Bule Tobelo, Konten Kreator Asing yang Cintai Indonesia, Dapat Ancaman di Bali, Ngaku Polisi Intimidasi dengan “Peluru Kosong”

Bali, KOMENTAR.ID – Lei, seorang konten kreator asing yang dikenal dengan julukan “Bule Tobelo,” baru-baru ini membagikan pengalaman tidak mengenakkan saat berada di Bali. Sosok yang populer di Sulawesi Utara karena sering mengangkat kearifan lokal ini mengaku diintimidasi oleh seorang pria yang mengaku sebagai polisi.

Insiden tersebut terjadi di tengah perjalanan Lei dari Batubulan ke Sanur, ketika ia harus mengendarai motornya perlahan karena mobil di depannya juga sangat lambat.

“Awalnya hanya klakson panjang dari belakang, tapi tiba-tiba dia mendekati motor kami, membuka kaca mobil, dan menunjukkan peluru. Saya tahu itu peluru kosong karena pengalaman 12 tahun saya sebagai mantan tentara,” ungkap Lei.

Perdebatan di Jalan bersama Oknum yang ngaku polisi

Lei mempertanyakan tindakan pria tersebut, yang kemudian meminta mereka untuk menepi. Ketika situasi semakin memanas, pria tersebut malah mengaku sebagai polisi dan menunjukkan foto berseragam di ponselnya.

Namun, Lei mengaku bingung karena pelaku yang ia temui adalah seorang pria, sedangkan foto yang ditunjukkan adalah seorang polwan berpangkat Ajun Inspektur Polisi Satu (AIPTU).

“Saya marah karena dia menunjukkan peluru seperti ancaman, seolah-olah ingin menakut-nakuti saya. Kalau memang polisi, tugasnya bukan mengintimidasi masyarakat,” tegas Lei.

Namun, situasi berubah aneh ketika pelaku menyadari siapa Lei sebenarnya. Setelah Lei membuka helm, pelaku dengan santai mengatakan, “Ah, saya followers kamu, selesai,” lalu pergi begitu saja.

Lei menyoroti tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi dan penyalahgunaan identitas. Ia menegaskan bahwa kasus ini mencerminkan perlakuan tidak adil kepada masyarakat.

“Kalau saya masyarakat biasa atau turis yang tidak punya pengikut di media sosial, apakah dia akan tetap minta maaf? Intimidasi seperti ini tidak bisa dibenarkan,” ucap Lei dengan nada kecewa.

Konten kreator ini berharap kasusnya dapat menjadi perhatian pihak berwenang. Ia mengingatkan bahwa tindakan mengancam masyarakat dengan peluru atau jabatan adalah pelanggaran yang harus ditindak tegas.

Insiden ini juga memicu diskusi di kalangan netizen, yang banyak mendukung Lei untuk melaporkan kejadian ini secara resmi. “Polisi itu pelindung masyarakat, bukan alat intimidasi,” tulis salah satu warganet di kolom komentar unggahan Lei.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian Bali mengenai identitas pelaku. Masyarakat berharap kasus ini segera diusut untuk menjaga kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts