Waduh! Wartawan Diduga Bermasalah Kejiwaan Berhasil Provokasi Masyarakat dan Insan Pers Kepulauan?

Tahuna, KOMENTAR.ID

Kericuhan yang terjadi di kantor Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tahuna pada Kamis (25/9/2025) yang melibatkan seorang oknum wartawan bernama Maekel Towira, kini memunculkan fakta-fakta baru yang mengejutkan. Insiden yang awalnya digambarkan sebagai penganiayaan kini diduga kuat merupakan sebuah drama yang sengaja diciptakan oleh wartawan itu sendiri.

Berdasarkan kesaksian dari beberapa pegawai di kantor PSDKP, Maekel Towira datang dengan motivasi yang dinilai tidak baik. Sejak awal, ia disebut menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan etika pers dalam mencari informasi.
“Ia datang dengan cara-cara yang kurang sopan dan cenderung kasar. Bukan untuk konfirmasi, tapi sepertinya langsung ingin membuat kekacauan,” ujar salah satu sumber di internal kantor PSDKP, Jumat (26/9/2025).

Menurutnya, situasi memanas karena provokasi yang dilakukan oleh Maekel sendiri. Ia dituding menciptakan skenario tidak terpuji dengan berontak dan membuat dirinya terjatuh hingga terluka. Anehnya, sumber tersebut menyebut ada pihak yang sudah siap merekam kejadian itu, seolah-olah untuk menyempurnakan drama agar ia terlihat sebagai korban intimidasi.

“Padahal, kami hanya berusaha menenangkannya agar tidak membuat keributan lebih besar. Caranya itu jelas sengaja untuk menciptakan kekacauan,” tambahnya.

Dugaan bahwa insiden ini adalah sebuah rekayasa diperkuat dengan beredarnya komentar-komentar dari netizen di media sosial yang mengungkap jejak rekam perilaku Maekel. Sejumlah komentar menyebut bahwa yang bersangkutan diduga memiliki “masalah mental” dan sedang dalam perawatan dengan mengonsumsi obat penenang. Bahkan, ada yang secara terbuka menyebutnya memiliki kelainan jiwa.

“Prilakunya itu sinkron dengan drama yang ia lakukan sekarang. Mengatasnamakan wartawan dengan cara-cara yang tidak terpuji,” tulis seorang netizen dalam sebuah kolom komentar.

Fakta lain yang memberatkan posisi Maekel adalah adanya Surat Pernyataan Bersama yang telah ditandatangani kedua belah pihak di atas meterai pada hari yang sama. Dalam surat tersebut, Maekel Towira (Pihak Pertama) dan Erick Pudihang (mewakili PSDKP sebagai Pihak Kedua) sepakat bahwa insiden tersebut terjadi karena kesalahpahaman komunikasi dan telah diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak PSDKP bahkan telah memberikan uang pengobatan sebesar Rp2.500.000 sebagai bentuk itikad baik.
Namun, kesepakatan damai itu seolah diabaikan.

Sumber internal menyebut ada unsur pemerasan setelah kesepakatan itu dibuat, di mana Maekel diduga meminta sejumlah uang dengan nilai yang tidak rasional. Ketika tidak dipenuhi, ia pun berhasil memprovokasi masyarakat dan insan pers lainnya dengan narasi sebagai korban.
“Padahal masalah sudah selesai secara damai, ada suratnya. Tapi sepertinya ia punya tujuan lain. Ini bukan lagi soal tugas jurnalistik, tapi ada agenda pribadi yang mencoreng profesi wartawan,” tutup sumber tersebut.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts