Manado, KOMENTAR.ID
Setelah ketegangan yang mencuat akibat kehadiran kapal baru KM Cantika 9F yang melayani rute Manado–Sofifi–Ambon, publik dikejutkan dengan insiden mengerikan — kebakaran KM Barcelona V di perairan Sulawesi Utara, Minggu (20/07/2025). Puluhan penumpang panik dan nekat melompat ke laut demi menyelamatkan diri. Tragedi ini menyisakan luka dan pertanyaan besar.
Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebelumnya telah muncul protes keras dari PT. Surya Pacifik Indonesia (SPI) terhadap pemberian izin beroperasi kapal baru oleh KSOP Manado. SPI menilai kehadiran Cantika 9F berpotensi merusak keseimbangan rute dan merugikan operator lama. KSOP sendiri telah memberikan klarifikasi, namun gejolak di bawah permukaan tampaknya belum mereda.
Kini, setelah insiden kebakaran terjadi, patut dipertanyakan: jangan-jangan ini ada kaitan dengan rivalitas bisnis yang kian tak sehat?
Dugaan Persaingan Tak Sehat, Harus Diusut Tuntas
Penting bagi aparat penegak hukum dan pihak berwenang untuk tidak terburu-buru menutup kasus ini hanya sebagai insiden teknis biasa. Potensi sabotase, kelalaian berulang, atau bahkan conflict of interest dalam pemberian izin perlu diselidiki mendalam dan transparan.
Penasehat Komunitas Investigasi Cyber Crime Sulut, Jeffry Sorongan, angkat bicara dengan tegas:
“Kalau terbukti ada unsur kesengajaan atau sabotase karena perang bisnis antar operator kapal, itu bukan cuma kejam—itu biadab. Nyawa manusia jangan dijadikan collateral damage demi rebutan pasar. Usut tuntas, jangan ada yang dilindungi.”
Sorongan juga menambahkan bahwa komunitasnya siap membuka posko aduan dan mengumpulkan data jika dibutuhkan aparat.
KSOP Manado sebagai otoritas pemberi izin juga kini dalam sorotan. Mereka diminta untuk mengevaluasi semua izin dan jadwal kapal, serta menjamin bahwa kehadiran kapal baru tidak menimbulkan konflik horisontal di lapangan.
Karena bila persaingan bisnis telah melampaui batas etika dan keselamatan publik, maka inilah waktunya penertiban total dilakukan.
Jangan sampai masyarakat, anak-anak, dan orang tak bersalah menjadi tumbal dari perseteruan diam-diam yang sesungguhnya berdarah dingin. Negara harus hadir dan tidak boleh membiarkan laut kita menjadi ajang perang bisnis yang mengorbankan nyawa.
“Nyawa bukan komoditas. Jika industri pelayaran ingin tumbuh sehat, maka keselamatan, etika, dan keadilan harus dijunjung tinggi.” Redaksi






