Imigrasi Bobol, Ribuan ‘Tarzan’ Mata Sipit Gentayangan di Ratatotok

Ratatotok, KOMENTAR.ID

Tambang Alason kembali berdarah-darah. Sempat dihebohkan dengan insiden pembunuhan warga negara China Wang Zanbiao yang dihantam bucket excavator tahun 2022 silam, kali ini kembali digemparkan dengan tindakan penembakan warga Basaan yang dilakukan Brimob.

Masih di lokasi tambang ilegal milik Sie You Ho, warga Negara China yang diberi karpet merah oleh Polri di wilayah tambang emas ilegal.

Dua peristiwa kematian tragis di lokasi tambang milik WNA China itu membuka tabir keberadaan ribuan WNA China yang gentayangan seantero Ratatotok dengan gaya komunikasi mirip Tarzan di film-film. Ribuan Tarzan mata sipit ini membobol pertahanan Imigrasi Indonesia sehingga bebas berkeliaran di Huta Ratatotok.

“Di Ratatotok, WNA China bukan lagi ratusan, tapi ribuan orang. Mereka tinggal di hotel-hotel dan kos-kosan. Kebanyakan investor tambang dan teknisi. Sejatnya mereka itu datang dengan status turis tapi kemudian mendapat surat kerja dari pemerintah,” ujar sumber resmi KOMENTAR.ID yang dipercayakan pengusaha menjaga pertambangan tanpa izin (PETI) di wilayah Alason.

Sumber itu menjelaskan, karakter dan pola komunikasi termasuk cara bereaksi ribuan WNA China ini sungguh mirip tarzan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tarzan dimengerti sebagai seorang tokoh dalam cerita petualangan yang sangat kuat dan pemberani.

“Mereka sangat berani menghadapi pekerja lokal dan kuat bekerja. Cekatan melarikan diri dari Alason ke Buyat jika ada informasi sidak dari Imigrasi. Komunikasi mereka dengan warga Mitra, pakai bahasa isyarat. Main jari-jari. Yah pokoknya mirip film tarzan,” jelas pria tersebut.

Ribuan Tarzan mata sipit ini punya andil beras memajukan tambang ilegal baik yang didanai WNA China termasuk Singapura maupun investor lokal.

“Katanya visa turis, punya surat izin kerja, tapi kerjanya di tambang rakyat, tambang ilegal atau PETI. Undang-undang apa yang mengatur itu?,” kritik Harianto, aktivis Sulut, Selasa siang di Manado.

Diapun mempertanyakan kinerja pengawasan Imigrasi Manado dan Polda Sulut pun Polres Mitra.

“Ini masalah kedaulatan NKRI. Kami akan mengadu ke Menkopolhukam RI dan Bareskrim Polri,” tegas Harianto.

Mengenai status penembakan warga Basaan di PETI Alason milik Yuho, Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Michael Thamsil mengatakan bahwa pihak Propam Polda Sulut telah turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan lanjut terkait informasi keterlibatan anggota pada kasus ini.

 “Pak Kapolda Sulut sudah memerintahkan Kabid Propam untuk melakukan penyelidikan dan upaya-upaya lainnya,” jelasnya.

Thamsil memastikan jika benar ada keterlibatan anggota pada peristiwa tewasnya warga ini, dipastikan akan di proses hukum. 

“Jadi jika hasil penyelidikan ada keterlibatan personil Polri, akan ditindak sesuai ketentuan yang ada,” jelasnya.

Sangat disayangkan keberadaan personil Brimob Polda Sulut dilokasi tambang emas ilegal yang bahkan dikelola oleh WNA asal China ini.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada penjelasan resmi dari Polda Sulut terkait keberadaan personil Brimob Polda Sulut dilokasi tambang emas ilegal tersebut.

Sementara itu, Wakapolda Sulut, Brigjen Pol Bahagia Dachi mengatakan bahwa Propam Polda Sulut telah dikerahkan untuk menyelidiki kasus tersebut.

“Saat ini, kami dalam proses penyelidikan, karena semua sudah diambil alih oleh Polda Sulut untuk proses secara hukum,” kata Bahagia Dachi mengimbau masyarakat untuk menyerahkan dan mempercayakan proses hukum tersebut kepada pihak kepolisian dan tidak bertindak anarkis setelah kejadian tersebut.

Dachi mengklaim polisi udah bertemu dengan pihak keluarga korban dan meminta maaf.

“Kami sudah bertemu dengan keluarga korban di ruang jenazah dan atas nama Kapolda Sulut kami meminta maaf,” ungkapnya. (kim)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts