Manado, KOMENTAR.ID
Di tengah riuh rendah media sosial yang menuntut keadilan, ada satu pemandangan yang luput dari amarah netizen. Sebuah foto yang menangkap momen sunyi di rumah duka: Dr. Aldjon Dapa, M.Pd., Dekan FIPP UNIMA, duduk terpekur di samping peti jenazah mahasiswinya.
Wajahnya tak menyiratkan arogansi kekuasaan. Kacamata itu membingkai tatapan kosong yang penuh penyesalan mendalam.
Publik mungkin menuduh adanya “pembiaran”. Namun, siapa yang tahu pergolakan batin seorang pendidik yang dikenal sebagai pejuang kaum disabilitas ini? Bayangkan betapa hancur hatinya saat mengetahui bahwa jeritan minta tolong mahasiswanya dalam bentuk surat pengaduan tak pernah mendarat di mejanya.
“Surat tersebut tidak pernah sampai kepada saya,” lirihnya. Kalimat ini bukan pembelaan diri, melainkan sebuah pengakuan jujur akan sistem yang mungkin ‘tersumbat’ di level bawah, yang membuatnya terlambat merangkul sang korban.
Dr. Aldjon tidak lari. Ia tidak bersembunyi di balik meja birokrasi saat badai kritik menghantam. Ia datang menemui jenazah, menatap wajah mahasiswi yang seharusnya ia uji proposalnya pada 6 Januari 2026 nanti. Ia mengingat tanggal itu. Ia mengingat potensi anak didiknya.
Fakta berbicara bahwa Satgas PPKPT sebenarnya sudah bergerak sejak tanggal 19 Desember. Namun, takdir berkata lain ketika pertemuan krusial tertunda karena korban rindu pulang ke kampung halaman. Itu adalah jeda waktu yang tak disangka berakhir duka, bukan sebuah kesengajaan untuk mengabaikan.
Di depan jenazah yang terbujur kaku, jabatan Dekan itu seolah luruh. Yang tersisa adalah sisi kemanusiaannya yang terluka. Dengan suara bergetar, ia menegaskan sebuah janji suci: “Cukup, jangan ada Maria-Maria lainnya.”
Ini adalah seruan perang melawan predator seksual, bukan dari seorang birokrat yang takut jabatannya hilang, tapi dari seorang bapak yang tak ingin kehilangan “anak-anaknya” lagi. Dr. Aldjon telah menunjukkan bahwa ia siap berdiri di garis depan untuk membersihkan parasit di kampusnya.
Jangan biarkan narasi kebencian menutup mata kita pada air mata tulus seorang pemimpin yang sedang berduka. Keadilan harus ditegakkan, dan Dr. Aldjon kini berdiri bersama kita untuk memastikannya.






