Transparansi sebagai Ibadah, Menata Ulang Tubuh Kristus di Minahasa

Manado, KOMENTAR.ID

Oleh: Dr.(Cand) Heidi Kristian Repi, S.Pd.,Gr.,M.Pd.

Read More


Dalam sejarah gereja, tidak sedikit momen krisis justru menjadi pintu masuk bagi pembaruan yang mendalam. Dari sinode-sinode awal yang bergumul dengan identitas iman, hingga Reformasi yang menggugah struktur, gereja selalu punya ruang untuk bertumbuh—bukan
dari kekuatan, tetapi dari keberanian mengakui kelemahan.

Akhir- akhir ini, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut spiritual masyarakat Minahasa, dihadapkan pada tantangan yang tak kecil: dugaan penyalahgunaan dana hibah. Bagi sebagian orang, ini bisa terasa seperti
guncangan. Tapi dalam terang iman, kita tahu bahwa apa yang digoncang bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk disucikan.

Kita perlu melihat lebih dalam, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memahami. Sebab akar masalah dalam lembaga keagamaan seringkali tidak terletak pada satu pribadi atau peristiwa, melainkan pada sistem yang secara perlahan menjauh dari semangat awalnya.

GMIM dibangun di atas semangat pelayanan dan pengorbanan. Kini, gereja memiliki kesempatan langka untuk kembali ke titik itu—bukan dengan membangun tembok pembelaan, tetapi jembatan kepercayaan. Dan jembatan itu bernama transparansi.

Mengapa transparansi penting?
Karena di balik angka dan laporan, ada harapan umat. Ada ibu-ibu yang mempersembahkan dari hasil kebun, pemuda-pemudi yang melayani dengan semangat, lansia yang menyisihkan
rupiah demi rupiah untuk pelayanan. Transparansi bukan sekadar administrasi—ia adalah bentuk penghormatan terhadap iman jemaat.

Seperti tubuh yang sehat harus jujur pada rasa sakitnya, GMIM juga diajak untuk tidak menyembunyikan luka. Justru, pengakuan itulah yang membuka jalan kesembuhan. Dalam bahasa teologi, ini disebut kenosis—pengosongan diri. Bukan melemahkan, tapi memurnikan.

Mari kita renungkan: apakah gereja takut terlihat lemah? Bukankah kekuatan sejati justru lahir dari kerendahan hati? Yesus, yang adalah Sang Kepala Gereja, memilih jalan salib, bukan singgasana. Dan mungkin inilah saatnya GMIM juga memilih jalan salib akuntabilitas—karena itulah bentuk ibadah tertinggi di masa ini.

Kita tidak sedang mencari kambing hitam. Kita sedang mencari terang. Dan terang itu tidak bisa lahir dari ruang tertutup. Ia butuh jendela—butuh keberanian untuk membuka diri. Bila tubuh Kristus adalah kita bersama, maka tugas menata ulangnya bukan milik satu pihak, tetapi milik seluruh umat.

Mungkin inilah saatnya kita semua—baik pemimpin gereja, pelayan, maupun jemaat
berhenti sejenak. Merenung. Dan bersama berkata: “Tuhan, bersihkan rumah-Mu, mulai dari kami.”

Jika GMIM mampu melalui ini bukan dengan membela diri, melainkan dengan membenahi diri, maka sejarah tidak akan mencatat skandal. Sejarah akan mencatat kebangkitan.

Dan bukankah itu lebih indah?

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts