Ngeri, Pemilik Kantin di Polda Sulut Masukan Kotoran Anjing ke Mulut Dua Pekerja Wanita

  • Whatsapp
L dan N saat mendatangi Polda Sulut, Selasa (14/9/2021) malam. (Hut Kamrin)

Manado, KOMENTAR.ID

Perilaku lelaki GR alias Gabriel (25) tergolong biadab. Warga Tanah Putih Manado itu memperlakukan dua gadis Kalawiran Kakas, Minahasa, layaknya hewan.

Read More

Tindakan serangkaian kejahatan GR menyebabkan dua perempuan desa L dan N (inisial samaran) mengalami trauma.

Kepada KOMENTAR.ID, L dan N menceritakan awal perkenalan dengan GR. Itu bermula ketika L mengikuti ibadah yang dipimpin GR. Konon GR adalah seorang evangelis di masa itu. Usai ibadah, GR mengajak L untuk bekerja menjaga kantin. GR menjanjikan upah Rp1,6 juta. L mulai bekerja sejak Januari 2020 silam.

Dalam perjalanan waktu L mengajak N atas permintaan GR untuk menambah pekerja. Dengan janji upah yang sama, L dan N konsisten menjaga kantin mungil GR, di Markas Polda Sulut.

Gelagat menghindari pembayaran upah mulai tampak dari perilaku buruk GR. Ia menuduh L dan N mencuri barang dagangan.

Kantin mungil milik GR yang dijaga L dan N di Polda Sulut. (Hut Kamrin)

“Kami tidak pernah mencuri pak (wartawan,red). Memang ada yang tekor waktu setor. Karena kadang kala lupa catat. Kalau dibilang mencuri kami pasti bisa urus diri. Ko memang pernah bilang, kalau lapar, makan saja snack,” ungkap L dan N saat mengadu ke SPKT Polda Sulut, Selasa (14/9/2021) pukul 21.00 WITA.

Tak puas mengabaikan gaji N dan L, GR malah memperlakukan dua pekerja itu di luar batas kemanusiaan. GR beberapa kali menyiram saus ke wajah L dan N. Kemudian menggunting rambut dan baju yang sedang dikenakan L. Yang paling menjijikan, GR memasukan kotoran anjing dan urine ke mulut L.

Surat pengaduan L di Polda Sulut. (IST)

“Kami merasa sangat terhina. Dia tuduh kami mencuri. Lalu dia lempar dengan HP kena di dada saya. Dia gosok tahi anjing dan air kencing di mulut. Dia siram dengan saus di rambut saat di meja makan,” tutur L dan N.

Selain pelecehan dan penyiksaan itu, GM disebut pernah menelikung uang kuliah L.

“Saya kerja sambil kuliah di PGSD Unima Tomohon. Satu waktu mama kirim uang Rp12 juta. Baru tambah lagi Rp900.000. Terus Ko Gabriel (GR) minta uang itu dia simpan di bank. Saya baru minta dari Ko Rp1,5 juta untuk bayar uang kuliah. Terus Ko bilang uang sisa Rp8 juta,” terang L.

Surat pengaduan L di Polda Sulut. (IST)

Baik L maupun N, kedua didampingi orang tua dan pengacara Doan Tagah SH.

Menanggapi itu, pengacara Doan Tagah SH menduga, tudingan pencurian yang diarahkan GR ke L dan N adalah modus agar tidak membayar upah.

“Kantin sekecil ini, saya kira tidak bisa mengatasi upah dua pekerja,” ujar Doan sambil menunjuk kantin GR yang berukuran kurang lebih 1,5 meter, di Mapolda Sulut.

Doan sempat menghubungi GR untuk membangun komunikasi yang persuasif sebelum melapor ke SPKT. Tapi ironis, jawaban tegas GR via ponsel genggam malah menantang balik korban, keluarga korban dan pengacara.

“Lapor kalo mo lapor. Kita pe orang samua di Polda itu. Lapor saja. Saya punya pegangan pimpinan Polda Sulut,” kata Doan mengulangi pernyataan GR di telepon.

Pengaduan L dan N pada Selasa malam belum sempat di-BAP karena petugas bagian konseling tidak ada. Korban dan pengacara baru melapor resmi pada Rabu (15/9/2021).

“Kami akan kawal dan tangani kasus ini sampai tuntas. Ini pelecehan yang luar biasa terhadap wanita. Kita lihat saja proses selanjutnya,” tegas pengacara Doan. (kid)

Related posts