Raih Devisa 232.706 USD, ODSK Buktikan Direct Call Export Efektif

  • Whatsapp
Olly
Gubernur Sulut Olly Dondokambey. [ISTIMEWA/INSTAGRAM]

Manado, KOMENTAR.ID

Aktifitas ekspor komoditas Sulawesi Utara (Sulut) mengalami lonjakan luar biasa di masa pandemi Covid-19.

Read More

Sejak direct call (ekspor langsung) Sulut-Jepang dibuka September 2020 silam, pertumbuhan nilai ekspor komoditi naik tajam.

Pada September 2020 silam, Sulut pernah mengekspor 12,2 ton komoditas perikanan dan pertanian Sulut ke Jepang. Lalu pada Januari 2021 total ekspor mencapai 60,5 ton.

Fenomena ini tampak dalam data yang dibeber Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (Kanwil DJBC) Sulbagtara.

Tercatat, selama Januari 2021, ada 65,5 ton (65.512,50 kg) komoditas perikanan (ikan tuna, dan lainnya) dan pertanian (rempah-rempah, dan lainnya) Sulut yang menyasar langsung ke Jepang.

Ekspor ini berhasil menyumbang devisa senilai 232.706 USD atau setara Rp3,23 miliar. Itu diperoleh dari direct call yang terbagi dalam 4 flight ke Jepang.

Flight I (6/1/2021), Tonase 31.571,00 kg, Devisa (USD) 63,494.95.

Flight II (13/1/2021), Tonase 5.672,70 kg, Devisa (USD) 49,687.17.

Flight III (20/01/2021), Tonase 16.351 kg, Devisa (USD) 50 67,907.25.

Flight IV (27/1/2021), Tonase 11.917,30 kg, Devisa (USD) 51,616.65.

Keberhasilan ini mengukuhkan komitmen ekonomi Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw.

Pasangan yang baru dilantik untuk periode kedua ini berkomitmen menjadikan Sulut sebagai superhub Indonesia Bagian Timur, dengan menjaga kontinyuitas direct call ekspor (ekspor langsung) dari Bandara Sam Ratulangi Manado ke Narita, Jepang.

Ekspor komoditas Sulut secara langsung dari Manado ke Jepang melalui maskapai Garuda Indonesia merupakan langkah nyata pemerintah untuk bersinergi dengan industri pengolahan, stakeholder, instansi vertikal serta maskapai penerbangan.

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya transportasi serta mutu komoditas tetap terjaga. Sebelumnya, ekspor komoditas Sulut masih melalui bandar udara di Jakarta dan Surabaya.

Padahal negara yang menjadi tujuan ekspor adalah Jepang yang secara geografis lebih dekat Manado dibanding dari Jakarta atau Surabaya sehingga tidak efisien dan menyebabkan tingginya biaya logistik dan lamanya waktu pengiriman karena harus transit 24-30 jam.

Ini juga membuat harga produk di pasar luar negeri menjadi mahal dan kualitas barang turun, padahal komoditas perikanan membutuhkan kondisi segar hingga tiba di negara tujuan.

Olly optimis terobosan ini akan memberikan pengaruh yang baik dalam pembangunan sektor kemaritiman dan perekonomian di daerah Bumi Nyiur Melambai dan menjadikan Sulut maju dan sejahtera sebagai pintu gerbang Indonesia ke Asia Pasifik seperti visi kepemimpinannya bersama Wagub Steven Kandouw di periode 2021-2024.

“Semoga ini berjalan terus sehingga bermanfaat banyak bagi masyarakat Sulut dan sekitarnya tapi lebih khususnya tentunya bermanfaat bagi NKRI. Karena terbuka pintu baru untuk ekspor keluar daerah di luar dari yang sudah ada selama,” kata Olly Dondokambey.

 

[kim/kid]

Related posts