SMABIT Menuju Sekolah Digital

0
Kepala SMAN 2 Bitung Dr Dems Tandayu (putih) bersama Ketua Komite Masri Kere SE (merah).

Bitung, KOMENTAR.ID

Tenaga pendidik, apa terlebih kalangan siswa dituntut melek teknologi dan beradaptasi dengan transformasi kegiatan belajar mengajar dari offline menjadi online.

Salah satu visi Indonesia 2045 adalah mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, caranya antara lain melalui pembangunan SDM serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Oleh karena itu, SMAN 2 Bitung tidak ingin menjadi penonton di era perkembangan pesat teknologi digital saat ini, namun terpanggil untuk hadir (eksis) mempersiapkan diri menjadi sebuah sekolah yang berbasis digital,” papar Dr Dems Reinerd Tandaju SPd MAP, Kepala Sekolah SMA N 2 Bitung dalam diskusi ringan, Kamis (19/01/2023) kemarin.

Sebab itu, lanjut Tandaju, sehubungan upaya mensinergikan transformasi digital pendidikan yang dipahami sebagai sebuah proses perubahan pola pikir manusia dalam pembelajaran dari cara tradisional ke teknologi digital, maka pihaknya sangat menseriusinya. Apa terlebih kedudukan SMAN2 Bitung (SMABIT) yang berada di Kota Bitung yang selama ini sudah mengklaim diri sebagai “Bitung Kota Digital” jelas realisasi atas harapan tersebut harus dan terus digenjot.

“Kita tahu bersama belum lama ini Walikota Bitung Ir Maurits Mantiri MM baru saja melakukan kerjasama dengan pihak Google Indonesia, khususnya di bidang pendidikan. So pasti ini gebrakan sekaligus terobosan hebat Pemkot Bitung bagi dunia pendidikan di kota ini,” tambah Tandaju yang dalam diskusi bersama media ini turut didampingi Masri Kere SE, selaku Ketua Komite SMAN 2 Bitung.

Atas kerja-kerja ini, hal kesiapan transformasi digital pendidikan yang terintegrasi dengan Platform Merdeka Belajar (PMB) sejauh ini sudah disimulasikan lingkup SMABIT.

Kesemuanya dimulai dari bagaimana panggilan untuk berinovasi di bidang IT. Selebihnya disadari bahwa perkembangan IT tidak bisa diabaikan mengingat IT sudah menjadi kebutuhan masyarakat belakangan ini.

“Ini yang menjadi trigger bagi saya selaku penanggung jawab di sini (SMABIT), semisal system layanan literasi digital, e-raport, PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) via digitalisasi, hinga terkait absensi yang mulai menggunakan Scan Barcode yang dimiliki setiap guru maupun siswa sudah mulai diterapkan. Sekedar diketahui untuk kesiapan Literasi Digital (perpustakaan digital) saat ini di SMABIT mengoleksi sekira 2000-an buku yang mayoritas materi meliputi bahan ajar dan buku-buku lainnya berupa karya tulis dan majalah pendidikan. Selain itu, kami di SMABIT baru saja melakukan rancang bangun menghadirkan fasilitas LCD, CCTV dilengkapi speaker yang mencakup seluruh kelas yang ada dimana di SMABIT memiliki 39 kelas. Sejauh ini pengadaan fasilitas tersebut sudah mencapai 80 persen,” aku Tandayu.

Selain itu, saat ini pihaknya bersama Komite Sekolah sedang mempersiapkan proposal pembuatan ruang broadcosting. Tujuannya menghadirkan fasilitas ini tak lain untuk mengajar praktik baik digunakan untuk ajang membagi pengalamaman (sharing) lewat media IT dan disebarkan via live streaming.

“Khususnya penerapan Platform Merdeka Belajar (PMB) buah kerjasama Pemkot Bitung dengan Google Indonesia di mana bertujuan memfasilitasi kemudahan memanfaatkan produk Google dalam rangka percepatan peningkatan akses informasi bagi guru maupun siswa, sejauh ini SMABIT sudah mengantisipasinya sejauh tahun 2021 diawali dengan mempersiapkan SDM tenaga pendidik. Artinya SDM dan infrastrukturnya seperti laboratorium komputer sudah ready, yang pada gilirannya siap dioperasikan lewat aplikasi yang nantinya disiapkan Pemkot Bitung demi mempermudah akses informasi pendidikan,” papar Tandaju.

Dalam hal penguasaan penyusunan E Raport, SMABIT sejauh ini dinyatakan dalam keadaan siap. Diketahui, E-Rapor adalah sebuah sistem aplikasi berbasis web yang di harapkan dapat mengubah pola kerja guru dari pola manual ke pola digital. E-Rapor dapat mempermudah guru dalam melakukan penilaian siswa, bahkan sampai ke pencetakan rapor dan evaluasi nilai hasil belajar siswa.
“Tanpa bermaksud melebihkan dunia digital saat ini benar-benar oleh sekolah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk apa SMABIT sebagai Sekolah Digital masih harus bekerja manual. Berikutnya, kesiapan penerapan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) segera Online, SMABIT sudah dalam keadaan siap. Bahkan hal ini sudah kami sempat simulasikan beberapa kali. Bilamana kemudian ke depan semisal pihak Diknas Propinsi lambat menyiapan PPDB, SMABIT sudah punya dan siap dioperasikan seketika. Secara umum mau disampaikan bahwa dari system absensi kehadiran seperti fingerprint kini di skolah kami sudah bermutasi ke abensi scan barcode, pun setoran Komite, seketika bisa terpantau para orang tua siswa via laporan media Whatsapp. Sebagian besar inovasi kesiapan aplikasi ini sudah terkoneksi pada Portaldik,” bebernya seraya mengungkapkan bahwa, di dalamnya juga sudah disiapkan aplikasi yang bisa mengukur potensi siswa (assessment potensi anak) dalam hal minat dan bakatnya sudah disiapkan dalam 1 fitur yang ada pada Portaldik.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Komite SMABIT Masri Kere SE, ikut menimpali, dikatakannya bahwa dari kesemua upaya yang dilakukan sekolah sejauh ini mengindikasikan bahwa semua pihak, guru, siswa dan orang tua siswa sudah sewajarnya memberikan perhatian khusus pada pendidikan dan penguasaan teknologi digital.

“Terkait ini, para guru diharuskan untuk cepat beradaptasi dan memaksimalkan penggunaan teknologi agar pembelajaran menjadi menyenangkan,” kata Dia.

Transformasi digital, papar Kere dalam pendidikan adalah sebuah kebutuhan. Lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi tidak bisa lepas dari digitalisasi. Teknologi yang berkembang pesat, mengubah “cara mendapatkan pengetahuan” dan “menyampaikan pengetahuan” dalam proses pembelajaran.

“Pada zaman dahulu, para siswa atau peserta didik mendapatkan ilmu pengetahuan sebatas dari materi yang disampaikan oleh guru di dalam kelas. Guru menyampaikan materi, murid mendengarkan, dan kadang mencatat apa yang disampaikan. Namun, di era digital, siswa bisa mendapatkan (ilmu) pengetahuan dari mana saja, misalnya dari internet. Dengan hadirnya internet menjadikan dunia dalam genggaman. Hal ini merupakan realitas yang harus dipahami bersama. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan sebuah proses pendidikan yang bisa membawa siswa siap memasuki era digital,” paparnya.

[kid/***]