Di Balik Video Viral, Keringat, Fitnah, dan Ketegaran Lucky Senduk Menata Pasar Manado

Manado, KOMENTAR.ID

Sebuah video beredar luas, memotong realita menjadi kepingan fitnah. Di dalamnya, Direktur Utama Perumda Pasar Manado, Lucky Senduk, dituduh mabuk saat bertugas. Namun, bagi mereka yang paham kondisi lapangan, video tersebut menceritakan kisah yang jauh berbeda: kisah tentang lelah, keringat, dan risiko menertibkan ketidakterturan yang telah mengakar.

Read More

Bukan Mabuk, Tapi Lelah dan Khas Suara
Fakta di lapangan berbicara lain. Sudah dua bulan terakhir, jajaran Direksi perumda Pasar Manado melakukan inspeksi rutin, turun langsung ke “medan perang” untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat. Masalahnya jelas: pedagang liar yang menjamur dan aktivitas eceran di area bongkar muat yang memicu kesemrawutan.


Di tengah hiruk pikuk pasar, di bawah terik matahari dan debu, Lucky Senduk hadir dengan tampilan sederhana. Gaya bicaranya yang khas suara lantang dengan logat Tionghoa Manado yang kental kerap disalahartikan oleh mereka yang tidak mengenalnya, atau sengaja ingin menjatuhkannya.

“Ini murni serangan karakter. Pak Dirut turun menertibkan, bukan jalan-jalan. Ketika aturan ditegakkan, wajar ada pihak yang merasa terganggu dan mencoba menyerang balik dengan cara tidak ksatria, yakni merekam diam-diam dan memelintir narasi,” ungkap salah satu saksi di lokasi yang enggan disebutkan namanya. Indikasi bahwa video ini adalah “settingan” politik untuk membunuh karakter sang Dirut semakin kuat terlihat dari bagaimana video tersebut dipotong tanpa konteks.

Video tersebut tidak merekam bagaimana Lucky Senduk berpeluh mengatur pedagang agar semua mendapat hak yang adil. Video itu hanya menyorot momen yang bisa dijadikan bahan olokan. Publik digiring untuk mem-bully seorang ayah, seorang suami, dan seorang pemimpin yang sedang bekerja keras.

“Ingat Karma” Menanggapi viralnya fitnah keji ini, tokoh masyarakat Roy Salibana memberikan pandangan yang menyejukkan sekaligus menohok hati nurani. Ia mengingatkan bahwa di balik sosok pejabat, ada manusia biasa yang memiliki keluarga.

“Semua orang pasti tidak ingin keluarganya dibuat seperti itu. Memfitnah orang yang sedang bekerja mencari nafkah dan mengabdi adalah tindakan yang sangat keji,” ujar Roy.

Lebih lanjut, Roy memberikan pesan religius yang mendalam bagi para penyebar kebencian. “Tuhan tidak tidur. Karma akan balik berlipat ganda bagi para pembenci. Kita boleh tidak suka dengan kebijakan, tapi jangan menyerang pribadi dengan fitnah. Bayangkan jika ayah atau suami kalian yang diperlakukan seperti itu di depan umum saat sedang bekerja,” tegasnya.

Kejadian ini menjadi cermin bagi warga Manado. Apakah kita akan menjadi masyarakat yang mudah diadu domba oleh potongan video tanpa konteks? Ataukah kita mampu melihat dengan mata hati, menghargai pemimpin yang berani kotor dan turun ke lapangan demi pasar yang lebih tertib?

Fitnah mungkin bisa berlari cepat, namun kebenaran dan ketulusan pengabdian pada akhirnya akan sampai ke garis finis.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts