Minut, KOMENTAR.ID
Apes dialami Penjabat Hukumtua Desa Nain Satu, Kecamatan Wori, di Kabupaten Minahasa Utara, Roni Sigar. Betapa tidak, ia nyaris dihakimi massa yang tak lain adalah warganya sendiri pada tanggal 1 Maret 2023.
Beruntung, ia boleh menyelamatkan diri setelah dibantu warga lain lari menggunakan motor laut ke desa Wori.
Diketahui, peristiwa ini baru mencuat ke publik setelah beredar video pendek yang diduga direkam warga menggunakan HP memperlihatkan gerombolan massa yang emosi sambil berteriak-teriak.
Disinyalir warga kecewa lantaran Penjabat Hukumtua enggan merealisasikan anggaran ketahanan pangan yang ditata di Dana Desa (Dandes) 2022 senilai Rp131.164.000. Buntutnya, mereka mengepung dan menyegel Kantor Hukumtua.
“Sebetulnya masalah ini tidak akan terjadi kalau beliau (Hukumtua) sudah salurkan bantuannya,” beber warga yang meminta namanya tak dipublis.
Dibeberkannya lagi, di program ketahanan pangan tahun 2022 itu terdapat bantuan bibit rumput laut, tali res, tali jangkar yang tidak kunjung disalurkan.
“Ada juga alokasi anggaran untuk pengadaan laptop serta isolasi mandiri yang sampai hari ini tidak jelas realisasinya. Dan saya kira wajar kalau kemudian warga marah terhadap beliau,” ujarnya.
Terpisah, Pj Hukumtua Nain Satu, Ronny Sigar, tak menampik adanya musibah yang membahayakan dirinya itu.
Dikutip dari media online viralberita.net, Sigar mengaku bahwa dirinya beruntung dilarikan warga lainnya dengan motor laut sehingga luput dari amarah warga.
“Saya mendapat ancaman akan dibunuh,” akunya. Atas pertimbangan keamanan, sambung dia, dirinya telah mengajukan surat pengunduran diri kepada Bupati Minahasa Utara.
Soal anggaran yang disebut-sebut jadi pemicu amarah warga, ia mengaku sudah dibelanjakan.
“Soal itu (Anggaran program ketahanan pangan), sudah dibelanjakan. Tali dan bola sudah siap. Hanya bibit saja yang belum diambil di tempat pembelian karena terkendala penjual meninggal,” terangnya.
Dibeberkannya lagi, pagi hari sebelum insiden itu, sudah digelar rapat bersama bahwa akan disalurkan, namun tiba-tiba pada malam hari suasana jadi berubah.
“Sepertinya ada yang provokasi sehingga terjadi peristiwa itu,” urainya sembari menyebut nama Ketua BPD.
Terpisah, Camat Wori Endru Palandung ikut membenarkan adanya surat pengunduran diri dari penjabat Hukum Tua Nain Satu.
“Untuk kekosongan saat ini, kita isi dengan pelaksana harian,” kata Palandung.
[***/ein]






