Manado, KOMENTAR.ID
Tiga Kursi, Satu Punggung, Menakar “Napas Kuda” Denny Mangala
Oleh: Pengamat Politik Pinggiran Jalan 17 Agustus
Dunia persilatan birokrasi Sulawesi Utara sedang geger. Bukan karena ada meteor jatuh, tapi karena munculnya sosok “Avatar” baru di Pemprov Sulut, Denny Mangala.
Pria yang satu ini resmi menasbihkan diri sebagai pemegang rekor MURI lokal untuk kategori “Pejabat Paling Tidak Boleh Istirahat”. Bayangkan, di satu tubuh yang fana ini, menempel tiga jabatan “dewa” sekaligus, Asisten I (otak pemerintahan), Plh Kadis Kominfo (mulut pemerintah), dan sekarang Plh Sekprov (tulang punggung pemerintah).
Publik pun bertanya-tanya sambil garuk kepala, Apakah Pak Mangala sarapan paku dan minum oli samping setiap pagi?
Kubu Sorongan beri isyarat Jurus “Ilmu Ekor” dan Sinyal WiFi Pimpinan.
Di pojok kiri, Jeffery Sorongan, pengamat yang lidahnya setajam silet cukur, langsung melempar granat opini. Bagi Sorongan, fenomena ini tidak ada hubungannya dengan kesaktian manajerial.
“Ini murni kemenangan Ilmu Ekor,” sembur Sorongan.
Menurutnya, Mangala punya kemampuan navigasi yang melebihi Google Maps. Ke mana pun Pak Gubernur (YSK) melangkah, di situ koordinat Mangala terkunci. “Ilmu ini menuntut dedikasi tingkat dewa. Pokoknya, pimpinan belum sempat batuk, dia sudah sodorkan air minum. Pimpinan baru mau menoleh, dia sudah senyum duluan. Sinyal WiFi-nya auto-connect ke Pak Gub!” sindir Sorongan.
Bagi Sorongan, ini adalah lonceng bahaya. Birokrasi yang sehat butuh teamwork, bukan one-man show. “Masa satu provinsi diurus satu orang? Nanti kalau beliau masuk angin, satu Sulut ikut kerokan?”
Namun, tunggu dulu. Jangan buru-buru menuduh Mangala sebagai anak emas yang dimanja. Di Warong Kopi Billy, Roy Saliban analis politik jalanan dengan kopi hitam pekat di tangan justru tertawa ngakak mendengar teori Sorongan.
“Ah, Sorongan itu kurang ngopi,” tukas Saliban santai. “Kalian pikir tiga jabatan itu hadiah? Itu ‘Kerja Rodi Premium’, Bos!”
Saliban mengeluarkan teori konspirasi yang lebih jenaka tapi masuk akal, Uji Nyali Fisik.
“Gubernur itu politisi licin. Dia kasih tiga beban gajah ke satu orang bukan buat dimanja, tapi buat di-stress test. Ini semacam ospek tingkat tinggi,” jelas Saliban.
Menurut Saliban, YSK mungkin sedang menguji apakah Mangala memiliki “Stamina Kuda Sumbawa”.
“Bayangkan, pagi pimpin apel, siang klarifikasi hoaks di Kominfo, sore bahas anggaran Sekprov, malam masih harus whatsapp-an sama Gubernur. Ini kalau ginjalnya bukan buatan Jerman, pasti sudah minta pensiun dini!” kelakar Saliban. “Ini cara Gubernur bilang, ‘Nih, makan tuh jabatan! Kita lihat apa kamu jadi Superman atau jadi pasien BPJS!’” canda Salibana.
Perdebatan antara “Ilmu Ekor” vs “Stamina Kuda” ini menyisakan satu pertanyaan besar bagi kita, rakyat jelata.
Apakah Pemprov Sulut sedang krisis kader hingga harus melakukan penghematan SDM ekstrim? Atau memang Pak Mangala adalah satu-satunya manusia yang mampu membelah diri menjadi tiga?
Terlepas dari apakah ini strategi “menjilat” yang sukses atau “hukuman cantik” yang melelahkan, yang jadi korban potensial tetaplah layanan publik.
Pak Mangala yang terhormat, kami salut dengan napas kuda dan punggung baja Anda. Tapi ingat, robot saja butuh maintenance, apalagi manusia. Jangan sampai karena sibuk gonta-ganti topi jabatan, urusan rakyat jadi slow response karena Bapak sedang sibuk memijat betis sendiri.
Selamat bertugas, Pak Plh Sekprov/Asisten/Kadis! Jangan lupa minum jamu kuat dan tolak angin sachet. Anda akan sangat membutuhkannya.
Menurut Anda, ini murni prestasi, “Ilmu Nempel”, atau azab berbalut nikmat jabatan?
Diskusi warong kopi jadi meriah, namun inilah masyarakat kita.
Ikuti terus Informasi kami: KOMENTAR.ID (Kritis, Kreatif, Blak-blakan)
(Editorial)






