Banjir Rob Hantam Megamas dan Mantos, Ahli: Ombak Sudah Ada Sejak Zaman Penciptaan

0
496
Gelombang pasang menyapu Kawasan Megamas, Minggu (17/01/21). Inzet: Veronica Kumurur, Pakar Arsitektur Lingkungan Perkotaan. (Istimewa/Kolase Foto Komentar.id)


Manado, KOMENTAR.ID


Teluk Manado menggelora sore hingga Minggu (17/01/21) malam. Permukaan air laut naik, menyebabkan banjir rob di wilayah pesisir Kota Manado, tak kecuali menghantam Manado Town Square (Mantos) dan Kawasan Megamas. 


Rob adalah banjir yang diakibatkan oleh air laut pasang yang menggenangi daratan. Umumnya banjir rob rentan terjadi di daerah pesisir.


Terkait hal ini, Pakar Arsitektur Lingkungan Perkotaan Dr Veronica Kumurur mengatakan, banjir rob sudah menjadi bagian dari risiko suatu kawasan di tepian pantai.


“Itulah risiko membangun di kawasan tepian pantai, termasuk di Manado. Mestinya hal-hal seperti ini diperhitungkan ketika membuat Amdal, baik di Megamas atau Mantos,” ujar Dr Veronica Kumurur sebagaimana penjelasannya di Justitia Societas WAG, Minggu (17/01/21) malam.


Menurut dia, gelombang pasang yang tinggi harus diprediksi dan dianalisis dalam dokumen Amdal. Ini juga bisa menjadi usulan bagi pengusaha, untuk tidak membangun bangunan yang mengumpulkan banyak orang di tepian pantai.


“Saya ingat tahun 2002, angin barat menyapu Bahu Mall. Kafe-kafe di tepian pantai hancur dan lenyap. Tapi ini tidak menjadi pelajaran. Malah mereka rame-rame membangun bangunan di tepian pantai. Seakan tak kuatir sedikitpun akan dasyatnya angin barat,” tuturnya.


Banjir rob akibat gelombang tinggi sudah pernah terjadi di Manado tahun 2002 silam. (Istimewa/Dokumentasi Veronica Kumurur)


Terkait gelombang air laut yang nyerempet masuk hingga ke Mantos dan Megamas, Veronica Kumurur mengusulkan agar pengelola memperbaiki desain kawasannya.


“Paling tidak ada benteng-benteng pertahanan terhadap gelombang. Hanya jika dibangun benteng-benteng itu, konsekuensinya mungkin saja masyarakat so nda bisa liat pantai lagi,” celetuknya. 


20 tahun lalu dia mengaku pernah berdiskusi tentang dampak lingkungan reklamasi Pantai Boulevard. Namun diskusi itu hanya sebatas diskusi tanpa action.


“Khusus di Megamas biar nanti arsitek Megamas yang pikirkan. Tentunya harus berhitung dengan kejadian alam ini. Bisa juga berkaca sejarah gelombang 20 tahun lalu dan kira-kira 20 tahun mendatang seperti apa. Jadi desainnya harus mempertimbangkan situasi karena (gelombang) seperti ini akan berulang-ulang di masa mendatang,” imbuhnya.


Dia mengatakan, apa yang terjadi di Mantos dan Megamas, tidak cukup bila hanya dipulihkan melainkan harus dilakukan perubahan desain terhadap kawasan tersebut.


Senada diutarakan Dr Ferol Warouw. Dia mengusulkan pihak pengelola reklamasi agar mengaddendum Amdal yang ada.


“Segera addendum Amdalnya sekaligus buat perencanaan penahan gelombang, segera setelah gelombang mereda. Ini ombak so ada sejak zaman penciptaan. Jadi bukan ombak yang harus menyesuaikan,” tukasnya singkat.


Diketahui banjir rob yang melanda Kawasan Megamas dan Mantos Minggu (17/01/21) malam, menyebabkan sejumlah bangunan ringsek. 


Tampak juga terlihat sampah dan bebatuan pantai berseliweran di Kawasan Megamas. Para nelayan juga terpaksa mengamankan perahu mereka ke badan jalan dalam kawasan tersebut.



(kid/yha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here