Tersisa Kisah Pilu Sang Wakil Bupati Sangihe Yang Disayangi Rakyat

  • Whatsapp
Helmud
Embo Helmud Hontong bersama isteri dan anak. [IST]

Tahuna, KOMENTAR.ID

Menatap hidup dari seorang stylis penata rambut, Helmud Hontong putar haluan terjun ke panggung politik hingga menjadi Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe dua periode, 2009-2014 dan 2014-2017.

Read More

Berkarir di politik, Embo Helmud (Sapaan akrab almarhum), juga menuai sukses ketika ia terpilih Wakil Bupati mendamping Bupati Jabes Ezar Gaghana yang diusung Partai Golkar Sangihe pada pilkada 2017.

Tapi begitulah cara hidup Embo yang tak pernah berubah meski ia telah meraih karir politik yang menawan.

Embo tetap sederhana dan rendah hati, tak satu pun ia lewatkan dalam hidupnya untuk tidak menyapa masyarakat, entah itu ketika ia berada diatas mobil dinas wakil bupati dengan tidak pernah menutup kaca sambil melambaikan tangan saat berpapasan dengan warga, maupun lewat kehadirannya disetiap ada peristiwa duka maupun hajatan lain ditengah masyarakat, termasuk hobinya yang kerab membantu masyarakat yang sakit ketika membutuhkan pengobatan.

“Apalagi kalau hajatan duka, biarlah di pelosok mana, namanya peristiwa duka saya harus pergi melawat, saya ingin bersama-sama dengan mereka yang berduka,”masih terngiang kata-kata Embo beberapa waktu lalu saat senggang dengan beberapa wartawan yang bertamu di ruang kerjanya.

Begitupun ketika semasa hidup, Embo paling tidak suka merepotkan orang lain, bahkan sampai ia menghembuskan nafas terakhir, Embo juga tidak merepotkan banyak orang, termasuk merepotkan sanak saudara handai tolan yang begitu ia cintai dan sayangi.

Hanya ditemani ajudan, disaat ia sedang menjalankan tugas mulia sebagai pemimpin daerah yang tak henti-hentinya berjuang, Embo menghadap sang Khalik, meninggalkan tuk selamanya dengan tanpa ditemani sang isteri tercinta dan sang buah hati semata wayang disampingnya.

Bahkan ketika hendak menghadap Yang Maha Kuasa disaat ia sedang berada diatas pesawat Lion Air, Rabu (09/06/21), Embo dengan sangat tenang memberitahukan kepada Harmen Kontu, ajudannya, kalau ia merasa pusing, sehingga ia meminta Harmen menggosok minyak kayu putih di bagian belakang leher.

Namun tak disangka, justru permintaan menggosok minyak kayu putih itu merupakan komunikasi terakhir antara Embo dan ajudan, karena setelah itu Embo sudah tidak lagi merespon meski ajudan berulang-ulang kali memanggil namanya, bahkan darah segar langsung keluar dari hidung dan mulut Embo.

“Begitu cepat terjadi dan hanya beberapa menit saya lihat bapak langsung tersandar. Saya sempat memanggil bapak sambil memegang tangan dan badan bapak, namun sudah tidak ada respon lagi, sehingga saya langsung panggil pramugari untuk memastikan kondisi bapak,”kata Harmen, saat konferensi pers, Sabtu (12/06/21).

Namun meski bantuan datang dari pramugari bahkan kebetulan diatas pesawat ada seorang dokter yang turut membantu menangani Embo yang langsung dibawa ke bagian belakang pesawat, nyawa Wakil Bupati Sangihe yang sangat dicintai rakyat itu tak bisa lagi ditolong.

“Bapak sempat kami bawa ke bagian belakang pesawat, saat itu dokter memompa nadi bapak supaya ada pernapasan, tapi bapak tetap tidak ada respon dan dokter mengecek nadi bapak, tapi mulai melambat. Bahkan tindakan terakhir yang diambil dokter untuk diberikan suntikan guna memacu jantung, namun nadinya tak ditemukan dan akhirnya pemberian suntikan dibatalkan,”kata Harmen.

“Begitu pun tak lama setelah landing, bapak langsung ditangani pihak dokter dari Bandara Hasanuddin Makassar. Namun setelah memeriksa, dokter kemudian menjelaskan bapak telah meninggal dunia,”ucap Harmen.

Embo kini telah pergi untuk selamanya, namun seperti sepenggal syair lagu bernada, Begitu Indah Dilupakan, Begitu Sedih Dikenangkan, Embo terlalu pedih meninggalkan kisah.

Sempat Embo bercerita kepada sejumlah wartawan saat momentum HUT ke 4 tahun kepemimpinan Gaghana-Hontong, belum lama ini.

Ia tak muluk-muluk ketika akan kembali menjadi warga biasa usai melepas jabatan wakil bupati pada bulan Mei 2022.

“Kita kwa nyanda beban kalau so selesai wakil bupati dan kembali menjadi masyarakat biasa. Embo masih ada salon for makan sehari-hari. Bahkan Embo sampai mo ba jual kue masuk keluar tokoh. Siapa yang nyanda mo beli kalau Embo jual kue, pasti semua mo beli kalau so lihat pa Embo masuk keluar toko,”imbuh Embo dengan dialek lokal sambil wajah polosnya yang sedikit mengumbar senyum.

Ada kisah yang membuat trenyuh para wartawan yang mendengar cerita Embo saat itu, yakni tanpa malu ia menceritakan kondisi rumah pribadinya yang belum sempat ia renovasi.

“Mungkin teman-teman wartawan tidak percaya kalau Embo sejak dua periode anggota dewan dan menjadi wakil bupati, Embo belum dapat bangun rumah. Tapi saat ini Embo cuma mampu merenovasi dapur karena atap so bocor dan plafonya sudah jatuh. Embo juga cuma ada pinjam doi di Bank Sulut untuk merenovasi dapur,”ucap Embo sambil matanya menatap sekeliling ruang kerjanya, seperti ada isyarat yang masih banyak hendak ia curhat, namun tak mampu ia katakan.

“Embo cuma mo pesan kepada teman-teman, jangan terbeban menghadapi hidup ini. Jangan balas jika ada yang menyakiti, tapi berdoalah selalu untuk mereka. Ini yang Embo lakukan selama ini. Jalani saja kehidupan ini dan biarkan mengalir seperti air, sebab Embo yakin kita mampu menjadi yang terbaik jika Tuhan berkehendak”ujar Embo menutup ceritanya.

Related posts