Minut, KOMENTAR.ID
RSUD Maria Walanda Maramis (MWM) yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) seakan tak pernah berhenti menciptakan kesan negatif di publik. Diketahui, dalam beberapa bulan terakhir, RSUD yang baru saja menerima sertifikat akreditasi paripurna dari Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) pada tahun 2022 ini, terus menuai sorotan.
Sebut saja mulai dari kasus meninggalnya pasien yang diduga jatuh dari bed di RS, Pembuatan portal berbayar di pintu masuk, Program BPJS yang nyaris hilang serta paling terbaru adalah adanya keluhan pasien yang sudah 5 hari dirawat namun tak pernah mendapat kunjungan dokter.
“Lima hari saya dirawat di sana (RSUD MWM), tidak pernah sekalipun mendapat kunjungan dari dokter,” beber Evi Sapoh dengan raut wajah kecewa, Senin (27/3/2022).
Bahkan, Kapoh yang beberapa hari sebelumnya terdaftar sebagai pasien di RS pelat merah ini mengaku obat yang diminum hanya diberikan oleh perawat tanpa melalui pemeriksaan dokter.
“Bukan hanya saya, tapi kami semua di ruangan itu mendapat pelayanan yang sama. Tidak pernah dikunjungi oleh dokter,” ujarnya.
Terkait pelayanan yang menurutnya sangat buruk ini, ia mengaku sangat kecewa, sehingga meminta pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Joune JE Ganda SE, MAP, MM, M.Si, kiranya mengevaluasi kinerja pimpinan RSUD MWM bersama direksinya.
“Ini jelas akan menjadi preseden buruk terhadap Pak Bupati dan Wakil Bupati, apalagi di momen tahun politik seperti saat ini,” pintanya.
Sayangnya, pihak RSUD MWM lagi-lagi tidak memberi tanggapan perihal tudingan negatif itu. Upaya konfirmasi yang dilakukan sejumlah media, selalu menemui jalan buntu.
Direktur RSUD MWM, Joice Katuuk saat dikonfirmasi via seluler belum memberikan jawaban hingga berita ini ditayangkan.
[***/ein]






