Pemkot Kewalahan, Tumpukan Sampah dalam Kota Menunggu AA-RS Dilantik

0
231

Tumpukan sampah di kawasan samping Shoping Center. Foto: Komentar.ID

Manado, KOMENTAR.ID 

Pemerintah Kota Manado kewalahan menangani tumpukan sampah pasca banjir beberapa waktu lalu. Pantauan KOMENTAR.ID, Minggu (31/1) siang, tumpukan sampah dibiarkan sampai membusuk di sejumlah titik dalam kota. Di kawasan samping Shoping Center, sampah menumpuk di beberapa sudut bangunan. Bau busuk kotoran itu mengundang ratusan lalat biru. 

Tumpukan sampah di kawasan pertokoan Pasar 45. Foto: Komentar.ID

Kemudian di bilangan Pikat dan Tanjung Batu. Pun di depan Wanea Plasa, Jalan Sam Ratulangi. Di Jalan Bethesda, tampak dua truk sampah sedang beroperasi sekira pukul 12.15.

Mengarah ke Malalayang, ada beberapa tumpukan sampah yang mulai berserakan. 

Beberapa warga di kawasan Shoping Center mengatakan, sampah yang menyerupai bukit berwarna itu sudah lama dibiarkan. 

“Belum ada yang datang angkat ini. Sudah hampir dua minggu tetap begitu,” ujar Alim, warga sekitar lokasi Shoping Center.

Belum diketahui, akar yang menyebabkan pemerintah kota kewalahan menangani limbah rumah tangga itu. Beberapa orang berspekulasi, pemkot mulai lesu karena dana belum turun untuk satuan kerja yang menangani sampah. 

“Kemungkinan pemkot kehabisan anggaran. Sehingga petugas kebersihan mulai pasif. Tidak ada biaya operasional untuk kendaraan,” ujar Fery, warga Wenang Selatan yang ditemui saat sedang membuang sampah di salah satu titik.

Sampah menjadi persoalan paling parah di ujung pemerintahan Walikota GS Vicky Lumentut dan wakilnya Mor Bastiaan. 

Aktifis kota, Tery Umboh mengatakan, fenomena sampah ini mengirim pesan ke masyarakat, bahwa pemerintah angkat tangan dan kehilangan visi kota bersih. Ia menjelaskan, kondisi ini menjadi pekerjaan besar Walikota dan Wakil Walikota terpilih Andre Angouw – Richad Sualang (AA-RS) kelak.  

“Ini tantangan untuk AA-RS. Dalam situasi ini kita tidak berharap banyak dari pemerintahan sekarang. Katakan, sampah-sampah ini menunggu AA-RS,” ungkap Tery. 

Lanjut dia, AA-RS harus memiliki visi yang komprehensi mengenai penanganan sampah dalam kota. “Harus punya tekad dan komitmen. Sampah bukan hanya masalah memindahkan kotoran ke tempat yang dituju. Tapi manajemen limbah dari hulu sampai hilir. Harus ada edukasi berkelanjutan,” sambung Tery. 

“Kemudian estimasi budgeting yang detil. Termasuk terobosan dan inovasi untuk mengelola sampai. Kalau tidak, AA-RS akan mengulang masalah yang sama dari periode ke periode, dari tahun ke tahun,” jelas Tery panjang-lebar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here