Minahasa, KOMENTAR.ID
Udara di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, tak hanya membawa kesejukan khas dataran tinggi, tetapi juga membawa aroma tanah basah yang sarat akan harapan. Di tengah rimbunnya pepohonan dan kontur tanah yang menantang, sebuah revolusi sunyi sedang terjadi. Bukan dengan senjata, melainkan dengan cangkul, parang, dan semangat gotong royong yang membara.
Di sanalah Kelompok Tani “Suka Maju” berdiri. Dipimpin oleh sosok penggerak, Dani Repi, puluhan petani ini turun ke lahan dengan mengenakan seragam kebanggaan mereka. Wajah-wajah yang terbakar matahari itu tak menampakkan kelelahan; sebaliknya, ada pancaran tekad yang kuat. Mereka bukan sekadar menggarap tanah, mereka sedang merawat napas kehidupan bangsa.
Pemandangan di Desa Ranowangko ini adalah manifestasi nyata dari visi besar Tani Merdeka Indonesia. Sebagai organisasi masyarakat yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan pahlawan pangan, apa yang terjadi di bawah komando Dani Repi adalah terjemahan paling murni dari arahan Presiden mengenai swasembada pangan nasional.
Bagi kelompok “Suka Maju”, kemandirian pangan bukanlah sebuah jargon politik yang menggema di ibu kota, melainkan tugas suci yang harus dieksekusi di atas tanah basah desa mereka. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek teknis pertanian, tetapi juga membangkitkan kembali Mapalus roh gotong royong warisan leluhur Minahasa. Mereka menyadari bahwa untuk mengubah nasib dan menekan biaya produksi, mereka tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Jejak Keringat yang Menjadi Inspirasi
Melihat kekompakan mereka melangkah bersama membelah semak dan belukar, ada emosi yang mengalir kuat. Setiap ayunan parang adalah perlawanan terhadap kemiskinan; setiap benih yang ditanam adalah doa untuk masa depan anak cucu yang lebih baik. Dani Repi telah berhasil mengubah sekumpulan individu menjadi sebuah keluarga besar yang memiliki satu tujuan: maju dan sejahtera bersama.
Gerakan ini mengirimkan pesan yang sangat kuat bagi seluruh negeri. Ketika sebuah komunitas akar rumput bersatu, diorganisir dengan baik, dan memiliki tujuan yang sejalan dengan cita-cita negara, maka tidak ada lahan yang terlalu keras untuk ditaklukkan.
Kelompok Tani “Suka Maju” membuktikan bahwa kedaulatan pangan Indonesia tidak akan terwujud dari meja-meja konferensi yang megah, melainkan lahir dari telapak tangan yang kasar, seragam yang berdebu, dan tetesan keringat para petani di desa-desa seperti Ranowangko. Mereka adalah benteng pertahanan terakhir, sekaligus ujung tombak kesejahteraan negeri ini.






