Manado, KOMENTAR.ID
Wali Kota Manado, Andrei Angouw, kini tengah menghadapi sorotan tajam terkait dua keputusan sensasional, selama menjabat dinilai “hobi” bikin kontroversial. Pertama, soal logo HUT Kota Manado ke-400 tahun dan pernah ramai diperbincangkan di media sosial. Beberapa kalangan menilai gambar mata tersebut terlalu identik dengan simbol partai tertentu. Meski demikian, panitia acara memberikan penjelasan bahwa mata itu melambangkan kewaspadaan kota yang harus terus bergerak maju tanpa lengah.
Rekam catatan pemberitaan, Akademisi Alfons Kimbal dari Unsrat pun berkomentar bijak bahwa gambar mata itu lebih merepresentasikan visi Walikota dan Wakil Walikota Manado dalam membangun kota yang lebih baik. “Mata bisa saja diartikan sebagai visi untuk kota Manado yang terus berkembang dan tidak tertidur dalam menghadapi tantangan,” ujarnya.
Namun, sensasi tidak berhenti di sana. Keputusan kedua yang memicu kontroversi adalah pemindahan patung Pahlawan Nasional GSSJ Ratulangi dari lokasi asalnya di perempatan Ranotana menuju Bandara Sam Ratulangi. Banyak yang merasa bahwa keputusan ini merusak nilai historis patung tersebut yang sudah berdiri sejak 1970-an dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas lokal.
Sejumlah pihak menilai bahwa kedua langkah ini—baik dalam desain logo maupun kebijakan pemindahan patung—terlalu dipengaruhi oleh strategi politik yang dapat menimbulkan perpecahan, baik di kalangan masyarakat maupun dalam penilaian terhadap kepemimpinan Andre Angouw. Di satu sisi, Angouw dianggap terlalu “berani” dalam membuat gebrakan, namun di sisi lain, kritik tajam muncul karena minimnya ruang dialog publik dalam proses pengambilan keputusan.
Apakah ini bentuk inovasi atau justru terlalu terburu-buru? Masyarakat Manado, melalui berbagai kalangan, tampaknya semakin vokal dalam menyuarakan pendapat mereka.






