Penulis: Ambrosius M. Loho, S. Fils., M. Fil. (Dosen Unika De La Salle Manado, Pegiat Seni, Seniman Kolintang)
Perbincangan seni dan sains seolah tak ada habisnya dan tak ada batasnya. Bukan karena seni dan realitas tak bisa dipisahkan, namun sangat jelas bahwa seni memang selalu menarik. Sebagaimana kita ketahui, seni didefinisikan sebagai “keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman, studi, atau observasi, atau menunjuk pada suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan atau keterampilan” (Merriam-Webster, 2020a). Seni berarti pula ekspresi pikiran dan gagasan, pengalaman dan pemahaman. Selain itu, merupakan praktik, yang melibatkan kreativitas serta cara subjek memandang dunia. Namun, untuk menjadi kreatif dalam mencipta sesuatu yang baru, dibutuhkan tingkat pengetahuan dan keahlian tertentu.
Sementara itu, sains adalah “keadaan mengetahui. Sains berarti juga sesuatu yang dapat dipelajari atau dikaji seperti pengetahuan yang sistematis, juga menunjuk kepada pengetahuan atau sistem pengetahuan yang mencakup kebenaran umum yang diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah. (Merriam-Webster, 2020b). Pendek kata, sains adalah studi yang merupakan proses memperoleh pemahaman dan menemukan kebenaran. Atau sebuah studi sistematis yang membantu subjek memperoleh pengetahuan tentang dunia. (https://edpsych.pressbooks.sunycreate.cloud/chapter/art-or-science/).
Namun demikian, pada dasarnya seni, sering dikaitkan dengan kreativitas, imajinasi, dan ekspresi estetika, termasuk juga, diperlawankan dengan sains, yang dicirikan oleh logika, observasi, dan bukti empiris. Keduanya pun memiliki sejatinya punya hubungan yang mendalam, yang melampaui perbedaan yang tampak. Bersama-sama juga, keduanya membentuk hubungan simbiosis, saling memengaruhi dan memperkaya satu dengan lainnya, dengan cara mendorong batas-batas pemahaman dan kreativitas manusia.
Disisi yang paralel, sains berusaha untuk memahami dan menjelaskan fenomena melalui observasi, eksperimen, dan analisis yang ketat, sementara itu, seni mengeksplorasi dunia melalui interpretasi subjektif, emosi, dan pengalaman indrawi. Kendati begitu, keduanya merupakan disiplin ilmu yang berada dalam bingkai yang berusaha memahami dunia dan mengomunikasikan temuan mereka kepada orang lain, dengan melalui cara yang berbeda. (https://mindthegraph.com/blog/id/what-is-the-relationship-between-art-and-sciencecn/).
Seni dan sains merupakan bagian integral dari proses subjek dalam mencipta. Proses tersebut meliputi berpikir kreatif, analitis, kritis:
Pertama, Berpikir Kreatif
Baik seni maupun sains membutuhkan pemikiran kreatif untuk menghasilkan ide, pendekatan, dan solusi baru. Seniman dan ilmuwan harus berpikir di luar kebiasaan, menantang konvensi, dan mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan inovatif.
Kedua, Berpikir Analitis
Pemikiran analitis sangat penting dalam seni dan sains. Seniman menganalisis elemen-elemen seperti komposisi, teori warna, dan bentuk untuk menciptakan karya seni yang harmonis dan berdampak. Ilmuwan menganalisis data, observasi, dan eksperimen untuk mendapatkan kesimpulan yang bermakna dan merumuskan teori.
Ketiga, Berpikir Kritis
Berpikir kritis sangat penting dalam seni dan sains. Seniman secara kritis mengevaluasi karya mereka, mencari koherensi, makna, dan dampak emosional. Ilmuwan secara kritis menganalisis temuan penelitian, mempertanyakan asumsi, dan mengevaluasi validitas teori dan hipotesis.
Akhirnya, seni dan sains sama-sama menuangkan gagasan tentang dunia, karena baik seniman maupun ilmuwan mereka tidak sepenuhnya menyalin, melainkan menafsirkan dan mengolah apa yang mereka lihat menjadi sesuatu yang bermakna dan relevan terutama bagi dunia dan manusia. (https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6362349/).***






