MANADO – Pilkada Sulut 2024 di ambang kehancuran demokrasi. Kubu yang phobia kalah mulai mempraktekan cara-cara bar-bar dengan meminjam tangan aparat penegak hukum. Polanya hampir sama, simultan dan mulai bergerak dari daerah-daerah luar ibukota. Introdusir kejahatan demokrasi dengan strategi mengantri perangkat desa dan ASN depan ruangan penyidik paling masif terjadi di Bolmong Raya. Akar yang memicu cara-cara mirip orde baru ini karena disparitas hasil survei antara paslon gubernur yang satu dengan paslon gubenur yang lain terlalu jarak.
Salah satu sumber resmi di Bolmong Raya mengatakan, ada ratusan Sangadi (Kepala Desa) dan puluhan Camat sengaja dipanggil menghadap penyidik kepolisian. Boro-boro memeriksa dugaan korupsi yang mengada-ada, para Sangadi dan Camat kemudian diintimidasi untuk menentukan sikap memenangkan salah satu calon Gubernur yang belakangan teridentifikasi mengantongi survei terendah.
“Mereka panggil alasan pemberantasan korupsi, tapi intinya menakut-nakuti dan ujungnya kami harus mendeklarasikan diri untuk memenangkan salah satu kandidat Gubenur, ” ujar salah satu camat merasa terintimidasi.
Video tindakan kurang ajar aparat di BMR dan Nusa Utara sebenarnya sempat viral di media sosial. Saat bersamaan muncul pernyataan dukungan sejumlah camat dan ASN lain termasuk kepala-kepala desa.
Di beberapa lokasi pertambangan rakyat juga mengalami hal yang sama. Para penambang dan warga yang bekerja disuruh berhenti beroperasi bahkan ditangkap aparat kepolisian. Mereka hanya boleh beroperasi setelah menyetor dana pembebasan ke aparat lalu berpose bersama dan menyatakan dukungan kepada salah satu kandidat.
“Kami disuruh silahkan kerja lagi asal bikin baliho deklarasi memenangkan calon yang itu tapi setor dulu di aparat,” ujar salah satu penambang Ratatotok Kamis kemarin.
Kritikan datang dari sejumlah aktivis yang menyadari bibit orde baru mulai bermekaran di mana – mana.
“Ini tindakan bar-bar. Kejahatan demokrasi menggunakan cara-cara orde baru. Pola seperti ini memaksa publik kembali ke situasi politik tahun 1990-an. Jangan sampai kita memiliki pemimpin dengan karakter tangan besi. Belum terpilih sudah nakut-nakutin masyarakat,’ sindir aktivis PAMI Perjuangan Jeffrey Sorongan, Jumat siang di Manado.
Dia menjelaskan, Prabowo Subianto memenangkan Pemilu Presiden 14 Februari 2024 lalu di Sulut dengan torehan 75,31 % dengan cara yang elegan, bersih dan berwibawa.
“Prabowo menang tidak dengan cara-cara kotor. Hari ini ada orang ngaku kiriman Prabowo tapi berkompetisi dengan cara keji,ikz intimidasi ASN dan masyarakat. Ini tidak boleh dibiarkan. Publik sudah muak dengan taktik mirip orde baru ini,” tegas Sorongan.
Mantan Ketua DPD Gerindra Sulut Ir Conny Rumondor ikut menyayangkan banyak laporan masyarakat yang mengaku diintimidasi untuk memenangkan salah satu calon gubenur.
“Bapak Prabowo tidak seperti itu dan tidak memberi instruksi harus menang dengan cara-cara kotor. Prabowo hanya minta untuk berkompetisilah secara elegan dan berwibawa,” terang Rumondor seraya mengingatkan, Prabowo meraup dukungan penuh dari Sulut karena kualitas berpolitik yang humanis dan unggul menjajakan program.
“Semua org suka menang tapi jangan menang dengan mengorbankan org lain,” nasihat Cony Rumondor. (kim)






