Sosok Advokat Muda Corri ‘Yuyu’ Sofiani Sengkey

Adv. Corri Sofiani Sengkey, S.H.

Manado, KOMENTAR.ID – Corri Sofiani Sengkey, sosok perempuan yang berkarier di dunia hukum menjadi Pengacara/ Advokat. Pekerjaan ini begitu menarik dengan tantangan dan resiko tinggi untuk perempuan. berkarier sejak usia muda Corri sudah menjadi aktivis dan konsentrasi dalam penangan banyak perkara yang bersentuhan dengan masyarakat miskin dan buta hukum dalam mencari keadilan .

“Saat ini Corri atau akrab di sapa Yuyu aktif dalam kegiatan kegiatan kemanusiaan, juga terlibat aktif dalam penanganan kasus kasus pelanggaran HAM, memberi Perlindungan, pendampingan terhadap Perempuan dan anak dalam kasus sensitif terutama pada korban korban kekerasan seksual, mendampingi dan mengawal kasus Agraria,” ungkap Advokat. Corri Sofiani Sengkey, Sabtu (22/8/2026) ketika diwawancarai awak media ini.

Corri Sofiani Sengkey lahir di kota Palu, Sulawesi Tengah, berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh di pesisir menjadi alasan Corri untuk tetap menjadi pribadi yang sederhana dan tetap terbuka untuk banyak kalangan. “Saya sadar dari mana saya berasal” ungkap Corri dengan senyum.

Nama : Corri sofiani Sengkey

Tempat Tanggal Lahir : Palu, 27 Juni 1992

Hobby : Membaca, Berdiskusi, Bercocok Tanam, dan masak beraneka macam kuliner dan kue

“Berkarier menjadi Advokat/ Pengacara merupakan panggilan sebuah jiwa untuk melayani masyarakat terutama terhadap masyarakat miskin buta hukum dan tertindas yang susah mendapatkan akses keadilan.Dorongan orang tua juga menjadi doa dan motivasi utama,” sambung Advokat Corri Sofiani Sengkey.

Sebagai salah satu Pengacara perempuan termuda di Sulawesi Utara, Corri dikenal sangat vokal berani, tegas, dan komunikatif. Dalam dunia hukum, sifat vokal ini bentuk ketangguhan dan gigih dalam advokasi hukum.

Hingga saat ini Corri masih aktif memberi diri mendampingi korban kekerasan seksual perempuan dan anak, juga kasus pelanggaran HAM.

Advokat Corri Sofiani Sengkey pun vokal memperjuangkan hak Agraris masyarakat adat dan masyarakat miskin. Maka tak jarang bersama masyarakat Corri di temui berdiskusi dan memberi edukasi.

“Sebagai Aktivis agraria, tentunya aktif memperjuangkan hak agraris masyarakat adat dan masyarakat miskin kota. Seperti menolak reklamasi menolak pencemaran lingkungan dan perampasan hak atas tanah karena hal itu sangat merugikan Masyarakat ,” ungkap Perempuan yang miliki garis keturunan berdarah Tionghoa, Bantik dan Sanger (Kepl.di Sulut), kesehariannya akrab dipanggil ‘Yuyu” itu adalah panggilan sayang dalam suku Bantik yang berarti putri kesayangan, perempuan yang sangat disayangi.

Dan ‘Yuyu’ sendiri berarti Giok dalam budaya Tiongkok menyimbolkan kemurnian, keindahan, keanggunan, dan keberuntungan.

(Serly Tasiam)

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts