
Manado, KOMENTAR.ID
Solidaritas dan sikap menolong orang yang dalam keadaan susah tidak semata lahir dari sosok yang lembut, tenang dan kalem. Dari tampang yang tegas, garang dan tatoan juga sering kita alami pengalaman kebaikan. Itulah gambaran mengenai sosok Mario Refly Manorek.
Di usia muda, melakukan sesuatu demi membantu orang banyak, itu seharusnya sebuah keniscayaan. Dampaknya bahkan bisa begitu luar biasa. Tidak untuk diri sendiri tapi bagi sesama pun bagi siapa saja dari berbagai latar belakang hidup.
Tengoklah yang dilakukan Mario. Pemuda yang memiliki tato di sekujur tubuh ini aktif menggalang dukungan dana untuk membantu sesama yang berkesusahan khusus orang-orang yang dalam situasi sakit dan butuh intervensi medis yang cukup rumit.
Dengan bekal 90 ribuan follower, Mario berhasil membuat kegiatan amal, mengajak banyak orang untuk membantu anak-anak yang membutuhkan intervensi medis pun termasuk orang tua.
Pria kelahiran 3 Maret 1997 yang aktif sebagai content creator ini pernah menggalang aksi amal untuk memulangkan jenazah Mefri Lasike dari Maluku Utara ke Bolmong, Sulut.
“Saya mengajak teman-teman warganet menggalang dana lalu mencari keluarganya dan menyerahkan dana yang terkumpul,” ungkap Mario.
Kemudian aksi yang terakhir ini Mario memanfaatkan sosial media untuk menolong bayi perempuan bernama Syalomita yang mengidap penyakit kelenjar getah bening.

“Tugas selesai donasi teman2 da sumbang taso serahkan. Sangat di luar dugaan kita harap nda mo riki 5 jt karna baru open donasi 4 hari ternyata total samua 8 juta mkase banyak teman2 yang so baku bantu akg for ade syalomita pe pengobatan besok kita da team Woi Official smo bawah ade syalomita ka rumah sakit mkase. Mkase banyak juga teman2 ratatotok deng basaan so kase batuan donasi,” tulis Mario di lamannya.
Selain aksi menggalang dana untuk orang yang sakit, Mario juga aktif menggalang kegiatan sosial seperti menyediakan takjil di masa puasa. Jiwa toleransi dan penghargaan bagi umat beragama lain mendorong Mario untuk tidak ragu menjalin hubungan dengan umat beragama lain termasuk terjun langsung dalam kegiatan sosial keagamaan.
Menariknya, melalui akun sosmednya, Mario rutin melaporkan secara berkala perolehan dana dari orang – orang yang tergerak hati untuk menolong sesama.
“Laporan berkala dan transparansi itu kunci keberhasilan kita di aksi sosial ini. Karena aksi kami ini berkaitan langsung dengan kepercayaan publik sosmed. Hal yang berhubungan dengan dana itu cukup sensitif karena itu penting untuk disampaikan secara terbuka,” ungkap Mario.

Dia pun berterima kasih kepada semua warganet yang mendukung dan memberikan respon positif terhadap serangkaian aksi yang dilakukan selama ini. Dari Mario kita belajar, tato bukan tanda yang menakutkan. Kasih terhadap sesama juga sering datang dari orang – orang yang tampak garang. (red)






