Minut, KOMENTAR.ID
Pernyataan External Relation Department (ERD) Head PT MSM, Hery Rumondor, yang mengatakan kondisi sungai di Marawuwung akibat cuaca dan imbas hujan lebat membuat geram warga sekitar areal tambang. Warga meminta Rumondor turun lokasi dan menyaksikan langsung kondisi sungai imbas eksplorasi tambang Marawuwung yang merupakan pengembangan PT Meares Soputan Mining (MSM). Bukan malah bersilat lidah. Sungai Marawuwung tampak begitu pekat dan menguning akibat lumpur eksplorasi yang terseret air.
“Jangan hanya bicara soal upaya pembangunan kontrol erosi atau menyalahkan curah hujan sebagai alasan. Kami ingin kepastian bahwa lingkungan dan kehidupan kami tidak dirusak oleh pertambangan,” tantang warga Marawuwung.
Rencana pengembangan tambang PT MSM di Marawuwung secara umum memang mendapat penolakan keras dari warga setempat. Penolakan tejadi lantaran dampak eksplorasi sudah mulai menyasar ternak warga sekitar. Khawatir pertambangan di wilayah tersebut akan mengalami nasib serupa dengan Tokatindung, di mana hingga kini masih terjadi aksi protes dari masyarakat terdampak, warga meminta rencana pengembangan dihentikan.
Warga menegaskan bahwa penolakan tambang Marawuwung harus sejak dini, bahkan sebelum eksploitasi dimulai.
“Kami tidak ingin Marawuwung menjadi seperti Tokatindung. Kami menilai Sampai tahun 2025, buktinya warga sekitar masih turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan mereka,” ujar Djenly Ketua Investigasi Forum Peduli Lingkungan Minahasa Utara.
Salah satu warga tampak memosting seekor ternak sapi yang kena dampak eksplorasi kemudian meminum air dari sungai yang terkontaminasi aktivitas pertambangan di Tokatindung. Dia khawatir kejadian itu akang terulang atau menyerang ternak warga Marawuwung.
“Ternak saya sudah tidak mau lagi minum air di sungai di Tokatindung. Akibat terkontaminasi aktivitas pertambangan yang tidak sesuai standar. Janga sampai masalah yang sama terulang di Marawuwung,” ungkap salah satu warga sambil menunjukkan kondisi seekor sapi yang kekurusan karena minum air sungai yang tercemar tambang MSM di Tokatindung dulu.
Lebih lanjut, warga menilai keberadaan PT MSM dan PT TTN selama ini tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. “Kalau memang membawa kesejahteraan, kenapa demo penolakan masih terus terjadi?” tegas salah satu warga sekitar.
Aksi ini menunjukkan semakin kuatnya resistensi masyarakat terhadap ekspansi pertambangan di Minahasa Utara, terutama di wilayah-wilayah yang dinilai rawan dampak lingkungan.
Warga pun meminta pemerintah daerah dan pihak terkait untuk segera turun tangan dan memastikan hak-hak masyarakat tidak terabaikan. (kim)






