Manado, KOMENTAR.ID
Di balik setiap kontainer yang dibongkar, ada harapan yang menumpuk. Harapan dari para pelaku usaha, dari petani yang menunggu pupuknya tiba, hingga pedagang kecil yang menanti barang dagangan demi kelangsungan hidup. Namun harapan itu kini mulai retak, terhambat oleh satu hal yang seharusnya menjadi penopang: sistem.
Aplikasi PARAMA milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), yang dirancang untuk memudahkan dan mempercepat proses logistik di pelabuhan, justru menjadi sumber keluh kesah para pelaku industri logistik kapal laut. Gangguan teknis yang kerap terjadi bukan sekadar soal perangkat digital yang eror—ini soal denyut nadi distribusi nasional yang terganggu.
Di Bitung, salah satu pengelola perusahaan logistik dengan nada lelah mengatakan, “Setiap kali aplikasi bermasalah, kami kesulitan melakukan input data dan pengambilan kontainer jadi terhambat.” Pernyataan sederhana itu menyimpan luka yang lebih dalam—tentang jadwal yang berantakan, pelanggan yang kecewa, dan biaya operasional yang terus membengkak.
PARAMA seharusnya menjadi jembatan teknologi untuk menyatukan efisiensi dan pelayanan, namun realitas di lapangan berkata lain. Ketika sistem digital ini macet, manusia-manusia yang menggantungkan hidup pada kelancaran logistik harus menanggung dampaknya. Penundaan pengiriman bukan sekadar soal waktu, tapi juga soal kepercayaan, tentang stabilitas ekonomi kecil yang perlahan rapuh.
Di tengah meningkatnya volume pengiriman barang lewat laut, sistem yang seharusnya menopang justru menjadi titik lemah. Ini bukan sekadar kritik teknis, ini adalah panggilan nurani bagi Pelindo untuk melihat lebih dari sekadar angka dan server. Ini soal tanggung jawab moral atas kepercayaan publik.
Para pelaku usaha berharap Pelindo segera bertindak, bukan hanya memperbaiki sistem, tapi juga memulihkan kepercayaan. Karena logistik bukan hanya tentang barang berpindah tempat, tapi tentang kehidupan yang terus bergerak.
Hingga berita ini diturunkan, Pelindo belum memberikan tanggapan resmi. Namun waktu terus berjalan, dan setiap detiknya membawa pertanyaan yang sama: sampai kapan kami menunggu?






