Survei PDIP Manado Bikin Kubu PAHAM ‘Jantungan’

0
201

Ilustrasi jantungan. Foto: Google

Manado, KOMENTAR.ID
Kubu pasangan calon Walikota – Wakil Walikota Manado Julyetha Paulina Amelia Runtuwene – Harley Benfica Alfredo Mangindaan (JPAR-Ai) baru saja menerima hasil survei berupa simulasi 4 paslon, Rabu (2/10). Hasil survei itu menempatkan JPAR-Ai tertinggi dengan torehan 39,5 persen. Menyusul paslon peringkat kedua 27,3 persen, peringkat ketiga 20,3 persen, dan peringkat terakhir 8,0 persen.
Beberapa saat setelah paslon dengan jargon PAHAM merilis hasil survei Indo Barometer, kubu PDIP menyusul dengan survei Indonesia Observer. Menariknya survei ini menempatkan pasangan Andre Angouw – Richard Sualang (AA-RS) di atas angin dengan, dengan perolehan 39,1 persen.
Angka tersebut berdasarkan hasil survei opini publik jelang Pilkada Kota Manado 2020 yang dibeber Indonesian Observer, Kamis (03/12) sore, di Tondano Room Hotel Swisbell.
“39,1 persen tersebut mengalami kenaikan tipis dari hasil survei Oktober 2020 sebesar 38,9 persen,” ujar Andre Mongdong, peneliti Indonesian Observer.
Sementara, paslon nomor urut 2 Sonya Selviana Kembuan-Syraifudin Saafa (SSK-S2) 9,7 persen mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya 6,3 persen. Paslon nomor urut 3 Mor Bastiaan-Hanny Joost Pajouw (Mor-HJP) 20,6 persen. Pasangan ini mengalami penurunan dibandingkan survei sebelumnya 25,9 persen.
Selanjutnya, paslon Paulina Julyeta Runtuwene-Harley Mangindaan (Paham) memperoleh 24,1 persen suara, mengalami kenaikkan dibandingkan survei sebelumnya yang hanya 18,2 persen.
Kontan survei pesanan PDIP ini bikin kubu PAHAM jantungan. “Survei itu bikin kaget orang. Baru kemarin PAHAM unggul jauh. Hari ini AA-RS di atas,” ujar Charles, salah satu tim kerja JPAR-Ai, di Manado, Jumat (4/12). 
Pengamat politik dan pemerintahan Fredy B Sumual SIP mengatakan, tendensi balas pantun dengan survei itu sudah lasim di medan kompetisi Pilkada. Bahkan hasil survei entah benar atau tidak, menjadi instrumen untuk meyakinkan publik mengenai elektabilitas kandidat. 
“Survei sekarang kebanyakan bukan lagi alat untuk menakar elektabilitas kandidat. Tapi lebih pada unjuk kekuatan untuk mempengaruhi pemilih abu-abu. Surveyor gampang dijinakan dengan kepentingan politik. Tekanan kinerjanya lebih pada kecermatan mengisi angka-angka di depan layar komputer,” jelas Sumual. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here