311 Laporan Kebakaran Masuk Call Center 112 Manado, “Om Damkar”: Jangan Tunggu Viral

Oplus_131072

MANADO, KOMENTAR.ID

Ancaman kebakaran di Kota Manado semakin meningkat di tengah kondisi cuaca panas dan musim kemarau yang berkepanjangan.

Hingga 18 September 2026, sedikitnya 311 laporan kebakaran telah diterima melalui Call Center 112 Manado. Angka tersebut menunjukkan tingginya frekuensi kejadian kebakaran yang harus direspons petugas di lapangan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Manado, Noviyanti Mongkau, SE, mengatakan laporan kebakaran yang masuk melalui layanan darurat 112 menunjukkan tren peningkatan sejak Juni 2026.

“Laporan kebakaran yang diterima oleh Call Center 112 Manado menunjukkan peningkatan setiap bulannya mulai dari Juni hingga per hari ini, 18 September 2026, terdapat 311 laporan kebakaran,” ungkap Noviyanti.

Kondisi cuaca yang panas dan kering turut meningkatkan risiko kebakaran. Kejadian yang dilaporkan pun beragam, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga kebakaran sampah yang berpotensi meluas.

Di tengah kondisi tersebut, para petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado dituntut bergerak cepat setiap kali laporan diterima.

Salah satu sosok yang cukup dikenal masyarakat melalui media sosial adalah Hilario Mario Anlo. Ia lebih dikenal dengan sapaan “Om Damkar.”

Mario mulai mengabdikan diri sebagai tenaga honorer pada Maret 2021. Empat tahun kemudian, tepatnya 2025, ia resmi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Baginya, menjadi petugas pemadam kebakaran bukan sekadar pekerjaan.

“Saya bangga menjalani pekerjaan sebagai ASN, apalagi terkait dengan menyelamatkan nyawa orang,” katanya saat ditemui di Pos Pemadam Kebakaran Kecamatan Mapanget.

Dari Sapaan Istri Menjadi Identitas di Media Sosial

Nama “Om Damkar” ternyata lahir dari hal sederhana.

Sebelumnya, Mario menggunakan nama pribadinya, “Mario Anlo”, di media sosial. Namun, sang istri kerap memberikan semangat kepadanya dengan sapaan “Semangat Om Damkar.”

Sapaan tersebut kemudian menginspirasinya mengganti nama akun media sosial menjadi “Om Damkar” sejak 2025.

Melalui akun tersebut, Mario rutin membagikan aktivitas petugas pemadam kebakaran, termasuk saat menangani dan memadamkan kebakaran di berbagai lokasi.

Nama itu kemudian semakin dikenal masyarakat. Media sosial juga membuat dirinya merasa lebih dekat dengan warga.

Namun, popularitas di media sosial ternyata tidak selalu mempermudah penanganan kebakaran.

Jangan Tunggu Kebakaran Viral

Mario mengungkapkan, tidak jarang masyarakat justru lebih dahulu mengunggah foto atau video kebakaran ke media sosial dan menandai akun “Om Damkar”.

Masalahnya, unggahan media sosial belum otomatis menjadi laporan resmi yang dapat langsung ditindaklanjuti petugas.

Karena itu, ia meminta warga tidak menjadikan media sosial sebagai jalur pertama saat melihat kebakaran.

“Jangan dulu diunggah di media sosial, langsung hubungi kami di Layanan Call Center 112, bebas pulsa,” tegasnya.

Menurut Mario, laporan melalui Call Center 112 akan diterima operator selama 24 jam. Selanjutnya, informasi diteruskan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan atau perangkat daerah terkait sesuai kondisi darurat yang dilaporkan.

Bagi petugas, kecepatan dan ketepatan informasi jauh lebih penting dibandingkan sebuah kejadian terlebih dahulu menjadi viral.

Sebab, dalam kondisi kebakaran, keterlambatan beberapa menit saja dapat memengaruhi situasi yang akan dihadapi petugas ketika tiba di lokasi.

Sirene Berbunyi, Nyawa Jadi Taruhan

Begitu laporan diterima, anggota pemadam langsung mengambil perlengkapan dan bergerak menuju lokasi.

Titik kejadian biasanya diketahui melalui peta yang dibagikan dalam grup koordinasi WhatsApp. Armada juga telah dipersiapkan dengan air sehingga dapat langsung bergerak ketika laporan masuk.

“Yang ada di pikiran kami, ada orang yang terjebak dan perlu diselamatkan. Kami harus cepat-cepat ke lokasi,” ujar Mario.

Perjalanan menuju lokasi kebakaran bukan tanpa risiko.

Kemacetan menjadi salah satu kendala. Akses jalan yang sempit, ditambah keberadaan kabel listrik di sekitar lokasi, juga menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.

Bagi warga, suara sirene mungkin hanya menjadi tanda bahwa armada pemadam sedang melintas.

Namun bagi petugas, perjalanan menuju lokasi sudah menjadi bagian dari risiko pekerjaan.

“Pekerjaan kami sudah mempertaruhkan nyawa. Di perjalanan menuju lokasi kebakaran saja sudah mempertaruhkan nyawa, apalagi di lokasi,” katanya.

Sesampainya di lokasi, kondisi yang dihadapi petugas tidak selalu sama dengan laporan awal.

Kebakaran yang dilaporkan masih kecil bisa saja sudah membesar ketika armada tiba. Mario mencontohkan laporan kebakaran alang-alang yang awalnya masih berskala kecil, namun saat petugas tiba api telah menjalar dan mendekati rumah warga.

Dalam kondisi seperti itu, keberanian saja tidak cukup. Petugas dituntut memiliki kemampuan dan kesiapan menghadapi berbagai situasi di lapangan.

“Kami tidak jago menghadapi kebakaran, tetapi kami terlatih untuk menghadapi kebakaran,” pungkasnya.

Update Berita dan Artikel KOMENTAR.ID menarik lainnya di Google News.

Related posts