Asam Urat Sebabkan Wakil Ketua DPRD dan Perwira TNI di Boltim, Gagal Vaksin

0
270
Calon penerima vaksin di Boltim, menunggu antrian. (DAUD TIMPAL | KOMENTAR.ID)

Boltim, KOMENTAR.ID


Distribusi vaksin jenis Sinovac oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (29/01/21) di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, mendapat pengawalan ketat anggota Brigade Mobil (Brimob) Polda Sulut yang dipimpin AKBP JH Sitorus SIK.


Vaksin ini tiba sekitar pukul 12.15 Wita dan diserahkan langsung oleh Penanggungjawab Divisi Vaksin Covid-19, Michael Kalalo ke Kepala Dinas Kesehatan Boltim Eko Rujadi Marsidi SKM ME serta disaksikan Kapolres Boltim AKBP Irham Halid SIK bersama anggota TNI AD dan tenaga kesehatan.


Selanjutnya pada pukul 15:00 Wita, Dinas Kesehatan Boltim mulai melakukan  vaksin kepada 10 orang yang sudah duluan didaftar pada buku pendaftaran registrasi yang ada di meja pertama.


Dari sejumlah nama yang teregistrasi, Wakil Ketua II DPRD Boltim Muhamad Jabir menempati urutan pertama yang memegang kartu undangan vaksin. Kemudian disusul Wakil Ketua DPRD Medy Lensun kemudian Assisten I Pemkab Boltim Priyamos SH, selanjutnya Assisten III Iksan Pangalima, berikutnya Mayor TNI Supardi diikuti Anggota Polres Boltim kemudian sejumlah tenaga kesehatan.


Menariknya, usai melewati sejumlah meja registrasi dan skrining (anamnesis) pemeriksaan fisik, Wakil Ketua Muhamad Jabir belum diperbolehkan menerima vaksin Sinovac seperti yang diharapkan.


Alasannya karena penerima vaksin ada keluhan autoimun atau tingkat kekebalan tubuh berkurang disertai adanya asam urat yang cukup tinggi.


Hal tersebut diakui Jabir, tetapi pihaknya masih diberikan kesempatan pemberian vaksin berikutnya jika sistem kekebalan tubuh sudah membaik. Dengan begitu Jabir gagal menerima vaksin dari Cina ini.


Dan keterwakilan wakil rakyat yang pertama ikut memberikan diri di vaksin adalah Wakil Ketua DPRD Medy Lensun sebagai orang pertama yang divaksin di Boltim.


Selanjutnya kepada perwakilan Pemerintah Asisten I Priyamos SH, Assisten III  M Iksan Pangalima.


Selanjutnya Anggota TNI yang juga dikenal sebagai Perwira Penghubung Mayor TNI Supardi mengalami hal yang sama dengan Muhamad Jabir.


Hanya saja perwira menengah ini meski sudah di skrining dirinya gagal mendapatkan vaksin.


Menurut Supardi, pihaknya diberikan waktu empat hari ke depan dikarenakan adanya peningkatan hipertensi setelah diukur berada pada posisi 150/80 dan juga memiliki riwayat asam urat.



***


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here