Renungan Katolik Minggu Prapaskah IV, 30 Maret 2025

“Pulanglah, Bapa Menantimu.”

Bacaan-bacaan:

Bacaan I         : Yos. 5:9a.10-12

Bacaan II        : Kor. 5:27-21

Bacaan Injil    : Luk. 15:1-3.11-32

Beberapa hari ini, tentu kita sudah tidak asing lagi melihat banyak orang sedang sibuk menjalankan tradisi mudik menjelang Hari Raya Lebaran. Tradisi pulang ke rumah dari perantauan untuk merayakan hari raya bersama dengan keluarga dan orang-orang terkasih. Ada hal yang menarik dari tradisi mudik ini. Banyak orang rela menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk pulang ke rumah.

Tentu yang dirindukan bukan rumah sebagai ‘house’, yakni bangunannya semata. Hal yang paling dirindukan oleh para pemudik ketika pulang adalah rumah sebagai ‘home’, yakni suasana yang terbangun dari relasi kasih di antara anggota keluarga. Oleh karena itu, rumah sebagai ‘home’ memang menjadi tempat untuk selalu pulang.

Sama seperti anak bungsu dalam Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan. Si bungsu akhirnya ‘mudik’ pulang ke rumah Bapanya setelah letih mengembara dalam pencarian-pencarian semu yang semakin hari semakin meremukkannya dan semakin membenamkannya dalam dosa dan kesalahan. Si bungsu ini lelah dan ingin pulang, bukan sekadar mencari ‘house’, melainkan ‘home’. Hal ini terungkap dari perkataannya, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku”. Sang Bapa adalah rumah yang sesungguhnya bagi anak bungsu itu. Relasi kasih dengan Bapanya itu adalah ‘home’ yang memanggil untuk selalu pulang. Melalui Sang Bapa, si bungsu kembali menyadari kemanusiaannya lagi dan kembali merasakan bahwa dirinya dicintai tanpa syarat oleh Sang Bapa.

Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Bagaimana keadaan kita selama ini? Adakah selama ini kita selalu tergoda untuk pergi mengembara dan meninggalkan rumah yang kita cintai, yakni Gereja? Adakah kamu saat ini merasa lelah karena pengembaraanmu yang tak tentu arah hingga membuatmu semakin terbenam dalam dosa dan kesalahan? Adakah kamu rindu untuk dicintai tanpa syarat dan tanpa dihakimi karena dosa dan kesalahan yang selama ini kamu perbuat?

Pulanglah. Pulanglah dalam pelukan Gereja. Gereja yang bukan sekadar gedung gereja. Sama halnya dengan pulang ke rumah yang bukan sekadar ‘house’ melainkan suatu ‘home’ bagimu. Gereja adalah rumahmu. Gereja sebagai komunitas cinta kasih ini adalah rumah sekaligus tempatmu untuk selalu pulang. Gereja adalah rumahmu untuk kembali menemukan wajah kasih Allah yang dengan sabar merawat serta menyembuhkan luka-lukamu itu. Gereja adalah tempatmu untuk pulang; tempat mereka yang melayani tanpa letih dan pamrih; mereka yang mengajarimu untuk mencintai-Nya tanpa membenci sesama; mereka yang terluka perih namun tetap selalu mau untuk mengampuni; mereka yang menghayati nasehat-nasehat Injil dengan rela dan setia; mereka yang terbuka menerima rahmat pertobatan; serta mereka yang dengan teduh mencecap kehadiran Yesus Sang Guru dalam Ekaristi Kudus.

Tentu saja tidak dapat dipungkiri bahwa saat kamu pulang, di Gereja sekalipun, kamu akan menemukan Si Sulung, yakni mereka yang iri, mengeluh, bahkan menolak kehadiranmu yang rindu untuk pulang. Namun demikian, jika kita renungkan secara lebih mendalam, apalah artinya setitik luka dari Si Sulung itu jika dibandingkan dengan kasih Bapa yang hangat, tidak menghakimi, dan menyembuhkan luka-lukamu?

Sudahlah, sempatkan waktumu untuk pulang merasakan kehangatan pelukan Sang Bapa, meski keadaanmu tidak sebersih dulu saat awal kamu memutuskan untuk pergi dan mengembara. Gereja, yang adalah ‘home’ untukmu, selalu terbuka dan merindukan dirimu untuk pulang. Jangan ragu untuk pulang. Ada Sang Bapa yang siap memelukmu dengan hangat, menyambut kepulanganmu, dan bersukacita bahwa kamu masih hidup. Bapa selalu menanti kepulanganmu.

Penulis: Ignatius Cliverd Oktavianus Richard Pr, Imam Diosesan Keuskupan Bandung, saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Bunda Maria Cirebon, Jawa Barat.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts