WAJIB TAHU, Ini 3 Wilayah Paling Tinggi Kasus TBC di Kabupaten Minahasa Utara

Minut, KOMENTAR.ID

Meski gaungnya seperti kurang kedengaran di publik, namun siapa sangka kalau Kabupaten Minahasa Utara (Minut) juga mengoleksi kasus tuborcolosis atau TBC yang cukup tinggi.

Data yang dihimpun komentar.id menyebutkan jika jumlah kasus TBC di Kabupaten Minut tahun 2022 kemarin menyentuh angka 467.

Jumlah ini meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni hanya 371 kasus.

Adapun 3 wilayah dengan kasus TBC yang paling mencolok ialah Airmadidi dengan 55 kasus, Kolongan 53 kasus serta Kauditan 49 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minut dr Stella Safitri MKes, melalui Wasor TBC/Kusta, Youla Mamesah, membenarkan hal ini.

“Ya, memang ada peningkatan kasus. Namun, apabila diakumulasikan untuk lima tahun terakhir, sebetulnya kasus TB di Minut terbilang stagnan,” kata Mamesah, belum lama ini.

Meski begitu, kata dia lagi, bukan berarti pihaknya tidak serius menyikapi hal ini. Sebaliknya, sosialisasi serta edukasi terus dilakukan guna menghindarkan warga dari teror penyakit yang identik dengan batuk berdahak ini.

“Kita sudah bentuk tim yang mana di setiap Puskesmas plus empat rumah sakit yang ada di Kabupaten Minahasa Utara ini, sudah ada petugas khusus yang konsen di masalah TB mulai dari sosialisasi hingga edukasi,” bebernya.

“Dan khusus untuk wilayah yang kasusnya tinggi, kita perhatian lebih,” tambahnya.

Di samping itu, sudah ada juga 4 fasilitas kesehatan (Faskes) yang terdiri dari 3 Puskesmas dan 1 rumah sakit yang memiliki alat tes cepat molekuler (TCM).

“Nah, dengan adanya TCM ini, investigasi terhadap kasus TB akan semakin mudah dilakukan. Dengan begitu, intervensinya pun bisa lebih cepat,” sebutnya sembari menambahkan, 4 Faskes tersebut yakni Puskesmas Airmadidi, Puskesmas Tatelu, Puskesmas Likupang serta RS Maria Walanda Maramis.

Sebelumnya, dr Stella menyebutkan kalau obat-obatan khusus pasien TB sudah ready di dinas. Menurut dia, hal ini semakin memudahkan tim dalam melakukan penanganan ketika ada kasus baru.

“Jadi, ketika ada kasus baru, kita langsung intervensi karena obatnya sudah ready di kita,” ujar dr Stella.

Karenanya, ia juga berharap peran aktif masyarakat dalam menekan penyebaran kasus TBC.

“Kalau sudah ada gejala seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, segera lakukan pemeriksaan sehingga boleh di ambil langkah lebih awal,” pintanya sembari menyebutkan, pengobatan TBC tidak dikenakan biaya.

Sekadar diketahui, TBC merupakan penyakit yang menular dan pengobatannya memerlukan waktu cukup lama yakni kisaran 6 bulan hingga 2 tahun. Untuk meminimalisir penyakit ini, cukup dengan konsisten menjaga pola hidup sehat.

[***/ein]

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts