KEK Pariwisata Likupang Terganjal Status Tanah Leluhur Olly Dondokambey

0
734

Gubernur Sulut Olly Dondokambey (kiri) dan Adriana Dondokambey adalah ahli waris dari Dotu Wangania 1, generasi ke-7. Adriana ikut menandatangani surat kuasa ahli waris yang saat ini dipegang Johanis Wangania. Foto: Kolase Komentar.ID

Manado, KOMENTAR.ID

Rencana pemerintah membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Likupang, Minahasa Utara terganjal persoalan tanah. Beberapa pihak mengklaim hak milik atas tanah Maen, Likupang Timur, yang luasnya mencapai 25 ribu hektar. 

Padahal investor dan sejumlah pihak yang berniat investasi sudah membangun infrastruktur di kawasan tersebut. Sebut saja UIP Sulbagut PLN dan PLTS PT Vena Energy Indonesia. Pembangunan terhenti karena masalah gugatan yang saat ini sementara ditangani Polda Sulut. Klaim tanah itu dilancarkan ahli waris Ruland Mantiri, yang merupakan keturunan Louis Mantiri. 

Belakang mulai tersingkap ada ahli waris lain yang memegang dokumen alas hak atas tanah, yakni keturunan Dotu Wangania 1. Dalam garis keturunan itu, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey termasuk keturunan Wangania 1. Olly dan kakak-adiknya tercatat sebagai generasi ke-7 dari Dotu Wangania 1 atau generasi ke-8 dari Dotu Pinantik, ayah Dotu Wangania 1. 

Penerima kuasa ahli waris Dotu Wangania, yakni Johanis Wangania menjelaskan kepada KOMENTAR.ID, Selasa (2/2/2021), di kediamannya, Matungkas, Minahasa Utara. 

Pihak Wangania yang mengantongi semua dokumen alas tanah dan awal mula menerima penyerahan lahan dari pemerintah Hindia Belanda tahun 1855. 

Johanes menerangkan, seluruh kepemilikan dokumen dan garis keturunan yang berhak atas tanah ribuan hektar itu. 

Mengenai asal usul kepemilikan tanah di Maen. Nama Maen dari kata Maendoan. Artinya tanah rebutan. Perebutan antara Dotu Wangania dan Raja Mindanao. 

Ihwal tanah leluhur Olly Dobdokambey itu, Johanis menjelaskan sebagai berikut;

Pada tahun 1855 hidup seorang Dotu bernama Dotu Pinantik. Dotu ini memiliki tiga anak, yakni Dotu Rarame, Dotu Wagania 1 dan Dotu Wangania 2. 

Dotu Wangania I sempat dibabtis oleh Pdt Swars asal Belanda, dengan nama Habel. Wangania 1 menerima baptisan Kristen Protestan di Desa Kolongan. 

Di zaman itu, Rarame, Wangania 1 dan Wangania 2, berperang melawan Raja Mindanao. Penjajah Belanda mengandalkan kekuatan tiga Dotu keturunan Pinantik untuk mengusir perampok dan pasukan Raja Mindanao. 

Atas jasa dan keteguhan mengusir bahkan membunuh Raja Mindanao, pemerintahan Hindia Belanda memberikan 25 ribuan hektar tanah kepada Rarame, Wangania 1 dan Wangania 2. 

“Saat itu tidak ada Dotu lain, kecuali Rarame, Wangani 1 dan Wangani 2,” tegas Johanis. 

Kembali ke garis keturunan, dari Dotu Wangania 1, lahirlah Joseph dan Zet. Dari Joseph turun ke Antonius. Lalu Antonius ke Wilhelmus. Wilhelmus mempunyai anak yakni Lombok. Dari Lombok, turun ke Lili Wangania. Lily Wangania melahirkan Pdt Lili Dondokambey, Adriana Dondokambey, Altje Dobdokambey, Roby Dondokambey dan Olly Dondokambe. 

Menariknya, dari sejumlah ahli waris yang memberikan kuasa kepada Johanis Wangani, ada nama Adriana Dondokambey sebagai salah satu pemberi kuasa dan menandatangani suara kuasa (lihat foto). 

Adriana mewakil kakak-adiknya termasuk Gubernur Sulut saat ini. Mereka generasi ke-7 dari Wangania 1.

Untuk garis turunan Johanis Wangania, juga bermula dari Wangania 1, lalu turun ke Zet. Kemudian Zet turun ke Jacob. Dari Jacob turun ke Salmon Wangania. Kemudian turun ke Johanes Wangania dan saudara-saudarinya. Mereka generasi ke-6 dari Wangania 1. Di hadapan Olly, Johanis adalah seorang paman.  

Surat kuasa ahli waris. Foto: Istimewa

Dalam perjalanan waktu, semua ahli waris memandatkan Johanis Wangania sebagai penerima kuasa untuk mengurus dan menyimpan semua dokumen tanah. Johanis Wangania dianggap yang paling disiplin menangani dokumen tanah, karena latar belakang pengabdian sebagai TNI. 

Daftar dokumen tanah yang dipegang ahli waris Dotu Wangania: 


1. Sejarah tanah Maen

2. Duplikat peta tanah tua yang terregister dari Bogor, yakni Reguster 2 Folio 1, Tahun 1901.

3. Silsilah keturunan Dotu Wangania

4. Surat keterangan saksi hidup

5. Surat kuasa dari keturunan ahli waris dari Wangania

6. Surat pernyataan dari rukun Wangania

7. SK Bupati Minahasa yang ditandatangani oleh Sekda Minahasa Dr SH Sarundajang Tahun 1978

8. Surat keterangan kematian Dotu Wangania dari Hukum Tua Desa Kuwil

9. Peta tanah Wangania yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan Register 6 Folio 42 Tahun 1960, saat pengukuran terakhir.

10. Surat keterangan penjualan tanah Maen dari Luis Mantiri kepada PT ASA Tahun 1990. 

Kembali ke sejarah tanah, pada Agustus 1900, datanglah Louis Mantiri dari Danauwudu untuk berkebun. Tahun 1929 Mantiri membentuk tujuh Dotu. Tiga Dotu asli yakni Rarame, Wagania 1 dan Wagania 2. 

Johanis menjelaskan, Mantiri menarik empat  Dotu bayangan lain, yakni Tangkudung, Kumaunang, Unsulangi dan Runtuwarouw. Mantiri pun membagi-bagi tanah milik tiga Dotu terdahulu ke empat Dotu lainnya. 

Peta tanah Dotu Wangania. Foto: Istimewa

Lalu, tahun 1930, Mantiri diangkat menjadi Hukum Tua Likupang. Serentak, ia menyuruh warga bercocok tanam secara masal di atas tanah yang semula menjadi milik Rarame, Wangania 1 dan Wangania 2. 

“Mantiri lupa bahwa tanah Wangania 1, Wangania 2 dan Rarame sudah masuk administrasi daerah oleh pemerintah Hindia Belanda dengan Register 2, Folio 1, tahun 1901 dengan kepemilikan 1855,” ungkap Johanis Wangania.

Catatan ini kata Johanis, sampai sekarang masih ada di pusat dokumentasi agraria Pemerintah Hindia Belanda, di Amsterdam. 

Lanjut Johanis, dianggap mengaburkan asal usul tanah tiga Dotu asli, Mantiri menggunakan tangan Pangau yang juga datang dari Danauwudu, untuk menjual tanah-tanah ke Mantiri sendiri. Maka timbul transaksi yang menurut Johanis sulit dibuktikan, yakni penjualan tanah tujuh Dotu ke Mantiri. 

Pada tingkat inilah, tanah Rarame, Wagania 1 dan Wagania 2, dikuasai Louise Mantiri. Sayangnya kata Johanis Wangania, di kemudian hari muncul dokumen-dokumen baru, yang terbit atas dasar kopian alas hak atas tanah milik Wangania 1, Wangania 2 dan Rarame tanpa sepengetahuan ahli waris. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here