Dirut PT IMSS Takuti Penggugat Usai Sidang Perdata

0
248
Kantor PN Madiun. (Istimewa)

MADIUN– Direktur Utama PT IMSS (Inka Multi Service Solusi), Kolik selaku tergugat, menyampaikan ungkapan bernada mengancam atau menakut-nakuti kepada penggugat, Sunarto.


Kejadian itu terjadi di ruang sidang Pengadilan Negeri Madiun Kota, Selasa (19/01/21).


Ungkapan tersebut disampaikan Kolik usai sidang lanjutan, dengan berjalan menyeberang dari tempat duduknya menghampiri bangku penggugat. 


“Selesai sidang tadi, Pak Kolik menghampiri saya. Dia bilang, kalau diteruskan, sebenarnya kasihan sama saya. Katanya saya bisa dipenjara,” ungkap Sunarto kepada jurnalis, di luar ruang sidang.


Kecuali itu, di luar persidangan, dua pengacara yang mendampingi Kolik (tergugat), Joko SH dan Wahyu SH, menawarkan barter perkara tersebut, dengan job pekerjaan baru kepada pengacara Sunarto (penggugat), Arifin SH. 


“Intinya pihak tergugat itu meminta kepada kita (penggugat) untuk mengakhiri (menutup/mencabut/membatalkan) persidangan ini, untuk kemudian akan diberikan pekerjaan  proyek kembali oleh PT. IMSS,” ungkap Sunarto.


Namun, permintaan tersebut langsung ditolak oleh pihak tergugat. Alasan mendasarnya, berarti uang haknya yang sedang diperjuangkan di persidangan itu akan musnah. Kemudian, belum tentu juga proyek yang dijanjikan itu ada dan diberikan kepadanya. 


Permintaan konfirmasi jurnalis via Whatsapp kepada Kolik, atas dugaan ucapan yang disampaikan kepada penggugatnya itu, belum dijawab. 


Humas PT IMSS, Alvi, yang dimintai tolong jurnalis (via WA), untuk menyampaikan konfirmasi tertulis kepada Kolik, juga belum mendapat jawaban. 


Sementara Humas BUMN PT INKA selaku induk perusahaan PT IMSS, Bambang R, yang diminta tolong menyampaikan konfirmasi, juga lewat WA, mengaku tidak berani menyampaikannya. 


“Maaf, saya tidak berani, ini sudah masuk persidangan, takutnya malah berkembang masalahnya,” tutur Bambang R, secara tertulis. 


Ditambahkannya, dia merasa berdosa jika ada dua pihak yang bertentangan, bukannya mendamaikan tetapi malah ngipas-ngipasin. Yang dikhawatirkan perkara yang berawal perdata akan berubah menjadi pidana.


Sebelum palu diketuk hakim tunggal, Endratno Rajamai SH, sebagai tanda tutup sidang beragenda penyerahan bukti tertulis itu, majelis hakim kembali menanyakan apakah kedua pihak yang bersengketa telah melakukan mediasi, sebagaimana pesan hakim pada sidang perdana sebelumnya. 


Kedua pihak, Sunarto (penggugat) dan Kolik (tergugat) sama-sama menyatakan pihaknya belum pernah melakukan mediasi, guna mengurai persoalan secara damai.


 “Saya hanya mengikuti keinginan mereka (penggugat) Pak Hakim,” ujar Kolik, singkat menjawab hakim. Mendengar itu, hakim tunggal, Endratno Rajamai SH, menyambar keras.


“Loh pihak tergugat itu jangan malah pasif. Biasanya yang pasif itu adalah penggugat. Lha ini kok malah terbalik,” cetus Endratno Rajamai SH, dengan culasnya. 


Lebih lanjut sang hakim menyarankan kedua pihak membuka pintu perdamaian selebar mungkin. Disebutnya, perdamaian itu menaikkan derajat. Baik bagi penggugat, tergugat, maupun para pengacaranya. 


Lebih lanjut hakim tunggal meminta kedua pihak menambah jumlah bukti, yang dirasa hakim masih kurang. Pelengkapan tersebut diminta hakim untuk diserahkan di sidang lanjutan, Kamis (21/01/21), dengan agenda bukti susulan plus pemeriksaan saksi. 


Seperti diberitakan sebelumnya, Dirut PT IMSS, Kolik, anak perusahaan plat merah itu digugat perdata tiga orang rekanan kerjanya, Sunarto, Sugito, dan Widodo, masing masing sebesar Rp 500 juta.


Ketiga vendor ini menuntut pembayaran pekerjaaan proyek di lingkungan PT INKA yang rampung dikerjakannya, namun hingga kini belum dibayar. 



(kid/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here