Manado, KOMENTAR.ID
Tragedi maut di Laut Sulawesi memicu kemarahan publik dan membuka borok pengelolaan transportasi laut di Indonesia. KM Barcelona VA, yang terbakar hebat di perairan antara Pulau Talise dan Gangga, Minahasa Utara, ternyata mengangkut penumpang lebih dari dua kali lipat manifest resmi!
Dokumen menunjukkan hanya 280 penumpang terdaftar secara sah. Namun, hasil evakuasi membuktikan sebanyak 571 orang berada di atas kapal saat api berkobar, Minggu siang, 20 Juli 2025. Selisih mencengangkan hampir 300 orang tak ada dalam manifest, tak tercatat, dan bisa saja tak dihitung jika kapal karam seluruhnya.
Humas KM Barcelona VA, Ridwan Fallugah, akhirnya angkat bicara. Bukannya membantah, dia justru mengonfirmasi:
“Ada penumpang yang sudah naik kapal tanpa beli tiket di loket… Biasanya ditagih di atas kapal,” katanya enteng, Senin 21 Juli 2025.
Lebih lanjut, ia berdalih, para penumpang kerap beralasan “kekurangan uang” atau “terdesak.” Pernyataan yang justru semakin mempertegas betapa longgarnya pengawasan di pelabuhan dan kapal.
KM Barcelona VA seharusnya hanya bisa menampung 450 penumpang. Tapi, menurut data resmi evakuasi, jumlah di atas 500. Saat ditanya apakah ini masuk kategori kelebihan muatan, jawaban Ridwan kembali mengambang:
“Kalau 500 penumpang, tentu kami rugi. Tapi kapal ini tidak serta-merta jalan. Ada pemeriksaan dari KSOP,” ucapnya.
Pertanyaannya: Kalau diperiksa, kenapa bisa lolos?
Pernyataan Ridwan justru menyeret KSOP (Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan) ke dalam pusaran masalah. Jika memang ada pemeriksaan sebelum kapal berangkat, bagaimana bisa ratusan penumpang gelap lolos naik?
Skandal ini bukan sekadar soal api. Ini tentang nyawa dan kelalaian sistemik.
Kebakaran diduga berasal dari salah satu kamar penumpang. Kepanikan pun pecah. Para penumpang, termasuk anak-anak dan lansia, melompat ke laut menyelamatkan diri tanpa pelampung memadai. Nelayan lokal menjadi pahlawan tak resmi, mengevakuasi korban di tengah kobaran api.
Total 571 orang berada di atas kapal:
3 orang meninggal dunia
2 orang masih hilang
Sisanya, termasuk kapten dan 13 ABK, selamat
Polda Sulawesi Utara langsung menetapkan kapten kapal berinisial IB sebagai tersangka.
“Benar, kapten kapal KM Barcelona VA telah ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan.
Proses hukum masih berlangsung. Namun publik menuntut lebih: bukan hanya kapten, tapi juga penyidik pelabuhan, pengelola kapal, dan pihak KSOP ikut diperiksa.
Berapa banyak kapal lain yang berlayar tanpa kontrol? Berapa banyak penumpang yang hanya angka di balik “tagihan di atas kapal”? Tragedi KM Barcelona VA adalah peringatan keras: sistem rusak, dan nyawa masyarakat dipertaruhkan tiap harinya.
[Johnla]






