Bakal Jadi ‘Laskar Pelangi’ Sulut: Petani Bersahaja Ini Calonkan Diri Jadi Hukum Tua, Anaknya Siapkan Revolusi Desa Rp1,5 Miliar!

Minahasa, KOMENTAR.ID

Mesin cetak seharusnya sudah mulai bekerja, dan draf naskah telah bersiap menyapa ribuan rak buku di penjuru Nusantara. Namun, sebuah keputusan tak lazim diambil tepat di detik-detik terakhir. Heidi Kristian Repi, kandidat Doktor Manajemen Pendidikan sekaligus penulis asal Sulawesi Utara, memilih menahan laju peluncuran novel ketiganya yang bertajuk “Heski Hendom”.

Read More


Alasannya bukan soal teknis penerbitan, melainkan karena sejarah di dunia nyata tengah memanggil.


Novel otobiografi yang merekam jejak perjuangan sebuah keluarga mematahkan rantai kemiskinan melalui “Kurikulum Langit” dan pendidikan ini, sejatinya telah rampung. Namun, Dani Repi ayahanda sang penulis sekaligus tokoh sentral dalam buku tersebut secara tak terduga didaulat oleh arus bawah masyarakat untuk turun gunung mencalonkan diri sebagai Hukum Tua (Kepala Desa) Ranowangko, Kecamatan Tombariri.


Merespons dinamika tersebut, Heidi memutuskan merombak kerangka naskahnya. Ia menambahkan satu bab khusus yang akan merekam secara real-time keringat dan perjuangan sang ayah di gelanggang pemilihan.
“Pena ini terhenti sejenak, bukan karena kehabisan tinta, melainkan karena Tuhan sedang menuliskan bab pamungkas yang paling agung untuk keluarga kami dan desa ini,” ungkap Heidi dengan nada haru.


Bagi sang penulis, hasil akhir dari kotak suara bukanlah penentu nilai dari bab tersebut. Terpilih atau tidaknya sang ayah seorang petani bersahaja yang merintis kehidupan dari rumah berdinding bambu naskah ini akan menjadi rekam jejak historis. Novel ini akan menjadi saksi bisu yang kaya akan heroisme, intrik, dan ketulusan dalam sebuah proses demokrasi di tingkat desa.


Penundaan peluncuran ini tidak menggeser komitmen utama yang telah digaungkan sejak awal. Heidi menegaskan bahwa 100 persen hasil penjualan novel “Heski Hendom” akan disumbangkan sepenuhnya untuk kemajuan Desa Ranowangko.

Karya yang telah diproyeksikan masuk dalam pangkalan data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI ini tidak sekadar mengejar status literatur wajib di sekolah-sekolah, tetapi juga membawa misi ekonomi sirkular. Heidi membedah sebuah paradigma baru: membangun desa tanpa harus mengeksploitasi alam.

“Mari kita berhitung melalui kacamata ekonomi kreatif. Jika karya sastra ini menjadi referensi di 3.000 sekolah se-Sulawesi Utara, ada potensi perputaran ekonomi hingga Rp1,5 Miliar. Ini adalah murni kekuatan gagasan, sebuah pembangunan yang bisa diwujudkan tanpa harus mengeruk pasir laut atau menebang pohon,” tegasnya.

Visi besarnya adalah mereplikasi “Efek Laskar Pelangi” yang pernah mengubah wajah Pulau Belitong. Melalui sumbangsih dari buku ini, Ranowangko diproyeksikan untuk memiliki Pusat Pelatihan Ekonomi Kreatif, membangun rute Wisata Edukasi berbasis sejarah perjuangan, dan pada akhirnya menciptakan kemandirian Pendapatan Asli Desa (PADes).

Kini, publik literasi dan masyarakat Sulawesi Utara menanti dengan antusias bagaimana akhir dari perjalanan epik ini dicetak. Di balik rentetan gelar akademik dan posisi strategis yang disandangnya hari ini, Heidi menyadari betul akar keberhasilannya.

“Deretan gelar sarjana hingga doktoral yang saya raih tidak ada harganya jika disandingkan dengan peluh bapak di ladang dan doa hening ibu. Semua pencapaian itu tunduk pada lutut mereka yang melepuh karena tiada henti berdoa,” ujarnya menutup perbincangan.

Baginya, jika dari sebuah rumah bambu di atas tanah pinjaman Tuhan sanggup merenda keajaiban bagi anak-anaknya, maka masa depan Desa Ranowangko di bawah kepemimpinan yang tulus adalah sebuah kepastian.

Novel “Heski Hendom” kini bukan sekadar lembaran fiksi atau catatan masa lalu. Ia telah menjelma menjadi sebuah monumen pergerakan yang tengah bernapas, berdebar, dan menanti bab terakhirnya dituliskan oleh suara rakyat Desa Ranowangko. (Kim)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts