama, pelatihan deteksi dini karies gigi, yang berisi materi edukatif mengenai pengenalan karies, faktor penyebab, serta pentingnya deteksi dini. Peserta juga mengikuti simulasi deteksi karies dengan menggunakan gambar dan model gigi.

Kedua, pelatihan teknik menyikat gigi yang benar, melalui demonstrasi dan praktik langsung menggunakan metode Bass atau Fones. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan leaflet serta alat peraga berupa model gigi, sikat gigi berukuran besar, dan cermin.

Ketiga, pembuatan modul edukasi sederhana berupa bahan cetak yang berisi informasi dan gambar mengenai kesehatan gigi dan mulut. Modul tersebut dapat dibawa pulang oleh peserta untuk dibaca dan dipelajari kembali.

Program ini dilaksanakan melalui pelatihan interaktif yang menggabungkan teori dan praktik dengan pendekatan partisipatif. Kegiatan berlangsung selama tiga bulan, dimulai dari tahap koordinasi dan persiapan, pelaksanaan pelatihan, hingga evaluasi hasil.

Mitra kegiatan merupakan kelompok ibu yang memiliki anak hingga usia 16 tahun dan aktif mengikuti kegiatan Posyandu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di balai desa atau lokasi yang terintegrasi dengan kegiatan Posyandu.

Kegiatan tersebut melibatkan tiga orang dosen sebagai tim pengabdian, dibantu tiga orang mahasiswa serta satu orang terapis gigi dari Puskesmas Talawaan.

Melalui program ini, para ibu diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, sehingga pencegahan karies dapat dilakukan sejak dini di lingkungan keluarga.(jla)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts