Manado, KOMENTAR.ID
Sempat gempar di Sulut, Pria “Cerdas” yang mengantongi “kartu kuning” di Manado melahirkan pro kontra di lingkaran netizen. Dinamika itu datang dari Brayen Paath.
Pria yang pernah viral karena reaksi kalimatnya kurang diterima masyarakat kepulauan, dinilai rasis tersampaikan melalui video akun pribadinya di media sosial.
Pria yang memang mengalami masalah mental itu sempat diamankan beberapa kali oleh pihak kepolisian, tujuannya agar meredam amarah dan mencegah timbulnya kekerasan atas ucapan-ucapan yang menyinggung perasaan netizen lainnya.
Namun, Brayen seperti aman-aman saja, karena tidak ditahan seperti keinginan Netizen yang murka terhadapnya.
Alasan tidak di tahan karena ia didapati memang mengidap masalah mental. Dan dalam proses rehabilitasi.
Proses pemulihan itu dilakukan oleh lingkaran keluarganya, dengan mengonsumsi obat khusus ia dinilai bisa bersosial dengan baik.
“Anak Kami butuh lingkungan yang sehat, ia juga akan menjadi pria yang sehat,” tutur Ayah Brayen.
Masalah kelakuan tidak mengenakan anaknnya dipicu oleh lingkaran teman yang tidak memahami kondisinya.
Diakuinya, rekaman negatif yang dipertontonkan anaknya itu datang dari kondisi Brayen tidak ada perhatian, dan berada dalam pertemanan yang salah.
“Ada yang se panas kwa dia itu” tambah Pak Frans ayah Brayen.
Berbeda dengan teman-temab kreator Manado, yang sering terlihat akrab dengan Brayen.
Menurut Ayah Brayen, teman kreator anaknya malah mendorong proses terapi, menganggap ia anak “normal” dan miliki potensi.
Banyak manfaat yang dirasakan anaknya, ketika mulai bergaul dengan Kreator Manado. Selain ia menjadi lebih populer, bakat dan minat anaknya tersalur.
“Bakat anak kami tersalur, ia sudah tidak ada pekerjaan, dari penerimaan lingkungan kreator Manado, anak kami mendapat pemasukan tambahan, dan hasilnya ia bagikan kepada kami keluarga. Walau kami tidak meminta. Ia seperti mencari jati diri,” ucap Ayah Brayen bekerja sebagai tukan pijat.
Selain itu, dinilai ayahnya, sejak aktif membuat konten bersama lingkaran kreatif, sikap anaknya menjadi lebih produktif ke arah yang lebih baik.
“Brayen timbul kerinduan untuk pulih, ia jadi rutin minum obat secara teratur, jika ada ajakan untuk tampil membuat vidio,” lanjutnya.
Sebaliknya, Brayen menjadi putus asa, bahkan mulai hilang semangat untuk minum obat sesuai takaran, jika ajakan itu tidak lagi ia dengar. Sehingga, ia yang jemput bola, memaksa teman-temannya membuat konten.
Brayen “kumat”, saat ia tidak ada aktifitas kreatif. Atau lagi jauh dari temannya yang membawa keadaan normal baginya. Begitu kata Ayah Brayen.
“Makanya, dia jadi liar kalo ba video karena dia itu so nentau mo bekeng apa,” ujarnya.
Menurut Ayah Brayen, ia malah terarah ke hal baik jika diterima dengan baik oleh orang lain.
“Saya malah merasa, teman-teman kreatorlah yang membantu kewarasan anak saya,” tutupnya.
Pernyataan di atas sangat berbeda dengan tuduhan Kreator lainnya. Seolah menggiring opini bahwa teman kreator Brayen memanfaatkan dan mengambil keuntungan, begitu sahabat baik Brayen.
“Padahal, orang yang seolah protes bersama Brayen membuat konten, mereka itulah yang sesungguhnya pansos dan menari-nari di atas kesinisan. Seolah Sulit menerima kondisi Brayen yang memang banyak bakat itu”
“Dimana mereka saat Brayen butuh teman, dan mereka seolah merdeka bahagia ketika Brayen ditimpa masalah. Terkesan membela, tapi kata-katanya mengintimidasi orang yang sedang sakit. Ini faktor kecemburuan” ucap Teman Brayen yang setia mendampinginya suka dan duka.
Permintaan Ayah Brayen sangat dalam. Ia menitip pesan, agar Masyarakat membantu menerima keadaan anaknya, yang memang dalam pemulihan. Dan mendukung minat bakatnya dalam segala keterbatasan. dan jangan menanggapi lebih jika ia lagi kumat. “Saya bermohon. Ia hanya tidak cocok dengan lingkungannya jika ia menjadi-jadi,” katay Ayahnya.
Sekarang ini, Brayen sedang dalam perawatan dan pemulihan di RS Ratubuysang.
“Mohon jangan membuat isu, pandangan negatif dengan teman2 kreator Brayen, seolah mereka biang semuanya. Inipun mereka diam-diam membantu, dan tetap menjadi teman baik Brayen”. Tutup Pak Frans di sela-sela merawat Brayen dan Istrinya yang sedang sakit sekarang.
Permohonan Maaf Ayah Brayen
Frans Edward Paath (65) sebagai Tukang pijat, Ayah dari Bryan Paath, anak tunggal (29). Memohon maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Sebagai Ayah yang sekarang ini merawat anaknya yang tidak sehat mental, sekaligus istrinya Wehelmina tutilewoeleng (62) Ibu rumah tangga yang sakit sakitan sekarang.
Mereka tinggal di kos-kosan. Saat ini Brayen mengidap Skizofrenia, begitu kata Ayahnya. Dan harus intens mendapat perawatan serius dan mengonsumsi obat rutin.
Dalam kondisi itu, Ayah Brayen pun membuat permintaan Maaf terbuka agar masyaraka memahami kondisi mereka saat ini.
***
“Saya ayah Kandung Brayen Paat. Pertama, berterima kasih kepada Ibu Hillary Brigitta Lasut, telah serius menangani kasus Anak kami.
Dan saat ini telah mendapat Layanan sesuai Kondisinya sekarang.
Brayen Sudah diamankan di Rumah pemulihan Mental, dan dalam pengobatan serius oleh pihak yang memahami sakitnya. Nginap di RS Ratumbuysang.
Kepada Masyarakat yang merasa disakiti atas ucapan Anak kami melalui videonya, mohon maaf atas prilakunya, yang memang kami orang tua ikut kecewa.
Maka, Saya sekali sebagai Orang Tua Brayen, mohon dukungan agar anak kami mendapat layanan pemulihan yang tepat. Dan memahami kondisi anak kami sekarang.
Semoga ke depan, tidak lagi merugikan perasaan orang lain.
Mohon maafkan kesalahan anak kami.”
Update Berita dan
Artikel
KOMENTAR.ID menarik lainnya di
Google News.