Berry, Korban Percobaan Pembunuhan di Perkebunan Alason Ungkap Kronologi yang Terjadi

0
237
Korban Berry Betrandus saat mendapat perawatan medis. (FOTO: ISTIMEWA)

Manado, KOMENTAR.ID


Berry Betrandus (42), Warga Mapanget Kota Manado yang menjadi korban percobaan pembunuhan di Perkebunan Alason Kabupaten Minahasa Tenggara buka suara menceritakan kronologis peristiwa yang terjadi Minggu (07/02/21)


Berry menuturkan kepada sejumlah awak media, kejadian tersebut didasari aksi penyerobotan tanah yang saat ini sedang berproses hukum di Pengadilan Tinggi Manado.


“Sabtu sore, saya mendapatkan informasi akan ada massa yang masuk, dan sekitar jam 18.30 Wita dapat informasi lagi, bahwa malam nanti akan ada kosentrasi massa dan alat berat akan masuk ke tanah yang sedang bersengkata, antara kami dengan seorang yang bernama Yandri. Awalnya saya tidak mau ke lokasi, karena jumlah massa yang terinformasi akan ke situ sekitar 30 orang. Tetapi karena masih dapat informasi ada konsetrasi massa, maka pada 03.40 Wita, bersama teman saya Sepo, menuju ke lokasi untuk menegur para pekerja. Saat tiba, saya melihat ada dua sekuriti yang berjaga. Saya langsung bertanya kepada mereka, apakah tahu kalau tanah ini bermasalah? mereka menjawab mengawal alat berat dan mengaku kalau mereka disuruh bos. Saat itu berdialog tidak ada adu mulut atau adu fisik,” beber Berry, via telepon, Rabu (10/2/2021).


Lanjut korban, setelah berdialog, para pelaku memboyong alat berat dan meninggalkan tanah itu.


“Karena mereka sudah keluar dari tanah itu, saya hendak kembali ke camp. Saat menuju camp, secara tiba-tiba puluhan orang langsung datang dengan sajam dan mengepung saya. Saat sedang bicara saya dihantam dari belakang di kepala dan dipukul dengan besi. Dan saya juga dipukul lagi kedua kalinya di bagian bahu. Setelah dipukul, mereka menodongkan tombak dibagian perut dan parang ditodongkan dibagian pinggang dan belakang, kemudian teman-teman saya datang,” tambahnya.


Soal adanya pernyataan yang menyebutkkan terjadi penembakan kepada salah satu tersangka, kata Berry, hal itu tidak pernah terjadi.


“Bagaimana saya mau mencabut Airsoftgun? Mereka tiba-tiba mengepung saya dan langsung memukul saya di kepala. Saya juga ditodong dari berbagai arah dengan tombak dan parang. Saat ditodong, mereka yang malah menyuruh saya mengeluarkan Airsoftgun yang masih tersarung di pinggang. Dan bagaimana juga saya mau menembak, karena saya tau Airsoftgun itu dalam keadaan rusak dan tidak ada magasinnya. Setelah saya keluarkan mereka langsung mengambilnya,” kata Berry. 


Dia mengatakan, kalau dia menggunakan unit airsoftgun itu, maka kondisinya akan lebih parah bukan seperti sekarang. 

 

Sementara mengenai laporan, dia mengatakan heran karena adanya laporan penembakan dengan peristiwa penganiayaannya itu ada interval waktu yang lama, tetapi darahnya segar.  

  

Atas kejadian itu, dirinya berharap mendapatkan keadilan dan para pelaku dihukum sesuai perbuatannya.


“Saya meminta pihak kepolisian untuk menelusuri otak dari kejadian ini. Saya menduga, mereka disuruh oleh seseorang. Karena saat saya berdialog dengan mereka sebelum terjadi pembacokan, saya dan beberapa pelaku sempat berdialog. Dan saat itu tidak terjadi adu mulut dan kekerasan. Setelah mereka meninggalkan tanah yang bersengketa itu, mereka kembali dan langsung mengepung serta menganiaya saya. Jadi saya pikir, mereka disuruh oleh seseorang,” tungkasnya.  



(kid/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here